Radar Jember - Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 H, kali ini, tidak lagi sekadar ritual ibadah tahunan.
Tetapi diyakini sebagai mesin penggerak ekonomi yang masif bagi masyarakat arus bawah.
Bupati Jember Muhammad Fawait mengemukakan bagaimana perputaran uang selama musim kurban mampu menciptakan multiplier effect atau efek domino, yang luar biasa bagi roda ekonomi daerah.
"Perputaran modal selama Idul Adha ini luar biasa besar," katanya, saat ditemui di sela-sela meninjau MPP Kecamatan Jombang, Senin (25/5).
Sebagai kepala daerah berlatarbelakang Doktor Ilmu Ekonomi Unair ini, Gus Fawait melihat rantai bisnis Idul Adha memiliki daya dongkrak yang inklusif.
Menurut dia, aliran modal dari transaksi kurban terbukti tidak hanya mandek di tangan peternak besar, tetapi juga mengalir deras hingga ke sektor-sektor informal di pedesaan.
"Transaksi tidak hanya melibatkan peternak dan pembeli. Ada jasa transportasi lokal yang laris, penyedia pakan yang omzetnya naik, perajin pisau, hingga pedagang bumbu dapur dan arang di pasar tradisional yang ikut kecipratan berkah," katanya.
Peningkatan pendapatan di sektor-sektor informal ini diyakini menjadi suntikan segar untuk memperkuat daya beli masyarakat Jember, bahkan hingga pasca-hari raya.
Dampak multiplier effect Idul Adha di sektor akar rumput, sudah tentu dirasakan oleh peternak lokal hingga pedagang hewan kurban.
Gus Fawait meyakinkan, untuk menjaga agar momentum ekonomi ini berjalan tanpa hambatan, Pemkab Jember telah bergerak mengamankan rantai pasok dari hulu ke hilir.
Jaminan kesehatan hewan kurban menjadi prioritas mutlak demi menjaga kepercayaan pasar dan keselamatan konsumen.
Pemkab Jember telah menerjunkan tim dokter hewan untuk menyisir pasar ternak dan memperketat pos pemeriksaan di perbatasan wilayah.
Strategi tiga pilar diterapkan secara ketat: sertifikasi kelayakan klinis hewan, pengawasan ketat lalu lintas ternak antar-daerah, hingga sosialisasi penyembelihan yang higienis. (mau/nur)