Radar Jember - Pengentasan kemiskinan terus menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Bupati Jember Muhammad Fawait mengakui bahwa kemiskinan merupakan persoalan klasik yang telah menghantui Jember selama satu dekade terakhir.
“Miskin ekstrem itu kategori yang sangat parah. Kalau bahasa kami di pesantren, untuk makan hari ini mereka harus cari hari ini juga. Saat ini, ada sekitar 90-an ribu Kepala Keluarga (KK) yang masuk kategori Desil 1 atau miskin ekstrem,” katanya, saat berbicara di acara diskusi terbuka, di Gedung Soedjarwo, Universitas Jember (13/4).
Gus Fawait, sapaan akrab dia, menyebut bahwa kantung kemiskinan Jember juga tersebar di daerah pinggiran, mulai dari pesisir pantai hingga warga di pedalaman hutan dan perkebunan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Wacana! Gus Fawait Bocorkan Rencana Sambungan Tol Prosiwangi Lewati Jember
Meski trennya menunjukkan penurunan, namun penanganan ini memerlukan keterlibatan berbagai pihak. Termasuk instansi vertikal, seperti Perhutani dan PTPN. Salah satunya melalui pemanfaatan hutan sosial seluas 38.000 hektar.
“Jika satu KK diberikan hak pengelolaan satu hektar secara tepat sasaran, maka ada sekitar 38-40 ribu KK yang bisa langsung terentaskan dari kemiskinan. Syaratnya, kementerian terkait harus berkoordinasi dengan Pemkab berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) agar tidak salah sasaran,” urai dia.
Berdasarkan catatan BPS Jember, kota berpenduduk 2,6 juta jiwa ini tercatat sebagai daerah dengan tren penurunan kemiskinan tercepat di wilayah Tapal Kuda, bahkan peringkat kedua tercepat di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2025. Namun, Gus Fawait enggan berpuas diri.
Ia menilai statistik itu harus diikuti dengan akses ekonomi yang layak bagi masyarakat pinggiran. Ia menegaskan komitmen pemda untuk menyelaraskan program daerah dengan target nasional menuju zero kemiskinan ekstrem pada tahun 2029.
“Kita sedang berikhtiar menuju ke sana. Potensinya ada, tinggal bagaimana koordinasi pusat dan daerah diperkuat agar kekayaan alam Jember benar-benar dirasakan oleh masyarakat paling bawah,” pungkasnya. (mau/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh