Radar Jember - Langkah tegas Bupati Jember Muhammad Fawait mencopot Erna Indriyastuti dari posisinya sebagai Plt Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya Jember, ramai diperbincangkan.
Erna dicopot karena membolos dalam kegiatan Bupati Ngantor di Desa/Kelurahan (Bunga Desaku).
Diketahui, Erna tidak hadir dalam rangkaian acara Bunga Desaku Jilid 5, di Kecamatan Sumberbaru pada 26 dan 27 September.
Saat itu, Bupati Fawait memboyong semua OPD, bertemu dengan para kepala desa, ketua RT, RW, dan kepala dusun.
Plt Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Jember Rachman Hidayat membenarkan pencopotan itu.
Menurutnya, perintah bupati datang langsung saat sarasehan berlangsung.
"Bupati menegaskan agar tidak ada pejabat yang menyepelekan giat Bunga Desaku, jadi malam itu juga beliau meminta pergantian, dan kami segera terbitkan SK," bebernya.
Dalam SK penggantian, jabatan Plt Kadis Cipta Karya beralih kepada Nurul Hafid Yasin, yang merangkap jabatan sebagai kepala definitif di Kabag Kesra Setdakab.
Sementara Erna tetap mengampu jabatan definitifnya sebagai Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUMBSDA) Jember.
Program Bunga Desaku dirancang sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat desa.
Mayoritas isu yang dikeluhkan terkait infrastruktur, yang jadi kewenangan Dinas Cipta Karya, Dinas PU Bina Marga, dan beberapa isu yang melekat ke OPD lainnya.
Ketidakhadiran pimpinan OPD dirasa mencederai semangat pelayanan merakyat yang diusung bupati.
"Pesan bupati jelas, semua program, terutama Bunga Desaku adalah ruang untuk bekerja, mendengar dan mencari solusi. Jadi ya harus hadir," tambah Rachman.
Sebelumnya, Bupati Gus Fawait, telah mengisyaratkan mutasi untuk kepala OPD yang mangkir ini.
Ia menghendaki jajaran di bawahnya harus memiliki semangat dan komitmen yang sejalan dengan visi bupati.
Jika tidak, akan dilakukan perombakan.
"Saya pikir bupati punya niat yang luar biasa, kalau anak buahnya (pimpinan OPD, Red.) tidak seirama, tentu akan ada perombakan," katanya.
Baginya, program Bunga Desaku bukan sekadar seremonial, tetapi manifestasi dari filosofi pemerintahan yang harus dekat dengan rakyat.
Dan ketidakhadiran OPD itu menjadi indikator minimnya komitmen tersebut.
"Kita jauh-jauh nginep di sini di Bunga Desaku, duduk bersama, makan bareng, itu filosofi Bunga Desaku, tidak ada batas antara pemerintahan dan masyarakat. Saya pikir ini harus sejalan dengan komitmen jajaran. Kami kerja-kerja, dan bekerja," tegas Gus Fawait. (mau/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh