KEPATIHAN, Radar Jember - Pemkab Jember bakal menata ulang penjualan yang dilakukan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan pedagang kaki lima (PKL) di alun-alun Jember.
Mereka tetap diperkenankan berjualan di alun-alun. Namun, dengan teknik pemasaran yang berbeda. Tentunya dengan teknik yang bisa mendatangkan keuntungan lebih dari sebelumnya.
Rencananya, nanti para pelaku UMKM dan PKL itu tidak diam ditempat. Melainkan harus berkeliling menawarkan barang dagangannya. Tidak boleh hanya menunggu.
Strategi penjualan seperti itu sudah harus dilakukan oleh pelaku UMKM dan PKL. Sebab, saat ini penjual harus bisa menarik bahkan menjemput pelanggan agar membeli produk yang ditawarkan.
Bupati Jember Hendy Siswanto menjelaskan, Pemkab Jember akan menyiapkan gerobak-gerobak khusus. Tak hanya itu, nantinya pelaku UMKM dan PKL juga dapat seragam khusus untuk mereka berjualan.
Namun, mereka juga diberi tanggung jawab terhadap kebersihan. “Tidak boleh lagi ada tenda-tenda biru di alun-alun,” terangnya.
Pelaku UMKM dan PKL nantinya harus bergerak berkeliling alun-alun menawarkan dagangan kepada pengunjung. Mereka akan menggunakan sistem penjualan jemput bola. Tidak menunggu pelanggan datang dan beli.
Setelah melihat besarnya potensi UMKM dan PKL dalam menggerakkan perekonomian, Bupati Hendy berkeinginan untuk merekonstruksi UMKM dan PKL di alun-alun semakin besar.
Berdasarkan data yang dirilis Dinas Koperasi dan UMKM (Diskopum) Jember, selama tanggal 18 sampai 19 Juni pelaksanaan bazar, omzet 80 UMKM dan 298 PKL di alun-alun mencapai Rp 1,576 miliar dengan total laba bersih Rp 649,19 juta.
Melihat geliat ekonomi yang dihasilkan dari UMKM dan PKL, Pemkab Jember harus bisa memanajemen dan mengolaborasikan dengan kegiatan hiburan lainnya. “Kita harus jeli hiburan apa yang bisa ditampilkan beberapa event berkelas seperti nobar (kemarin, Red), harus dimunculkan,” imbuhnya.
Bupati Hendy percaya, jika kolaborasi kegiatan itu dirawat dan dikembangkan terus akan memperkuat ekonomi akar rumput. Fondasi ekonomi adalah kalangan grassroots. Menurutnya, membangun fondasi kekuatan suatu daerah sebelumnya harus memperkuat grassroots. Jika sudah kuat, daya beli bagus, tinggal memperbaiki. Semua kebijakan akan lebih mudah diterapkan. (qal/c2/bud)
Editor : Safitri