Program itu dilaksanakan di empat kecamatan meliputi Kecamatan Sumbersari, Silo, Rambipuji dan Kaliwates. Program ini juga merupakan salah satu upaya lanjutan dari program Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Jember.
Kegiatan ini bernama “Mutiara” akronim Meningkatkan Nutrisi dan Akses Kesehatan Bagi Ibu, Anak, dan Remaja. Sesuai namanya, kegiatan ini menyasar para ibu, anak-anak dan remaja. Ketiga elemen tersebut masuk dalam cakupan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB).
BACA JUGA: Dukung Pencegahan AKI-AKB, Empat Puskesmas di Jember Dapat Fasilitas USG
Penanggung Jawab Bidang Perlindungan Anak DP3AKB Kabupaten Jember J Nugroho menyebut, program ini merupakan kolaborasi yang luar biasa dan disambut dengan antusias. Ini, kata dia, adalah sinergi untuk membangun Jember menjadi lebih baik.
“Salah satu fokusnya untuk mencegah kekerasan, kenakalan, serta pernikahan pada anak. Termasuk AKI, AKB dan stunting yang nantinya menjadi celengan masa depan bagi Jember,” ungkapnya, sore ini (21/9).
Sementara itu, per Februari 2022 angka stunting di Jember masih menduduki peringkat tertinggi kedua di Jawa Timur. Pihak DP3AKB memaparkan, upaya penurunan angka stunting ini dilakukan dari hulu. Yakni dimulai dari ibu, remaja dan anak.
Nugroho menambahkan, pernikahan dini sampai saat ini masih menyumbang banyaknya angka stunting di Kabupaten Jember. “Dengan usia perkawinan yang bagus, para remaja diharapkan mengetahui tentang reproduksi dan pematangan kehamilan, sehingga dapat mencegah stunting,” imbuhnya.
Peserta kegiatan Mutiara ini terdiri dari kader posyandu, PKK, Karang Taruna dan berbagai organisasi masyarakat. Mereka senang karena mendapat edukasi lebih terkait cara mendidik anak dengan lebih baik dan benar.
“Saya suka sekali, karena di sini kami lebih tau cara mendidik anak-anak, memberi edukasi pada remaja supaya ada di jalan yang benar. Paling tidak kami ada gambaran dan upaya untuk menekan hal itu,” ucap Anisa, Sekretaris Kelurahan Desa Tegalgede, Kecamatan Sumbersari, peserta program.
Anisa berharap, Jember lebih akurat dalam melakukan pendataan terkait angka stunting, ibu yang rawan hamil dan juga pernikahan dini.
Nugroho kembali menambahkan, sampai saat ini, kendala yang dihadapi dalam pelaksaan program itu adalah belum tersentuhnya semua keluarga yang ada di Jember.
“Semua harus ikut berperan, serta sebagai pelopor. Terutama di keluarganya masing-masing. Sehingga dapat menggaet keluarga-keluarga lain agar peduli terhadap kesehatan termasuk penekanan stunting,” pungkas Nugroho.
Dirinya berharap, program dari hulu ini mampu membuat anak-anak dan remaja yang nantinya akan menjadi seorang ibu paham kesehatan reproduksi dan pola asuh terhadap anak, sehingga bisa melahirkan generasi yang berkualitas dan menurunkan angka stunting. Khususnya di Jember. (*)
Foto : Dwi Sugesti Mega untuk Radar Jember
Editor: Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal