Radar Jember - Di tengah bayang-bayang kecemasan publik akibat fluktuasi nilai tukar mata uang saat ini, ingatan publik mendadak terlempar pada satu nama legendaris: Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie. Presiden ke-3 Republik Indonesia tersebut diakui sejarah memiliki tangan dingin yang berhasil menyelamatkan Indonesia dari lubang jarum krisis moneter kelam pada tahun 1998 silam.
Saat memimpin pasca-mundurnya Presiden Soeharto pada Mei 1998, Habibie mewarisi kondisi ekonomi yang nyaris hancur total. Dolar Amerika Serikat (AS) meroket liar melampaui Rp17.000, inflasi membubung tinggi hingga menyentuh angka 78 persen, perbankan nasional tumbang, dan kepercayaan pasar terhadap pemerintah berada di titik nol.
Namun, lewat pendekatan ilmiah yang tak biasa, sang pakar dirgantara ini berhasil membuktikan bahwa krisis ekonomi makro bisa dijinakkan. Hanya dalam waktu singkat, sekitar 17 bulan saja, Habibie sukses membawa rupiah menguat drastis dan stabil di kisaran Rp6.500 per dolar AS, serta memangkas inflasi dari 78 persen menjadi hanya sekitar 2 persen.
Menariknya, BJ Habibie bukanlah seorang pakar ekonomi, melainkan seorang insinyur genius pembuat pesawat terbang. Namun, keterbatasan latar belakang tersebut justru menjadi keunggulan karena ia menggunakan pendekatan eksak dan ilmiah dalam mengurai krisis.
Habibie mengibaratkan kondisi rupiah yang anjlok saat itu seperti sebuah pesawat yang mengalami stall—kondisi kehilangan daya angkat yang bisa membuat pesawat jatuh menghantam bumi jika salah penanganan. Logika berpikir Habibie sangat taktis: langkah pertama bukan memaksa pesawat langsung terbang tinggi lagi, melainkan menstabilkan posisinya terlebih dahulu agar tidak jatuh lebih dalam.
Baca Juga: Prabowo Klaim Program MBG Telah Serap 1 Juta Tenaga Kerja dan Jangkau 60 Juta Rakyat
Bukan sekadar retorika, logika pesawat tersebut diterjemahkan Habibie ke dalam kombinasi empat kebijakan ekonomi yang sangat berani, konkret, dan struktural:
Independensi Bank Indonesia (BI): Habibie memotong kompas intervensi politik dengan mengeluarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999. UU ini memisahkan Bank Indonesia dari kendali pemerintah agar bank sentral dapat fokus menjaga stabilitas moneter secara independen dan kredibel tanpa tekanan penguasa.
Restrukturisasi Perbankan Agresif: Sektor perbankan yang rapuh dibongkar total. Pemerintah melakukan aksi korporasi besar dengan menggabungkan (merger) empat bank pemerintah yang sedang sekarat dan bermasalah menjadi satu entitas baru yang solid, yaitu Bank Mandiri, demi memperkuat struktur keuangan nasional.
Kebijakan Suku Bunga Tinggi: Guna menyerap likuiditas yang beredar secara liar di masyarakat dan meredam spekulasi dolar, diterbitkanlah Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan suku bunga yang sangat tinggi. Langkah ekstrem ini terbukti ampuh menekan volatilitas rupiah.
Menjaga Daya Beli dan Stabilitas Sosial: Di tengah hantaman krisis, perut rakyat tidak dilupakan. Habibie mengontrol ketat harga barang pokok, mengamankan subsidi BBM, dan menjaga tarif listrik tetap terjangkau untuk menekan laju inflasi sekaligus mencegah gejolak sosial di masyarakat.
Baca Juga: Seskab Teddy Pamer Aset Hutan Rp370 Triliun Kembali ke Negara, Mafia Hutan Lolos?
Tidak sedikit pakar ekonomi tanah air yang menilai kisah sukses BJ Habibie memberikan pelajaran mahal bagi pengambil kebijakan era sekarang. Penguatan nilai tukar mata uang tidak bisa hanya mengandalkan intervensi pasar sepihak dari Bank Indonesia.
Keberhasilan Habibie membuktikan bahwa pemulihan ekonomi membutuhkan komunikasi publik yang transparan serta harmonisasi kebijakan yang searah. Pengelolaan utang negara yang pruden, kepastian hukum, stabilitas politik, serta fokus belanja pada sektor produktif adalah kunci utama untuk merebut kembali kepercayaan investor asing maupun domestik.
Krisis 1998 adalah bukti nyata bahwa di tangan pemimpin yang mengutamakan data, transparansi, dan kebijakan berbasis sains, mata uang sedalam apa pun bisa diselamatkan.
Editor : Maulana RJ