PATRANG, Radar Jember - Perdebatan mengenai perbandingan capaian pembangunan antara Kabupaten Jember dan Banyuwangi kini memasuki babak baru.
Bukan sekadar adu angka, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Jember, Achmad Imam Fauzi, memberikan analisis tajam mengenai dinamika The Old Power versus The New Power yang kini mewarnai konstelasi kebijakan kedua daerah tersebut.
Menurut Fauzi, membandingkan Jember dan Banyuwangi secara mentah-mentah adalah hal yang tidak apple to apple.
Baca Juga: Biaya CPMI Cuma Rp450 Ribu! Klinik Khusus Pekerja Migran di Jember Diklaim Termurah se-Jatim
Ia menganalogikan Banyuwangi sebagai old power -sebuah kekuatan yang telah dibangun selama 17 tahun dengan dukungan sistem yang terkonsolidasi dari pusat.
"Ada kontestasi rezim di sana. Banyuwangi di masa lalu mendapatkan support system rezim yang kuat selama 17 tahun. Sementara Jember, di bawah kepemimpinan Bupati saat ini, baru berjalan dua tahun," katanya, saat diskusi terbuka bersama Bupati Gus Fawait disiarkan secara live streaming, (26/4).
Meski usia kepemimpinan di Jember masih seumur jagung, Fauzi menyoroti adanya lonjakan signifikan pada Pendapatan Asli Daerah (PAD). Baginya, ini adalah bukti nyata adanya support system policy yang bekerja efektif di Jember.
Baca Juga: 207 Dapur MBG di Jember Sudah Ngebul Layani Penerima, Kepala BGN: Saya Harap Jadi 400 Dapur
Di sisi lain, ia menilai sistem yang telah berjalan belasan tahun di daerah tetangga kini mulai mengalami apa yang ia sebut sebagai stagflasi, yakni kondisi di mana inovasi melambat karena birokrasi dan pasukan yang sudah terlalu mapan, namun minim terobosan baru.
"Loncatannya (PAD Jember) kelihatan. Tandanya apa? Ada support system policy yang tajam di sini," imbuh dia.
Sebagai informasi, dihimpun dari data Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD), perbandingan perolehan PAD untuk kabupaten se Se-Sekarkijang tahun 2025, menempatkan Jember sebagai peringkat pertama tertinggi dengan perolehan mencapai Rp1,072 Triliun. Kemudian disusul Banyuwangi (Rp740,31 Miliar); Lumajang (Rp423,55 Miliar); Situbondo (Rp316,44 Miliar); dan Bondowoso (Rp300,22 Miliar).
Analisis Fauzi ini seolah menegaskan bahwa konstelasi pembangunan daerah di wilayah Tapal Kuda bukan lagi sekadar perlombaan statistik, tetapi menjadi pertarungan efektivitas kebijakan di lapangan.
Tak hanya soal PAD, tantangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya isu anak tidak sekolah (ATS), juga ia kuliti.
Fauzi mengungkapkan bahwa Bupati Jember Muhammad Fawait, tengah menyiapkan strategi presisi untuk memangkas angka tersebut.
Baca Juga: Efisiensi Ratusan Miliar! Strategi Gus Fawait Amankan Pendapatan Warga Lewat Duet KDMP dan MBG!
Alih-alih menggunakan cara konvensional yang sporadis, ia menilai ada pendekatan policy targeting.
"Gus Bupati akan mencari data yang 12 ribu itu, by name by address. Baru kemudian kita intervensi dengan pola-pola pendidikan yang 'grobyokan', masif seperti era masa lalu, untuk memastikan mereka kembali mendapatkan hak pendidikannya," imbuh mantan Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Jember itu.
Editor : Maulana RJ