Radar Jember - Pemerintah daerah mulai mengambil langkah radikal dalam menekan angka kemiskinan ekstrem.
Seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Jember kini diwajibkan menjadi verifikator data melalui gerakan pengecekan lapangan atau ground check secara masif.
Strategi keroyokan menangani kemiskinan ini mengemuka saat sosialisasi Penguatan Peran ASN di Pendopo Wahyawibawagraha, Senin (13/4).
Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Jember, yang menjadi pengampu utama langkah ini, meyakini bahwa keterlibatan ASN cukup vital dalam mendukung upaya pemerintah daerah menekan angka kemiskinan.
"Kami mengajak seluruh ASN untuk terjun langsung menjadi bagian dari verifikasi data (kemiskinan)," kata Plt. Kepala BKPSDM Jember, Deni Irawan, dalam keterangan resminya, (13/4).
Ia menyatakan, pelibatan seluruh ASN adalah bentuk urgensi untuk membersihkan data kemiskinan, khususnya bagi warga yang masuk dalam kategori Desil 1.
Ia meyakinkan, verifikasi ini bukan tugas tambahan biasa, tapi bagian dari sistem kerja untuk memastikan database kemiskinan pemerintah daerah lebih akurat, mutakhir, dan bisa dipertanggungjawabkan.
"Kita ingin memastikan data kemiskinan di Jember melalui ground check bisa lebih akurat," kata Deni.
Di lingkungan Pemkab Jember, sedikitnya ada 22 ribu ASN, yang terdiri dari PPPK paruh waktu hingga pejabat tinggi.
Mereka dilibatkan untuk memverifikasi sekitar 97 ribu warga miskin kategori Desil 1 berdasarkan data Dinas Sosial. Diperkirakan, setiap ASN mendapat tugas memverifikasi tiga hingga lima warga.
Dalam banyak kesempatan, Bupati Jember Muhammad Fawait, sempat beberapa kali mengutarakan rencana pelibatan ASN ini.
Ia menilai, penanganan kemiskinan selama ini yang dirasa kurang efektif, salah satunya karena data yang tidak presisi.
Dengan menjadikan ribuan ASN sebagai verifikator di lapangan, ia menargetkan terwujudnya Satu Data Kemiskinan yang terpadu.
"Jika datanya valid, kebijakan yang kami ambil akan jauh lebih efektif dan tepat sasaran ke akar masalah. Ini adalah ikhtiar serius agar target pengentasan kemiskinan ekstrem tahun 2029 bukan sekadar angka, tapi nyata dirasakan manfaatnya oleh warga rentan," kata Gus Fawait, sapaan akrabnya. (mau/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh