SURABAYA, Radar Jember - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengaku tidak lagi menggunakan paradigma lama dalam penanganan kemiskinan yang selama ini hanya bertumpu pada bantuan karitatif.
Dalam rapat paripurna penyampaian jawaban atas LKPJ Akhir Tahun Anggaran 2025 di DPRD Jatim, Selasa (21/4/2026), Khofifah menegaskan bahwa Jawa Timur kini menerapkan pendekatan afirmatif yang lebih cerdas: berbasis karakteristik wilayah.
Khofifah menyadari bahwa setiap sudut Jawa Timur memiliki persoalan yang unik. Disparitas antara wilayah Madura, Tapal Kuda, Mataraman, hingga Pantura membutuhkan obat yang berbeda.
Baca Juga: Target Zero Kemiskinan! Gus Fawait Siapkan Strategi Khusus Berdayakan Warga Pelosok Hutan Jember!
Pendekatan pukul rata dianggap sudah tidak relevan lagi untuk mengikis angka kemiskinan kronis (hard core poverty).
"Penanggulangan kemiskinan tidak bisa lagi hanya mengandalkan bantuan sosial. Kami kini berfokus pada kemandirian ekonomi," kata Khofifah di hadapan pimpinan dan anggota DPRD Jatim.
Pemprov Jatim membedah strategi penanganan berdasarkan lokasi. Pertama di perdesaan, dengan fokus dialihkan pada hilirisasi produk lokal dan pemberdayaan BUMDes agar potensi desa mampu menjadi mesin ekonomi mandiri. Kemudian kedua di perkotaan, melalui itervensi difokuskan pada penguatan ekonomi digital dan penyediaan akses kerja melalui job fair yang masif. Sebagai stimulus nyata, Pemprov Jatim telah menyalurkan bantuan modal usaha senilai Rp1,5 juta per penerima manfaat untuk kemiskinan ekstrem.
Langkah ini didukung penuh oleh program KIP Jawara yang dirancang untuk mencetak kemandirian, bukan sekadar ketergantungan pada bantuan pemerintah.
Baca Juga: Bukan Cuma Jadi Penonton! Suara Kartini Perlu Menggema di Gedung Parlemen
Menjawab kritik fraksi mengenai angka kemiskinan yang dianggap stagnan, Khofifah menegaskan bahwa pihaknya kini menggunakan basis data by name by address yang lebih akurat dan spasial.
Sinergi dengan pemerintah kabupaten/kota terus diperketat agar setiap rupiah dari anggaran daerah benar-benar tepat sasaran dan memberikan dampak struktural yang berkelanjutan.
"Kami optimis, dengan pendekatan berbasis karakter wilayah ini, kemiskinan kronis dapat ditekan secara permanen, bukan sekadar angka yang turun sesaat," katanya.
Editor : Maulana RJ