BACA JUGA : Ingin Berikan Stigma Baik Anak Punk di Mata Masyarakat
Dari ribuan ponpes tersebut, 650 di antaranya merupakan ponpes besar dengan total santri di atas 500 orang. Jumlah santri dan ponpes itulah yang mendasari Jember layak disebut sebagai kota santri. Saat ini keberadaan ponpes dan santri sangat berpengaruh terhadap perkembangan Jember. Sebab, dalam ponpes santri dididik dengan berbagai nilai-nilai positif dari segi keagamaan, sosial kemasyarakatan, serta ilmu modern. “Nantinya setelah kembali ke masyarakat akan membawa kebermanfaatan,” terang Bupati Jember Hendy Siswanto.
Di satu sisi, ponpes juga terlibat dalam menopang perputaran perekonomian. Tidak sedikit pesantren yang menjalankan usaha dengan badan usahanya. Lalu, juga menyerap tenaga kerja melalui santri atau alumninya. Bahkan juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan kegotongroyongan, sosial, maupun berkiprah di panggung-panggung politik pemerintahan.
Dalam hal itu, Pemkab Jember terus mendukung pergerakan yang ada di dalam ponpes. Mulai dari kegiatan keagamaan, perekonomian, bahkan pemberdayaan masyarakat yang tengah dilakukan. “Ponpes jadi unsur terpenting di Jember. Dengan begitu, Pemkab Jember akan beri prioritas kepada mereka,” imbuhnya.
Degan begitu besarnya dominasi dan keberadaan ponpes, sudah sewajarnya Pemkab Jember menaruh perhatian khusus. Salah satu dukungan yang saat ini telah diberikan dalam penyelenggaraan pola pendidikan di pesantren. Baik dalam hal kedudukan maupun kebutuhan pesantren. Termasuk dukungan anggaran dan perlindungan.
Hal itu memang sudah menjadi tugas pemerintah daerah yang harus menangkap itu sebagai bentuk perhatian atas UU Pesantren tersebut. Sehingga, tak heran jika Pemkab Jember menaruh perhatian khusus kepada pondok pesantren. (qal/c2/dwi)
Editor : Safitri