Radar Jember - Persoalan kemiskinan ekstrem di Jember terus menjadi atensi pemerintah daerah.
Tingginya angka kemiskinan Jember dalam sepuluh tahun terakhir yang tidak pernah menyentuh di bawah 200 ribu jiwa, membuat penanganan ini mengharuskan keterlibatan banyak pihak. Termasuk guru.
Bupati Jember Muhammad Fawait menyatakan bahwa sektor pendidikan adalah kunci utama untuk memutus rantai kemiskinan ekstrem yang masih membayangi Jember.
Ia mengibaratkan kebijakan pemerintah seperti obat; ada yang manis, namun ada pula yang pahit demi kesehatan daerah.
"Jember hari ini menghadapi krisis kemiskinan. Saya minta tolong, mari semua ASN, termasuk guru, kita turun tangan melakukan verifikasi dan validasi (verval) data kemiskinan. Ini bencana, dan kalau sudah bencana, semua ahli—baik pendidikan, kedokteran, hingga pertanian—harus bersatu," katanya, di hadapan ratusan kepala sekolah, saat acara Talkshow memperingati Hardiknas 2 Mei, di Pendapa Wahyawibawagraha, Sabtu (2/5).
Gus Fawait, sapaan dia, mengaku selama ini Pemkab Jember telah memberikan kebijakan manis berupa perlindungan kesejahteraan bagi ASN, termasuk guru.
Mulai dari tidak adanya pemotongan TPP/Tukin, mengangkat ribuan PPPK dan PPPK Paruh Waktu, hingga meliburkan guru saat siswa libur.
Namun, ia meminta imbal balik berupa dedikasi guru untuk ikut memantau kondisi sosial siswanya di lapangan.
"Kunci pertama mengatasi kemiskinan adalah melalui pendidikan. Pendidikan bisa berhasil kalau gurunya mendukung penuh. Saya titip pendidikan Jember, saya percaya, hanya melalui jalur inilah insya Allah kemiskinan ekstrem kita bisa ditangani," pungkas alumnus Doktor Ilmu Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, itu. (mau/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh