Radar Jember - Salah satu tantangan yang cukup besar di jember yakni tentang AKI-AKB.
Tahun 2026 ini, diantara fokus program Pemkab Jember yakni menekan angka AKI AKB.
Kabupaten Jember tengah menghadapi tantangan besar yang saling berkelindan: tingginya angka kemiskinan ekstrem yang berbanding lurus dengan krisis kesehatan masyarakat.
Data menunjukkan bahwa selama satu dekade terakhir, Jember terjebak dalam posisi papan atas angka kemiskinan absolut, stunting, Angka Kematian Ibu (AKI), dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Jawa Timur.
Bupati Jember Muhammad Fawait, tak menampik fakta bahwa kemiskinan maupun stunting, AKI AKB Jember, menempati jejeran nomor wahid se-Jawa Timur.
Dikemukakan fenomena ini bukanlah masalah kesehatan semata, namun dampak sistemik dari rapuhnya pondasi ekonomi warga.
"Mayoritas anak-anak yang stunting, orang tuanya secara ekonomi kurang baik-baik saja. Kemiskinan adalah akar masalah yang membuat dampak ini berkepanjangan jika tidak ditangani secara luar biasa," katanya, saat memberikan keterangan terbuka bertajuk Pro Guse, di Pendapa Wahyawibawagraha (31/6).
Menyadari bahwa penanganan biasa melalui satu Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tidak lagi efektif, Pemkab Jember meluncurkan strategi integrasi melalui pembentukan Satgas Pengentasan Kemiskinan dan Suksesi Makan Siang Bergizi (MBG).
Struktur satgas ini mencerminkan prioritas kesehatan: Kepala Dinas Sosial bertindak sebagai koordinator, sementara Kepala Dinas Kesehatan menjabat sebagai Ketua Harian.
Sinergi ini diyakini untuk memastikan bahwa intervensi ekonomi langsung berdampak pada perbaikan gizi dan keselamatan ibu serta anak.
"Kenapa pak kepala Dinas Kesehatan kami jadikan ketua harian? ini sekaligus untuk digabung untuk pengentasan stunting, AKI, dan AKB," kata Gus Fawait.
Lebih lanjut, Gus Fawait memproyeksikan Jember menjadi pusat dapur Makan Siang Bergizi (MBG) terbanyak di wilayahnya.
Dengan estimasi perputaran uang mencapai Rp4 triliun per tahun -setara dengan total APBD Jember- program ini diharapkan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru.
Gus Fawait menekankan bahwa seluruh bahan baku dapur MBG harus menggunakan produk lokal Jember untuk mendorong kesejahteraan petani dan pelaku UMKM, yang pada gilirannya akan menurunkan angka stunting secara alami melalui kemandirian pangan keluarga.
"Maka sudah tentu program ini sangat berarti bagi Jember," tegasnya.
Di sisi medis, Pemkab Jember telah menerjunkan 1.200 tenaga kesehatan (nakes) hingga ke level desa.
Langkah ini diperkuat dengan rencana peluncuran program Home Care pada 14 Februari 2026, yang fokus pada pelayanan kesehatan lansia dan disabilitas langsung dari rumah ke rumah atau door to door.
Selain itu, akurasi data juga diyakini menjadi kunci. Melalui sistem Korwil yang dipimpin para Asisten dan Staf Ahli, pemerintah melakukan pemutakhiran dan pembersihan data kemiskinan (Desil 1 hingga Desil 5).
Langkah ini diambil untuk memastikan bantuan sosial dan intervensi kesehatan tepat sasaran, sekaligus menjawab keluhan masyarakat mengenai ketidakadilan distribusi bantuan selama ini.
"Karena kami juga banyak aduan juga soal data-data penerima bantuan ini, karena dianggap kurang akurat," akunya.
Dengan pengawasan ketat dan evaluasi setiap minggu, Gus Fawait memastikan Jember kini sedang berupaya keluar dari bayang-bayang krisis kesehatan dan kemiskinan melalui kolaborasi lintas sektor yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
"Kemiskinan dan soal kesehatan kita ini dampaknya berkepanjangan kalau tidak ditangani secara tepat dan cepat. Karena itu kita harus bersama-sama," pungkas Gus Fawait. (Mau/nur)
Pergerakan Stunting, AKI-AKB Jember 2025:*
• Status Gizi Anak, Total Terukur: 184.308
• Gizi Baik: 135.216 anak (73,4%)
• Underweight (BB Kurang): 20.665 anak (11,2%)
• Wasting (Gizi Buruk/Kurang): 14.451 anak (7,8%)
• Stunting (Pendek): 13.976 anak (7,6%)
Kasus Angka Kematian 1.395 Kasus:
• Kasus Abortus (< 20 minggu) : 649
• Kematian Balita (0-59 bulan) : 278
• Kematian Bayi (0-11 bulan) : 263
• Kasus IUFD (≥ 20 minggu) : 181
• Kematian Ibu (AKI) : 24
Keluarga Risiko Stunting (KRS) 798.213 Keluarga:
• Risiko PUS (4 Terlalu) : 156.717 keluarga
• Risiko Lingkungan : 109.053 keluarga
• Risiko Kesejahteraan : 47.714 keluarga
*Angka Abortus dan Kematian Balita menjadi penyumbang terbesar angka kematian. Sementara itu, Risiko PUS (Pasangan Usia Subur) menjadi faktor risiko keluarga yang paling dominan dalam permasalahan stunting di Jember.
SUMBER: Portal-data.jemberkab.go.id, update (27/1/2026).
Olah Grafis: Maulana/Radar Jember.