Radar Jember - Peningkatan jumlah sampah di Jember menjadi persoalan yang kian mendesak untuk segera ditangani.
Pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang terus meningkat berbanding lurus dengan volume sampah harian.
Kondisi ini diperparah dengan rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah secara benar.
Anggota Komisi A DPRD Jember Tabroni menilai, perilaku masyarakat masih menjadi persoalan utama.
Ia menyebut, masih banyak warga yang membuang sampah sembarangan tanpa memilah antara organik dan anorganik.
Kondisi ini membuat beban pengelolaan sampah semakin berat di tingkat hilir. “Kesadaran masyarakat kita masih kurang, masih banyak yang membuang sampah sembarangan tanpa pemilahan,” ujarnya.
Di sisi lain, keterbatasan infrastruktur turut memperparah kondisi tersebut.
Baca Juga: Alasan Nahdliyin Jember Ingin Gus Kikin Nahkodai PBNU Gantikan Yahya Cholil Staquf
Jumlah Tempat Penampungan Sementara (TPS) dinilai masih sangat terbatas, sementara armada pengangkut sampah juga belum memadai.
Dengan luas wilayah Jember, jumlah truk yang ada dinilai belum mampu mengangkut seluruh sampah dari TPS ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Akibatnya, tidak semua sampah dapat tertangani dengan optimal.
Penumpukan di TPA pun semakin mengkhawatirkan. Tinggi timbunan sampah disebut telah mencapai puluhan meter dan masih menggunakan sistem open dumping.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan serta dampak kesehatan bagi masyarakat sekitar.
“Kalau terus dibiarkan, ini bisa menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan kesehatan warga,” kata Tabroni.
Untuk itu, ia mendorong adanya pengelolaan sampah yang lebih terpadu dan modern.
Salah satunya dengan menggandeng investor agar sampah dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai tanpa membebani APBD.
“Harus ada pengelolaan terpadu, tidak hanya dibuang. Kita perlu solusi jangka panjang agar sampah bisa diolah dan tidak terus menumpuk,” tegasnya. (kin/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh