Radar Jember - Intervensi pemerintah daerah dalam mengikis angka kemiskinan terus menjadi garapan utama. Langkah nyata ini mendapat atensi langsung Bupati Jember Muhammad Fawait.
Dalam rangkaian Bunga Desaku, ia meninjau langsung hasil rehabilitasi Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di kediaman Sumiati, 38, warga di Dusun Karang Sirih, Desa Suco, Mumbulsari (7/4).
Ia ingin memastikan anggaran pemerintah benar-benar mendarat di atap rakyat yang membutuhkan.
Dulu, rumah Sumiati adalah potret nyata kemiskinan. Mayoritas bangunan dari kayu dan bambu yang lapuk dimakan usia.
Tanpa lantai keramik dan fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus), keluarga ini harus bertarung dengan kebocoran setiap kali hujan deras mengguyur.
Namun, pemandangan itu kini sirna. Melalui program RTLH, rumah itu telah bersalin rupa menjadi bangunan yang jauh lebih kokoh, bersih, dan sehat.
"Alhamdulillah rumahnya sudah bagus, sudah layak. Ini berkat sinergi pemerintah yang bagus," kata Gus Fawait, saat menemui keluarga Sumiati.
Tak hanya urusan fisik, pemerintah daerah menyalurkan bantuan perabotan seperti kasur hingga sembako untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Rumah Sumiati menjadi salah satu sekian warga yang kecipratan program serupa.
Dari informasi yang dihimpun, total rumah yang direhabilitasi melalui program ini tersebar melalui beberapa sumber pendanaan.
Dari APBD 201 unit, dari APBD - APBN melalui Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) 145 unit, dan dari CSR salah satu Himbara 15 unit.
Gus Fawait mengapresiasi seluruh pihak yang telah terlibat dalam kerja kemanusiaan ini.
"Kami sangat mengapresiasi pemerintah desa setempat dan jajaran dari Dinsos untuk RTLH ini. Do'akan kami ya bapak ibu, semoga dapat terus membawa Jember lebih baik lagi," tambah dia.
Rona bahagia terpancar jelas dari wajah Sumiati. Baginya, bantuan ini merupakan martabat dan kenyamanan yang selama ini sulit diraih.
"Sekarang tidak lagi kesulitan kalau hujan deras. Tidak perlu khawatir lantai becek karena atap bocor. Apalagi sekarang sudah ada fasilitas MCK sendiri," ungkapnya penuh syukur. (mau/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh