Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kreatif Cegah Stunting, Kader Posyandu Sukorambi Bersaing Olah PMT Bergizi dari Pangan Lokal

Alvioniza • Senin, 9 Februari 2026 | 08:00 WIB
MENANG: Asiya dan Estin menang dalam lomba membuat olahan makanan bergizi untuk PMT balita, di Posyandu Sukorambi.
MENANG: Asiya dan Estin menang dalam lomba membuat olahan makanan bergizi untuk PMT balita, di Posyandu Sukorambi.

Radar Jember - Upaya mengatasi stunting tidak selalu harus datang dari pabrik atau dapur besar industri pangan. Di desa ini, mereka bersaing membuat makanan bergizi untuk balita.

Langkah kecil berbasis pangan lokal justru menjadi senjata utama untuk menjaga tumbuh kembang balita.

Nah, di Desa/Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, para kader Posyandu Sukorambi bersaing membuat makanan bergizi, sebagai pemberian makanan tambahan (PMT) untuk balita.

Kader Posyandu ini dibekali pengetahuan dan ilmu untuk membantu menurunkan angka stunting.

Seperti mendapat pelatihan pengolahan makanan bergizi dan teknik pijat bayi untuk merangsang pertumbuhan si kecil.

Pengolahan makanan bergizi ini kerja sama dengan Universitas dr. Soebandi (UDS) Jember.

Kader posyandu pun belajar mengolah yogurt berbahan dasar susu sapi segar, yang dinilai lebih ramah rasa bagi balita dibandingkan susu kambing.

Setelah pelatihan, para kader langsung turun ke lapangan, mempraktikkan ilmunya di seluruh Posyandu yang ada di Desa Sukorambi.

Kader Posyandu Sukorambi Estin Vergi Tri Cahyani mengatakan produk yoghurt hasil olahan kader akan disalurkan sebagai PMT bagi balita yang mengalami stunting maupun kekurangan berat badan.

Selain yoghurt, PMT di Desa Sukorambi juga memanfaatkan bahan pangan lokal lain. Seperti abon lele, puding kelor, dan puding sayur.

Ikan lele yang digunakan berasal dari program budidaya ikan dalam ember (budikdamber) yang disuplai dari tingkat kecamatan.

“Kami bekerja sama dengan ahli gizi untuk menentukan menu pemulihan. Prinsipnya, harus ada dua sumber protein setiap hari,” ujar kader Posyandu yang telah aktif sejak 2012 itu.
Para kader juga aktif memantau perbedaan antara stunting dan gizi buruk.

Anak-anak yang berada di garis kuning menuju merah dalam grafik pertumbuhan langsung mendapat perhatian khusus. “Jika stunting ditandai dengan pertumbuhan yang tidak sesuai usia, gizi buruk dinilai lebih parah dan memerlukan penanganan lebih intensif.” jelas Estin.

Upaya ini tidak berhenti pada aspek makanan. Pola asuh, pola tidur, hingga kebiasaan orang tua turut menjadi perhatian kader.

Jika penanganan di tingkat Posyandu dan Puskesmas tidak mencukupi, balita akan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

Kolaborasi juga terus diperluas. Mahasiswa yang menjalani kuliah kerja nyata (KKN) kerap dilibatkan dalam kegiatan pengolahan PMT, bahkan dijadikan ajang lomba kreativitas pangan sehat.

Dari susu segar hingga daun kelor, Desa Sukorambi membuktikan bahwa upaya menekan stunting bisa dimulai dari dapur sendiri dengan pengetahuan, kreativitas, dan kepedulian yang tumbuh bersama masyarakat. (Ona/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #PMT #Stunting #kader Posyandu #SUKORAMBI #AKI/AKB