Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Panggilan Hati, Kades Kemuningsari Jenggawah Jember yang Nyambi Jadi Relawan Kemanusiaan 

Radar Digital • Rabu, 15 November 2023 | 17:40 WIB

 

STRONG WOMEN: Dewi Kholifah menghadiri suatu acara di Gedung DPRD Jember.
STRONG WOMEN: Dewi Kholifah menghadiri suatu acara di Gedung DPRD Jember.

Mengemban tugas sebagai abdi negara memang menguras tenaga dan pikiran. Apalagi kalau juga sebagai relawan, kesiapan segala hal jelas dibutuhkan. Lantas, bagaimana sosok perempuan tangguh ini melalui itu semua?

SEPERTI ibu-ibu rumah tangga kebanyakan, sepintas tak ada yang istimewa dari cara berpenampilan Dewi. Jauh dari kesan glamor. Mengenakan kemeja merah bermotif kotak-kotak dengan kedua lengan baju yang disingsingkan. Sambil membawa tas selempang kecil di lengan kirinya. Perawakan tegap dengan gaya bicara yang lugas, mungkin cukup menggambarkan dia sebagai sosok pekerja keras.

Dialah Dewi Kholifah. Kebanyakan orang mungkin tak akan mengira bahwa dia adalah seorang kepala desa (kades) di Desa Kemuningsari Kidul, Kecamatan Jenggawah. Dia menjabat untuk periode 2019–2025. Meski style-nya sederhana, tapi di usianya yang telah memasuki kepala lima wanita tangguh itu tercatat aktif di berbagai kegiatan sosial dan kebencanaan, sebagai relawan.

Jelas hal itu bukan perkara mudah untuk dilalui. Perempuan yang tinggal di Dusun Tegal Kalong, Desa Kemuningsari Kidul, Kecamatan Jenggawah, itu dituntut pintar membagi waktu. Mana untuk urusan desa, mana untuk keluarga, sampai kapan waktunya untuk membantu sesama, demi kepentingan kemanusiaan.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Dewi mengaku sudah menjatuhkan hati di dunia kerelawanan itu cukup lama. Jauh sebelum dirinya diamanatkan sebagai kades, atau sejak 23 tahun yang lalu.

Mulanya Dewi menjadi relawan mandiri. Namun, seiring berjalannya waktu, Dewi kemudian aktif mengikuti komunitas atau organisasi kerelawanan di wilayah Jember selatan maupun di Kabupaten Jember. Seperti Komunitas Relawan Ben Seromben (bahasa Madura, maksudnya melakukan/membantu pekerjaan apa saja yang bisa dikerjakan), Komunitas Brandal Alas, dan beberapa komunitas atau organisasi kerelawanan lainnya. "Kayae semua komunitas atau organisasi relawan itu saya ikuti, dan terlibat di sana. Karena apa, ya, relawan ini kan soal panggilan hati saja," aku Dewi. 

Rentetan bencana besar yang sempat terjadi di Jember dalam satu dekade terakhir pernah diikutinya. Seperti banjir bandang Kecamatan Panti ataupun banjir bandang Klungkung, Sukorambi. "Saya waktu sudah jadi relawan dan bergabung bersama PLN dan Telkom," katanya.

Lambat laun, kesibukannya menjadi relawan rupanya tak menyusut, meski Dewi menjadi kades. "Bagi saya simpel saja, kalau masalah bencana sosial, bencana alam, saya usahakan hadir karena panggilan hati. Saya tidak harus ada di bendera mana. Tapi, insyaallah, semua bendera ketika saya di sana, ya, welcome. Karena tujuan semua relawan kan sama, membantu sesama," katanya.

Lebih jauh, ibu satu anak ini mengisahkan, ada satu kesibukannya sebagai relawan sekaligus kades yang hari ini tengah dilakukannya. Yakni mengawal warga desa yang berobat ke rumah sakit di Malang dan Surabaya. Karena suatu alasan yang tidak memungkinkan sang pasien dirawat di rumah sakit di Jember, karena sakit tumor kanker ovarium yang harus dirujuk ke rumah sakit tipe/kelas A. "Seminggu bisa sampe tiga kali wira-wiri ke luar kota. Jadi, kalau di rumah sakit kabupaten bersinergi dengan OPD, kalau ke Malang dan Surabaya itu, ya, menggunakan dana pribadi," aku Dewi.

Bagi dia, relawan adalah urusan kemanusiaan dan panggilan hati. Meski adakalanya ia harus berbagi waktu untuk keluarga dan urusan desa, Dewi mengaku selama ini bisa melalui itu semua. "Kalau membagi waktu sebenarnya tidak jadi masalah. Tanda tangan kan sekarang bisa elektronik. Jadi, saya meski ke luar kota, pelayanan saya sebagai kades tetap jalan," tutur ibu berusia 52 tahun itu.

Untuk urusan keluarga, bagi Dewi juga tak terlalu menjadi beban pikiran. Sebab, suami dan anaknya disebutnya telah mendukung penuh Dewi. Di rumah, kesibukannya malah tak sekadar menjadi ibu rumah tangga. Namun, ia juga seorang nenek dengan seorang cucu. "Saya sudah lima puluh dua, dengan putri satu dan cucu satu. Ya, alhamdulillah, masih aktif di kerelawanan," pungkas Dewi. (c2/nur)

Editor : Radar Digital
#Jember #Kabupaten Jember #relawan kemanusiaan #Kades