Radar Jember - Pemkab Jember mengumumkan calon penerima program Beasiswa Cinta Bergema tahun 2025.
Dari kuota 8.000, terdapat 820 kuota yang tidak terisi karena pendaftar tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
Pengumuman ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Jember Hadi Mulyono, yang mewakili Bupati Jember Muhammad Fawait, dalam rangkaian acara Pro Guse di Aula Kantor Dinas Pendidikan Jember pada Minggu malam (8/11).
Hadi menyebut proses seleksi dilakukan secara transparan melalui aplikasi digital dan melibatkan kelompok kerja (pokja) lintas organisasi perangkat daerah (OPD) dengan rekam jejak digital yang bisa ditelusuri.
"Ada Dispendukcapil untuk memverifikasi status KTP Jember, Dinas Sosial untuk yang jalur afirmasi ekonomi dan disesuaikan dengan DTSEN, hingga Pus Labdik Kemenristek, untuk memastikan penerima tidak menerima dana ganda dari sumber lain. Jadi banyak yang kita libatkan," katanya.
Sejak 10 hari awal dibuka, tercatat ada sekitar 17.351 mahasiswa mendaftar, dari 108 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, se-Indonesia.
Dan dari pagu 8.000 itu, sebanyak 820 kuota tidak terisi.
Menurut Hadi, hal ini disebabkan karena pendaftar tidak dapat memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.
Terlebih pengisian kuota tidak dapat dipaksakan.
"Hanya dua jalur dari total enam jalur yang dibuka yang dinyatakan memenuhi persyaratan, yaitu jalur Afirmasi Ekonomi dan jalur Khusus," katanya.
Setelah diumumkan secara resmi itu, Pokja memberlakukan masa uji publik dan sanggahan hingga pada Rabu (12/11).
Setelah itu, pada 13-14 November, penetapan resmi calon penerima beasiswa akan dilakukan pada minggu berikutnya melalui surat keputusan (SK) bupati.
"Masa uji publik ini ada beberapa hal yang bisa menggugurkan calon penerima, misal pelamar jalur afirmasi ekonomi, ternyata rumahnya megah, anak orang kaya, nah itu bisa masyarakat melaporkan dengan disertakan bukti-buktinya, nanti tim akan mengkaji dan memutuskannya," imbuh Hadi.
Program beasiswa ini menjadi salah satu prioritas Bupati Jember Muhammad Fawait.
Ia menilai pendidikan menjadi satu-satunya cara yang ampuh untuk mengubah masa depan seseorang.
"Tidak apa-apa meski cuma anak petani, anaknya orang biasa, yang penting bisa bersekolah hingga pendidikan tinggi, insyaallah diangkat derajatnya," jelasnya. (mau/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh