Universitas yang popular dengan akronim UIN KHAS Jember ini adalah salah satu ikon kebanggaan warga Jember. Kebanggaan ini akan lebih sejati, jika UIN KHAS Jember berhasil bertransformasi menjadi institusi pendidikan bermutu unggul yang mampu bersaing dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi lain di level nasional, regional dan internasional.
Setidaknya ada dua hal yang akan melempangkan jalan UIN KHAS Jember dalam meraih taraf unggul. Pertama, sejauh mana institusi ini memiliki keunggulan dalam hal visi, misi dan tata kelola layanan pendidikan. Kedua, sejauh mana insitusi ini konsisten (isitiqomah) dalam menciptakan iklim akademik yang progresif untuk mencetak sarjana, akademisi, ilmuwan dan cendekiawan yang kompeten, berkualitas dan berintegritas.
Terkait dengan keunggulan visi dan misi universitas, UIN KHAS Jember perlu merekonstruksi paradigma keilmuan yang akan diusungnya. Dengan paradigma keilmuan itu, UIN KHAS Jember diharapkan bisa menawarkan daya tarik yang unik dan istimewa di tengah kontestasinya dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi lain.
Paradigma Keilmuan PTKIN: Konteks Historis
Sebelum beralih menjadi UIN KHAS Jember, IAIN Jember mengusung visi keilmuan sebagai “Pusat Kajian dan Pengembangan Islam Nusantara.” Visi ini relevan dengan cakupan keilmuan (area of studies) di IAIN yang masih terbatas pada fakultas-fakultas berbasis studi keislaman (Islamic Studies), seperti Syariah, Ushuluddin, Tarbiyah, Adab dan Dakwah.
Namun, jika ditarik ke dalam konteks UIN KHAS Jember, visi tersebut perlu ditinjau dan direformulasi mengingat cakupan keilmuan di universitas yang lebih luas. Dengan status yang baru ini, UIN KHAS Jember akan memayungi fakultas-fakultas baru, seperti kedokteran, psikologi, sosial politik, sains-teknologi, ilmu budaya, kehutanan, kelautan, dan lain sebagainya, yang tidak memiliki korelasi dan afiliasi langsung dengan kajian keislaman.
Dalam wawancara dengan sebuah media massa, Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E., M.M., menegaskan bahwa institusi pendidikan yang dinakhodainya memang dituntut untuk merekonstruksi visi keilmuannya. Untuk itu, Prof. Babun mengungkapkan bahwa paradigma integrasi antara ilmu-ilmu keislaman di satu sisi dengan ilmu-ilmu sosial, humaniora dan sains-teknologi di sisi lain bisa dijadikan sebagai visi keilmuan UIN KHAS. Pada gilirannya, diharapkan pemikiran KH. Achmad Siddiq akan terefleksi secara nyata dalam visi keilmuan tersebut.
Sesungguhnya paradigma integrasi ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu sosial, humaniora dan sains-teknologi modern tidaklah baru. Secara historis, gagasan tentang paradigma integrasi tersebut pernah dikemukakan Muhammad Hatta (mantan Wakil Presiden RI pertama) dalam ceramahnya (yang dikenal dengan Memorandum Hatta) pada pembukaan tahun akademik di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pada 10 Maret 1948. UII juga merupakan salah satu cikal bakal dari apa yang dikenal sebagai PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri).
Dalam ceramahnya, Hatta berbicara tentang pentingnya kolaborasi antara ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu sosial, seperti sejarah, sosiologi, dan filsafat. Ini membuktikan bahwa ide tentang integrasi, interkoneksi, serta kesatuan ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu sosial, humaniora dan sains-teknologi, bukan gagasan baru. Gagasan tersebut memiliki jejak yang lama dalam sejarah perkembangan pendidikan tinggi Islam negeri di Indonesia.
Beberapa pendidikan tinggi Islam di bawah PTKIN mengajukan paradigma integrasi, interkoneksi dan kesatuan ilmu-ilmu sebagai visi keilmuan, dengan berbagai variasi dan nuansanya. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengusung “integrasi keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan”. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengajukan “Pemaduan dan Pengembangan Keislaman dan Keilmuan bagi Peradaban” (dengan simbol jaring laba-laba). UIN Sunan Ampel Surabaya menawarkan “keunggulan dalam kajian ilmu-ilmu keislaman interdisipliner dan transdisipliner yang berdaya saing internasional" (dengan simbol dua menara kembar, “twin tower”).
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memilih visi keilmuan “pendidikan tinggi integratif dalam memadukan sains dan Islam.” UIN Walisongo Semarang mengusung “kesatuan ilmu-ilmu”. Bagaimana dengan visi keilmuan UIN KHAS Jember?
Divine Spring of Knowledge dan Penguatan Landasan Aksiologis
Berbagai mazhab epistemologis dan ideologi besar dunia yang lahir dari rahim peradaban Barat, sejak abad ke-15, seperti renaissance (kebangkitan kembali), aufklarung (pencerahan), rasionalisme, empirisme, positivisme, sekularisme, liberalisme, kapitalisme, marxisme, komunisme, dan lain sebagainya, telah menahbiskan suatu episteme atau pandangan dunia (worldview) keilmuan sekularistik-dikotomistik, yang mempertentangkan iman, wahyu dan agama di satu sisi dengan akal, rasio dan emperia di sisi lain.
Paradigma keilmuan yang sekularistik-dikotomistik ini juga merasuk ke dalam peradaban ilmu di dunia Islam. Menyadari hal itu sebagai ancaman, maka pada 1970-an sejumlah ilmuwan dan intelektual Muslim menawarkan Islamisasi ilmu pengetahuan sebagai solusi untuk mengembalikan paradigma keilmuan Islam yang sejati yang memandang iman, wahyu, agama, akal (rasio), emperia (pengalaman) sebagai kesatuan integral.
Dalam dua dekade terakhir, terma “Islamisasi ilmu-ilmu” mulai digeser oleh terma “integrasi ilmu-ilmu”, karena di balik ide “Islamisasi ilmu-ilmu” tersirat suatu dikotomi antar ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu umum. Di dalam sejarah pemikiran Islam, para filosof Muslim klasik, seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd, Ibn Thufayl, dan lain sebagainya, tidak mempertentangkan antara wahyu (Al-Quran) dan akal, karena potensi iman dan akal yang dimiliki manusia, keduanya berasal dari satu sumber yang sama, yaitu dari Dzat Yang Maha Esa.
Dalam karyanya, Fashl al-maqal fima bayn al-hikmah wa al-syari'ah min al-ittishal, Ibn Rusyd menegaskan bahwa kebenaran wahyu tidak bertentangan dengan kebenaran rasio manusia. Jika di dalam wahyu terdapat hal-hal yang tidak dipahami oleh akal, sehingga tampak bertentangan dengan akal, maka akal bisa melakukan penafsiran secara alegoris karena wahyu memang memuat hal-hal misterius yang tidak bisa dijangkau oleh akal.
Dengan pijakan filosofis dan teologis yang tegas bahwa wahyu dan akal bersumber dari Dzat Yang Esa, maka hal ini memberikan suatu perspektif yang terang benderang bahwa hanya ada satu mata sumber ilmu, dan sumber ilmu bersifat ilahi. Dalam kaitan inilah maka simbol dari visi keilmuan UIN KHAS Jember yang akan mengusung ide tentang integrasi ilmu-ilmu, sejatinya bukan hanya bersifat “Wellspring of Knowledge”, tetapi ia adalah “Divine Spring of Knowledge.”
Ketika berbagai perguruan tinggi di lingkungan PTKIN mengarah pada suatu visi keilmuan yang sama, maka ini menjadi peluang bagi UIN KHAS Jember untuk memasuki celah yang lebih khusus dan unik. UIN KHAS Jember perlu memberikan perhatian yang lebih istimewa pada bagaimana menerjemahkan dan membangun landasan aksiologis keilmuan yang ditegakkan atas prinsip-prinsip etika Islam yang bersifat harmonis dan sejalan dengan semangat kemanusiaan yang universal.
Penguatan pada landasan aksiologis ini dirasa sangat penting mengingat bahwa sekalipun ilmu pengetahuan dan teknologi modern telah membawa berbagai kemajuan dan kemudahan bagi manusia, namun di sisi lain ia juga menimbulkan bermacam krisis yang memprihatinkan dalam peradaban umat manusia: krisis moral, krisis ekologi, kemiskinan dan kesenjangan ekonomi, dan lain sebagainya. Dengan memberikan porsi perhatian dan dedikasi yang lebih besar pada dimensi-dimensi aksiologis dalam ilmu pengetahuan dan teknologi ini, maka UIN KHAS Jember akan dirasa dan dipandang sebagai institusi pendidikan Islam negeri yang memang khas.
*) Aslam Saad, Ph.D., Dosen Pascasarjana UIN KHAS Jember. Editor : Yohanes Pangestu