Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tak Sebanding dengan Pencari Kerja

Safitri • Senin, 12 September 2022 | 20:02 WIB
Sumber: BPS Bondowoso
Sumber: BPS Bondowoso
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jember menyebut angka pengangguran di Jember tinggi. Pasalnya, kesempatan atau lapangan kerja yang ada saat ini tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja. Akibatnya, banyak pengangguran.

BACA JUGA : Usulan Nama Pj Gubernur DKI Jakarta Akan Dibahas DPRD

Kepala Disnaker Jember Bambang Rudianto menyebut bahwa data pencari kerja dari warga Jember sejak bulan Januari hingga Mei tahun 2022 diketahui sebanyak 1.143 orang. Sedangkan data yang didapatkan dari aplikasi milik Disnaker Jember secara online, pada aplikasi Elektronik Kartu Pencari Kerja (E-KAPEKA), jumlah pencari kerja lebih dari 2.000 orang.

“Ya jumlahnya memang tinggi. Karena memang Jember ini bukan kota industri yang bisa menyerap banyak tenaga kerja. Dan hal tersebut tidak sebanding dengan banyaknya lulusan baru tiap tahunnya,” tuturnya.

Rudi, sapaan Bambang Rudianto, menambahkan, dari Disnaker telah menjalankan berbagai upaya untuk mengatasi persoalan tingginya pencari kerja atau pengangguran tersebut. Antara lain dengan merambahnya Disnaker ke teknologi berbasis digital.

“Seperti halnya mulai tahun ini kami aktifkan website, media sosial Instagram, dan aplikasi E-KAPEKA tadi. Di Instagram ini kami akan share lowongan pekerjaan yang sudah terverifikasi kebenarannya. Jadi, sudah jelas lowongan itu benar dan bukan hoax atau penipuan. Kalau aplikasi untuk membuat efisien dan praktis, supaya tidak ada lagi ngantre panjang-panjang ke kami buat ngumpulkan formulir,” ungkapnya.

Selain itu, terdapat pelatihan kerja. Menurut Rudi, pelatihan kerja ini penting untuk mengembangkan kemampuan para pencari kerja. Dengan begitu, nantinya setelah pelatihan kerja selesai dilakukan dan terdapat lowongan, maka dapat menempati lowongan sesuai dengan kemampuan yang telah dimiliki dan dikembangkan di pelatihan kerja. Nantinya, kemampuan sewaktu mengikuti pelatihan kerja dapat digunakan untuk membuka usaha sendiri.

Namun, dalam pelatihan kerja dirinya juga merasakan tidak maksimal untuk dapat mengadakan banyaknya pelatihan kerja. Karena didasarkan pada keterbatasan anggaran, sehingga membuat pelatihan kerja hanya diikuti oleh tidak sampai seribu orang. Selain itu, hanya dilaksanakan per tahun tidak lebih dari tiga kali pelatihan. “Tentunya kami ingin melaksanakan banyak pelatihan kerja. Namun, terkendala pada keterbatasan anggaran. Kurang lebih tidak sampai seribu orang untuk pelatihan kerja dan frekuensi pelaksanaannya juga tidak lebih dari tiga atau empat kali,” imbuhnya.

Hal lain yang menurutnya dilakukan untuk menekan pengangguran di Jember dengan memberikan pengawasan kepada perusahaan yang akan mendirikan hotel dan beberapa usaha lainnya. Dengan selalu memberi pengawasan untuk merekrut tenaga lokal dan memberikan kesempatan kepada disabilitas. “Itu yang kami selalu lakukan. Kami juga membina hubungan industrial kepada perusahaan. Sebisa mungkin jangan melakukan PHK sesulit apa pun perusahaan. Upayakan di antara mereka dimusyawarahkan,” ungkapnya.

Menurutnya, cara-cara yang dilakukan tersebut sudah sangat efektif. Namun, dirinya melihat kembali lagi kepada peluang kerja atau lowongan kerja yang di Jember jumlahnya sangat terbatas. “Tapi kembali lagi, di Jember serapan tenaga kerjanya sedikit dibandingkan para pencari kerjanya. Dan hal tersebut tidak hanya di Jember, namun fenomena yang terjadi di kota-kota lainnya,” tuturnya. (mg2/c2/nur)

  Editor : Safitri
#Jember #Kerja