Lahirlah istilah anak usia sekolah prasekolah, PAUD, TK/RA, SD/MI, SLTP/Mts/MA, dan PT) dan usia dewasa, yang eksistensinya disandingkan dengan lembaga pendidikan formal maupun nonformal. Islam mengenalnya dengan konsep belajar sejak usia dini, sejak masih dalam buaian sang Ibu yang dikenal dengan “madrasatul ulaa”, hingga meninggal dunia atau masuk liang lahat yang dikenal dengan “talqiin”. Belajar tanpa batas di tengah pandemi Covid-19 ini pada akhirnya mengkondisikan semua pihak untuk bersentuhan dengan perangkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam mewujudkan proses pembelajaran tatap muka (luring, offline) maupun proses pembelajaran tatap maya (daring, online).
Nikmatnya Pembelajaran Tatap Maya
Ketika awal pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) masuk di Indonesia (awal Maret 2020), pemerintah segera mengambil sikap dan menginstruksikan pembelajaran secara maya dan bekerja dari rumah melalui Surat Edaran Mendikbud Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid- 19. Kehadiran SE ini, membuat hampir semua pihak terkaget-kaget, tampak gamang dan belum atau kurang adanya kesiapan untuk melaksanakan proses pembelajaran secara tatap maya (daring, online) dan Bekerja Dari Rumah (BDR). Mulai dari HP yang tidak support, aplikasi yang belum familier, data yang tidak cukup, hingga signal yang kurang mendukung alias timbul tenggelam dan naik turun.
Namun karena situasi dan kondisi hanya memungkinkan proses pembelajaran secara tatap maya, maka secara bertahap, pelan tetapi pasti, semua pihak mulai berbenah diri dan membekali diri dengan kemampuan di bidang Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK). Pemerintah mengeluarkan regulasi pembelajaran secara daring, menyediakan paket quota data dan aplikasi, sementara pendidik dan peserta didik mulai belajar memanfaatkan gadget sebagai media utama yang memiliki fungsi tertentu, canggih, dan baru. Mereka mengupgrade kemampuan diri dan mengembangkan literasi digital, dari sekedar memanfaatkan personal computer (PC) dan LapTop secara offline menuju ke arah networking yang terkoneksikan dengan internet maupun gadget berbasis data maupun wifi.
Setelah proses pembelajaran tatap maya berjalan + 4 (empat) semester (pertengahan semester genap 2019/2020 - semester ganjil 2021/2022), tersibaklah sejumlah kemudahan yang menjadi ciri khas sekaligus keunggulannya, terutama dari aspek fleksibelitas dan aspek ekonomisnya.
Fleksibel, karena proses pembelajaran tatap maya dapat dilaksanakan kapan saja dan dimana saja tanpa terikat dan dibatasi oleh ruang, jarak dan waktu, tidak lagi harus menyediakan ruang kelas (gedung) tertentu sesuai jadwal; dan tidak lagi harus izin karena pergi ke luar kota atau sakit, karena dari luar kota proses pembelajaran tetap dapat dilaksanakan, dan dalam kondisi sakit tertentu proses pembelajaran tatap maya juga masih tetap bisa dilaksanakan, baik secara sinkronous maupun asinkronous.
Ekonomis, karena kegiatan akademik maupun nonakademik semisal pembelajaran, workshop, pelatihan, webinar, tutorial webinar, dan perlombaan, tetap dapat dilaksanakan dengan biaya yang minim sekalipun. Biaya transportasi dapat di-cancel, biaya narasumber dapat ditransfer, living cost (sewa kamar atau rumah dan makan minum, dan lain-lain) tidak dibutuhkan lagi bagi yang rumahnya jauh, dan biaya penyediaan kertas juga dapat diminimalisir karena mayoritas administrasi dan data sudah cukup disediakan dalam bentuk softcopy (files). Memang, sejumlah kegiatan akademik dan nonakademik di atas tetap membutuhkan dana untuk pengadaan media (gadged, quota, zoom, camera digital, wifi) serta kebutuhan lain yang tidak terduga, namun dana yang dibutuhkan masih relatif rendah dibandingkan dengan dana yang dibutuhkan saat pelaksanaan secara ofline, tatap muka. Sehingga melalui dunia maya berbasis internet, banyak sekali kegiatan akademik dan nonakademik yang dapat diselenggarakan, baik skala lokal, nasional, maunpun internasional. Pendek kata, transformation of knowledge or informations dapat berjalan lebih mudah dan efektif.
Kemudahan dan kelebihan ini sangat dirasakan oleh berbagai pihak baik pendidik maupun peserta didik, terutama kalangan akademisi perguruan tinggi. Hal ini membuat mereka enggan move on dari pembelajaran tatap maya ke pembelajaran tatap muka. Sekalipun demikian, bukan berarti pembelajaran tatap maya tidak memiliki kekurangan. Kekurangan yang paling tampak adalah kekurangan dari aspek infrastruktur, sumber daya manusia, dan transformation of values. Tidak semua lembaga pendidikan memiliki ketersediaan listrik, quota data, dan signal yang kuat, terutama di wilayah pedesaan yang jauh dari jangkauan listrik dan signal. Kalau saja infrastruktur sudah cukup memadai, belum tentu SDM yang ada benar-benar kompeten di bidang literasi TIK.
Aspek lain yang menjadi sumber kelemahan pembelajaran tatap maya adalah aspek kondisi alam, seperti listrik padam, atau signal yang tidak stabil, dan aspek keterpisahan tempat yang membuat transformation of values dan kontrol moral menjadi kurang maksimal. Kelemahan ini diasumsikan menjadi sumber kehadiran learning loss yang sangat dikhawatirkan oleh berbagai pihak dalam proses pembelajaran tatap maya. Kondisi semacam inilah yang membuat sebagian akademisi, pendidik dan peserta didik merindukan pembelajaran tatap muka.
Rindu Pembelajaran Tatap Muka
Interaksi pendidik, peserta didik, dan sumber belajar merupakan segitiga emas yang sangat menentukan terselenggaranya proses pembelajaran di sebuah lingkungan belajar. Sosok pendidik adalah sosok guru yang patut digugu dan ditiru, sebagai uswah hasanah dari aspek tutur kata dan perilaku. Peserta didik akan lebih mudah menerima dan memahami subtansi materi pelajaran yang didesain dan dimanifestasikan dalam bentuk figur dan tokoh yang patut diteladani, dengan segala kelebihan dan keterbatasan yang dimilikinya.
Pembelajaran tatap muka, menang diakui sejak lama telah menunjukkan keberhasilannya dalam mencerdaskan anak bangsa, baik dari aspek IQ, EQ, maupun SQ, dari aspek sikap, spiritual, sosial, dan keterampilan. Ya, kondisi ini tentu berjalan saat situasi dan kondisi normal, belum atau tidak sedang terpapar pandemi Covid-19. Sebaliknya saat pandemi belum menampakkan situasi dan kondisi yang benar-benar aman untuk proses pembelajaran tatap muka seperti sekarang ini, maka persoalannya menjadi lain. Pilihan kalangan akademisi, pendidik, peserta didik, dan orang tua, terbelah menjadi 2 (dua) opsi. Opsi pertama adalah mereka yang lebih memilih proses pembelajaran tatap maya, tetap dilaksanakan secara daring dan BDR, sedangkan opsi kedua adalah mereka yang memilih proses pembelajaran tatap muka secara terbatas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
Data survei kesiapan pembelajaran tahun 2021/2022 yang dirilis oleh Kemendikbud (sekolah.data.kemendikbud.go.id/kesiapanbelajar/pbm) menunjukkan bahwa di Jawa Timur terdapat tidak kurang dari 90.770 lembaga pendidikan; sejumlah 51.075 lembaga pendidikan telah menjawab survei dan sisanya 39.695 belum menjawab. Dari jumlah lembaga pendidikan yang sudah menjawab, sebanyak 29.233 lembaga pendidikan (57%) memilih siap belajar dan bekerja dari rumah, dan 21.842 lembaga pendidikan (43%) memilih siap Pembelajaran Tatap Muka.
Mereka yang memilih opsi pertama dapat dimaklumi karena situasi dan kondisi yang belum sepenuhnya aman dari pandemi Covid-19. Mereka yang memilih opsi kedua pun juga tidak salah karena pilihan ini mempersyaratkan tatap muka secara terbatas disertai penerapan protokol kesehatan secara ketat. Lebih dari itu, mereka beragumen bahwa keterbatasan yang terjadi selama proses pembelajaran tatap maya sangat mungkin akan berdampak pada lahirnya learning loss yang sangat tidak diharapkan. Tindakan yang dipandang bijak dalam hal ini adalah mengawinkan atau menggabungkan proses pembelajaran tatap muka dan proses pembelajaran tatap maya, sebagai salah satu bentuk inovasi di bidang desain pembelajaran.
Daring Dan Luring Sebagai Sebuah Inovasi
Upaya menggabungkan proses pembelajaran tatap muka dengan proses pembelajaran tatap maya sebagai salah satu bentuk inovasi di bidang desain pembelajaran dapat dipandang sebagai sebuah tindkan yang bijak. Inilah konsep blended learning, sebuah proses pembelajaran yang berupaya menghadirkan tatap muka dan tatap maya secara proporsional, situasional, dan kondisional. Berbagai varian blended learning dapat dipilih, yaitu station rotation blended learning, lab rotation blended learning, remote blended learning atau enriched virtual, flex blended learning, the ‘flipped classroom’ blended learning, individual rotation blended learning, project-based blended learning, self-directed blended learning, blended learning inside-out, outside-in blended learning, supplemental blended learning, mastery-based blended learning.
Namun upaya penggabungan ini tidak semudah yang dibayangkan dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Proses pembelajaran tatap muka membutuhkan infrastruktur dan sarpras (sarana dan prasarana) sendiri, yang berbeda dengan yang dibutuhkan oleh proses pembelajaran tatap maya. Itu artinya secara finansial lembaga pendidikan harus menyediakan dana lebih dibandingkan saat hanya menyelenggarakan proses pembelajaran secara terpisah. Tentu ini sebuah konsekeuensi yang harus dimaklumi.
Sebuah lembaga pendidikan yang ingin maju dan menjadi word class university, tentu harus memilih blended learning sebagai desain pembelajarannya. Peserta didik yang berada di tempat terpisah di luar propinsi, di luar pulau, bahkan di luar negeri, diberi kesempatan untuk bergabung dalam proses pembelajarannya secara fleksibel dan tidak ada keharusan memilih tatap muka. Dalam hal ini Program Studi Doktor (S3) Pendidikan Agama Islam (PAI) Pascasarjana Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember siap mengawal blended learning sebagai solusi terbaiknya. Wallahu a’lamu bish-showaab.
*) Dr. H. Mundir, M.Pd., Kaprodi S3 PAI Pascasarjana dan Dosen UIN KHAS Jember.
Editor : Safitri