Transformasi IAIN Jember menjadi UIN KHAS Jember patut disyukuri, karena diniatkan sebagai pintu menuju kebaikan bagi peningkatan kualitas pendidikan tinggi keagamaan Islam sebagaimana desain Visi UIN KHAS Jember, yakni “Menjadi Universitas Islam terkemuka di Asia Tenggara Tahun 2030 dengan kedalaman ilmu berbasis kearifan lokal untuk kemanusiaan dan peradaban”. Setidaknya, ada dua tantangan “besar dan berat” dalam mewujudkan visi mulia ini di tengah kompetisi lembaga perguruan tinggi dunia di era globalisasi digital.
Pertama, visi menjadi universitas Islam terkemuka di Asia Tenggara tahun 2030 didasarkan atas kemampuan civitas akademika, baik dosen, karyawan, dan mahasiswa dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi Keagamaan Islam yang sudah dilakukan sebelum transformasi UIN KHAS Jember terwujud. Terkemuka di Asia Tenggara sudah dimulai sejak “berstatus” STAIN Jember dan IAIN Jember berupa kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi di mancanegara, terutama Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, dan negara lainnya.
Sejak dipercaya menjadi Ketua STAIN Jember dan Rektor IAIN Jember, jaringan kerjasama dengan dunia internasional sudah terjalin melalui beragam kegiatan bahkan hingga bertransformasi menjadi UIN KHAS Jember. Bahkan, ketika musim pandemi Covid-19 tahun 2020-2021, kegiatan internasional itu tidak menjadi kendala karena menggunakan media komunikasi daring. Diantaranya webinar dengan intelektual dari berbagai negara, seperti Australia, Amerika, Jerman, Timur Tengah, dan pakar lainnya.
Untuk itu, berbagai kegiatan penelitian kolaboratif internasional, pertukaran mahasiswa asing, seminar internasional, dan kerjasama Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat) harus ditingkatkan di masa-masa mendatang dengan skala yang lebih besar lagi. Tantangan kedepan, sesuai dengan tuntutan “Merdeka Belajar-Kampus Merdeka”, maka kerjasama dengan berbagai pihak, baik nasional maupun internasional harus lebih inovatif, kolaboratif, dan sinergis.
Kebutuhan akan kualitas sumber daya kampus (mahasiswa, dosen, dan karyawan), sarana prasarana, sudah dipersiapkan dan akan terus ditambah sebagai konsekuensi alih status ini. Berbagai fakultas “umum” baru dibuka, peningkatan jumlah mahasiswa, penambahan tenaga karyawan, kuantitas dosen, dan perluasan kampus. Tentu saja, dampaknya akan terjadi pergerakan ekonomi yang meningkat, disamping dinamika dunia pendidikan yang semakin maju.
Agar berkelas di Asia Tenggara, pesan penting Menteri Agama Republik Indonesia Periode 2014-2019 Lukman Hakim Syaifuddin--saat menjadi narasumber Workshop Penguatan Kapasitas Penggerak Moderasi Beragama di Gedung Kuliah Terpadu (GKT) UIN KHAS Jember--bisa menjadi panduan para civitas akademika UIN KHAS Jember. Pertama, program studi yang berbasis Islam harus tetap menjadi unggulan dan tidak pudar keberadaanya. Pesan ini sangat beralasan mengingat berdasarkan pengalaman kampus PTKIN saat alih status ke UIN, ada beberapa program studi berbasis Islam justru kalah dengan prodi umum. Padahal program studi Islam itu mestinya harus didudukan sebagai center excellence. Identitas Universitas Islam harus menjadi sumber utama ilmu pengetahuan yang meng-Asia Tenggara. Hal ini juga ditegaskan dalam Perpres 44 Tahun 2021 tentang UIN KHAS Jember.
Kedua, program studi umum yang dibuka di UIN KHAS Jember perlu memiliki kekhasan atau distingsi dibanding program studi umum di perguruan tinggi umum. Distingsi menjadi kata kuncinya. Harus ada yang berbeda dengan perguruan tinggi umum. Tentu saja, kekhasan, keunikan, kemenarikan, dan kekhususan akan menjadi salah satu kekuatan UIN KHAS dengan visi besarnya menjadi menjadi universitas Islam terkemuka di Asia Tenggara tahun 2030 dengan kedalaman ilmu berbasis kearifan lokal untuk kemanusiaan dan peradaban. Disinilah seluruh civitas akademika di masing-masing program studi memiliki kemampuan untuk menerjemahkan visi besar tersebut.
Ketiga, Tri Darma perguruan tinggi di UIN KHAS Jember ditujukan kepada moderasi beragama. Khususnya penelitian dan pengabdian yang dilakukan oleh perguruan tinggi bisa membumikan moderasi beragama. Kata kunci moderasi beragama ini menjadi spirit besar UIN KHAS Jember dalam rangka menyebarkan Islam rahmatan lil alamin, Islam yang ramah, Islam yang dijauhkan dari paham-paham kekerasan yang merusak Islam. Sebagai kekuatan muslim terbesar di dunia, potensi umat Islam, dalam hal ini UIN KHAS Jember dapat memberikan kontribusi besar dalam membumikan Islam yang ramah secara global.
Keempat, proses digitalisasi yang juga harus dilakukan perguruan tinggi. Dalam perkembangan revolusi industri digital yang begitu cepat, kampus UIN KHAS Jember terus melakukan berbagai perbaikan akses digital agar kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi bekerja maksimal, mudah diakses, dan memberikan manfaat langsung kepada para pengguna, stakeholder, dan mitra kerja. Digital University ini juga pernah disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama RI Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP, M.T., dalam Rapat Kerja Pimpinan IAIN Jember pada 5-7 Februari 2021 yang menegaskan begitu pentingnya Digitalisasi Kampus ini. Menurut Prof. Ramdhani, setidak ada lima fokus pengembangan yang menjadi term penting digital university, yakni distance learning, multimedia learning, software learning, computer based learning, dan online learning.
Kedua, sedangkan visi kedalaman ilmu berbasis kearifan lokal untuk kemanusiaan dan peradaban tidak bisa dilepaskan dari sosok Kiai Haji Achmad Siddiq yang menjadi pilihan nama UIN KHAS Jember. Corak kearifan lokal (local wisdom) pandangan yang disampaikan KHAS adalah cerminan yang unik karena mampu memadukan pilar Keagamaan/ Keislaman dengan Kenegaraan/ Pancasila sebagai bangunan kemanusiaan dan peradaban. KHAS adalah sosok “kearifan lokal” Jember yang pandangannya dijadikan prinsip keagamaan dan kebangsaan dalam memperkokoh NKRI yang berpengaruh di Asia Tenggara dan bahkan dunia. Diantaranya, melalui pandangan “tokoh lokal” yang mengglobal inilah, UIN KHAS Jember menargetkan menjadi universitas Islam yang terkemuka.
Sebagai inisiator nama UIN KHAS Jember, dalam berbagai kesempatan saya menjelaskan, pilihan terhadap sosok Kiai Haji Achmad Siddiq/ KHAS, memiliki argumentasi kuat, yang salah satunya adalah dalam konteks penguatan komitmen kebangsaan. Pemikiran KHAS tentang penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal, mencerminkan pemikiran yang sangat argumentatif dan akademis untuk kepentingan umum bangsa Indonesia. KHAS pula yang telah meletakkan fondasi awal pemikiran yang sangat jernih dan objektif tentang relasi agama dan Pancasila agar kemudian lahir pemahaman yang proporsional. Kontribusi besar dari KHAS dalam melahirkan pandangan moderat diharapkan dapat mengukuhkan kelembagaan UIN KHAS Jember dalam konteks menyeimbangkan relasi keagamaan dan kebangsaan dalam bingkai moderasi beragama yang digali dengan filosofi kedalaman ilmu.
Hal yang lebih penting dalam membumikan visi yang terkait dengan kedalaman ilmu berbasis kearifan lokal ini adalah menggali nilai-nilai kearifan lokal sebagai distingsi program studi yang ada dan baru, baik yang berbasis agama maupun berbasis ilmu umum. Tentu saja, ini adalah tantangan besar bagi sumber daya program studi yang ada di UIN KHAS Jember untuk memilih distinginsi sesuai kajian keilmuan prodinya masing-masing dalam mendukung kearifan lokal (universitas value). Semoga!
*) Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E., M.M., Rektor UIN KHAS Jember, Guru Besar Ilmu Manajemen, Dosen Pascasarjana UIN KHAS Jember. Editor : Radar Digital