Empat pilar keagamaan KHAS yang dibahas dalam tulisan ini adalah shalat berjamaah, membaca Alquran, Bershalawat, dan tidak berbuat zalim. Sedangkan empat pilar kebangsaan dalam konteks keindonesiaan itu adalah PBNU (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, Undang-Undang Dasar 1945).
Pilar Keagamaan Memperkuat Keyakinan
Empat pilar keagamaan KHAS (komitmen shalat berjamaah, harus baca Alquran, amalkan bersalawat, dan selalu menghindari/menghilangkan kezaliman) ini memiliki makna yang mendalam dan ketika dijalankan secara istiqamah. Salat berjamaah merupakan gambaran sebuah kepemimpinan dalam Islam, di mana dalam sebuah jamaah wajib mengangkat satu imam. Jika sudah disepakati dipilih, maka Imam itu akan diikuti oleh makmumnya. Kepemimpinan organisasi pun demikian. Misalnya, kampus IAIN maupun UIN pasti ada "imam" yakni satu rektor yang dipilih melalui mekanisme yang ditetapkan. Jika persyaratan menjadi rektor tidak terpenuhi, maka tidak bisa ditetapkan sebagai pemimpin. Dan, ketika ditetapkan, maka menjadi kewajiban civitas akademika untuk mengikutinya.
Dalam salat jamaah terdapat juga pengawasan yang ketat dari makmun. Misalnya, jika imam salah dalam membaca, makmum mengingatkan. Demikian juga jika imam sampai batal, maka makmum yang di belakangnya yang akan menggantikannya. Dengan demikian, salat jamaah menggambarkan kekuatan dalam suatu kelompok/organisasi dalam meraih tujuan utama secara bersama-sama (berjamaah), rida Allah SWT. Lebih dari itu, ibadah salat itu memiliki tujuan implementatif yang utama, yakni mencegah perilaku/perbuatan keji dan munkar.
Salat berjamaah merupakan ibadah dalam bentuk permohonan (doa) kepada Allah SWT agar senantiasa mengalirkan rahmat kepada hamba-Nya. Makna seperti ini dapat disimak dari logo UIN KHAS Jember yang dilambangkan dengan “air terjun” yang diartikan sebagai curahan rezeki yang dialirkan/ dilimpahkan oleh Allah kepada manusia sebagai pemakmur di muka bumi (khalifah fil ardhi). Sesuai dengan filosofi air pula, Imam/pemimpin harus tampil mengalirkan ilmunya yang luas dan bermanfaat kepada para jamaah/umat/rakyat yang dipimpinnya.
Membaca Alquran berarti menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup yang rahmatan lil alamin. Selain bermakna ibadah, membaca (iqra’) dapat dimaknai pula memahami dan mengamalkan apa yang terkandung didalam Kitabullah. Sebab, Alquran adalah Al Furqan, pembeda untuk memisahkan yang haq dan batil. Ketika manusia “berdebat” tentang baik buruk, Alquran hadir dengan nash halal-haram, tidak ada keraguan sedikitpun bagi mereka yang beriman.
Alquran pula yang menjadi dasar utama filosofi makna logo UIN KHAS Jember. Bahwa Alquran adalah titik pusat yang menjiwai segala macam disiplin ilmu yang dikembangkan di dalam bingkai UIN KHAS Jember. Untuk itu, menjadi tanggung jawab bersama civitas akademika dalam menjaga kemurnian ajarannya sebagai sumber dari segala sumber hukum Islam. Karena dengan Alquran, segala problematika kehidupan manusia dapat terselesaikan sesuai dengan petunjuk Ilahi Rabbi.
Bersalawat kepada kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah bagian penting dari ajaran Islam. Sosok manusia luar biasa yang berhasil membangun peradaban Islam yang harmoni, sejak dakwah Islam di Makkah selama 13 tahun hingga meletakkan masyarakat Islam di Madihah. Sebuah potret masyarakat pluralistik, terdiri dari beragam suku, agama, dan ras yang dibingkai dengan ajaran Islam yang penuh toleransi. Berkat perjuangan Nabi SAW ini pula, Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia hingga saat ini sebagai ajaran yang memberikan rahmat, kesejukan, dan kebahagiaan.
Semangat mengembangkan masyarakat yang baik, sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW juga menjadi spirit makna penting dalam logo UIN KHAS Jember yang disimbolkan dengan “sayap”. Artinya, civitas akademika UIN KHAS Jember memiliki kekuatan, kesanggupan, dinamika, dan kemauan keras untuk terus berkembang dan “terbang” keatas meraih cita-cita tinggi, rahmatan lil alamin. Lambang sayap juga menyimbolkan pendirian yang kokoh dalam menghadapi badai problematika kehidupan. Dapat meneladani perjuangan Nabi SAW yang penuh tantangan, hambatan, dan rintangan sebelum akhirnya memetik kemenangan berkat pertolongan Allah (nasrullah).
Wajar saja jika Michael H. Hart, penulis terkenal yang mengarang buku berjudul “The 100” menempatkan Nabi Muhammad di urutan pertama sebagai tokoh berpengaruh di dunia. Maka, sebagai umat penerus perjuangan Nabi Muhammad, maka bersolawat Nabi menjadi keharusan bagi seorang muslim, tidak boleh ditinggalkan. Maknanya, dengan bersalawat, kita senantiasa menjunjung tinggi kemuliaannya dan meneladani akhlak mulai beliau SAW.
Sedangkan, tidak melakukan kezaliman dapat dimaknai sebagai bentuk perlawanan terhadap setiap tindakan dzalim. Pesan KHAS ini mudah diucapkan, tetapi tidak mudah dilaksanakan. Tindakan zalim dapat dimaknai sebagai bentuk “penyengsaraan terhadap rakyat”, tidak peduli kepada kaum duafa, dan berbagai perilaku yang diskriminatif. Perilaku korupsi, intimidasi, diskriminasi, kriminalisasi, radikalisme, intoleransi, dan hegemoni dapat terkategori kedzaliman karena bersifat menindas terhadap sesuatu yang benar. Untuk itu, tidak memiliki keberpihakan kepada mereka yang tertindas adalah kezaliman yang harus dilawan!
Pilar Kebangsaan yang Mengokohkan
Pilar kebangsaan yang pernah disampaikan oleh KHAS adalah di antaranya penerimaan asas tunggal Pancasila sebagai landasan konstitusi final di Negara Indonesia. Pandangan ini sejalan dengan empat pilar kebangsaan, yakni PBNU (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-undang Dasar 1945) yang sampai hari ini telah terbukti ampuh dalam menjaga kebersatuan nusantara dari berbagai rongrongan pihak luar. Upaya-upaya merusak kesatuan NKRI, adalah salah satu bentuk kezaliman yang harus dilawan. Maka keutuhan “Negara Nusantara” ini harus dijaga sebagai bentuk komitmen kebangsaan seorang muslim.
Pandangan ini sejalan pula dengan makna dalam logo UIN KHAS Jember yang digambarkan dalam simbol “bintang dengan 5 titik” yang melambangkan Pancasila sebagai pilar ideologis Negara Indonesia. Pancasila sebagai sumber nilai dan moral, pedoman dalam penyelenggaraan negara, petunjuk dalam mewujudkan cita-cita luhur, sebagai cerminan kepribadian bangsa yang membedakan Indonesia dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Sebagai pesan mulia seorang ulama KHAS, empat pilar keagamaan dan kebangsaan itu apabila dilaksanakan, setidaknya, akan melahirkan suatu sikap dan perilaku generasi yang khas pula, yakni konsisten, harmonis, aspiratif, dan solidaritas. Sebagai seorang muslim, dia akan bersikap dan berperilaku konsisten dalam menjalankan perintah ajaran Islam dan semangat kebangsaan dalam menyatukan Indonesia. Sikap dan perilaku harmonis terbangun dari keyakinan atas ajaran Islam yang mendorong menciptakan kehidupan harmonis sebagaimana yang diamanatkan dalam semangat kebangsaan untuk saling menghargai perbedaan/kemajemukan di Indonesia. Sikap dan perilaku aspiratif termotivasi oleh ajaran Islam yang memerintahkan agar selalu mendengar suara rakyat dan ajaran kebangsaan tentang kemanusiaan yang adil dan beradab. Sikap dan perilaku solidaritas terdorong oleh semangat keagamaan Islam yang mengajarkan kepedulian terhadap sesama dan juga motivasi kebangsaan yang berbicara keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dengan demikian, pilar keagamaan/keislaman dan pilar kebangsaan bukanlah sesuatu yang bertentangan, melainkan pilar yang saling menguatkan, mengokohkan. Untuk itu, civitas akademika UIN KHAS Jember nantinya memiliki tanggung jawab besar dalam merawat pilar tersebut!
*) Prof. Dr. H Babun Suharto, SE., MM, Rektor IAIN Jember, Guru Besar Ilmu Manajemen, Dosen Pascasarjana IAIN Jember. Editor : Safitri