Libur Natal 2023 dan tahun baru 2024 (Nataru) benar-benar dimanfaatkan warga untuk berwisata. Dalam momen itu, nelayan pun turut mengambil manfaat. Kok bisa?
ADA beberapa jukung milik nelayan yang parkir di pinggir pantai. Lokasinya tak biasa. Sebab, parkir di sekitar tempat wisata. Nah, jukung-jukung itu ternyata dijadikan ojek dadakan oleh pemiliknya. Sejumlah nelayan sengaja tak melaut karena ingin menjual jasa ojek kepada warga yang berwisata.
Itu terlihat di Pantai Cemara, di Dusun Getem, Desa Mojomulyo, Kecamatan Puger. Trik nelayan ini cukup baik, karena nelayan bisa mendapatkan uang meskipun tidak melaut dengan jukung miliknya.
Saat ombak besar dan air laut mulai surut, mereka mulai manfaatkan kesempatan itu. Pada saat air laut mulai pasang, beberapa nelayan melayani pengunjung yang ingin naik jukung. Tarif yang dipasang terjangkau, yaitu Rp 10 ribu per orang. Wisatawan pun bisa menikmati jukung hingga Jembatan Cinta. Dalam satu kali angkut bisa sampai ada 10 orang atau lebih. Kadang, satu ojek jukung bisa mengangkut 6 hingga 10 orang.
Saat mengantar wisatawan dengan jukung, nelayan terlihat kesulitan karena muaranya dangkal. Sehingga harus berputar-putar mencari muara yang dalam agar jukung melaju lancar.
Hendrik, 48, nelayan asal Dusun Getem, mengaku, itu kesempatan untuk mengantar wisatawan yang ingin naik jukung. Wisatawan diantar hingga Jembatan cinta dan kembali lagi ke pangkalan. “Daripada diam di rumah karena tidak melaut, dimanfaatkan untuk mengangkut orang yang berkunjung ke Pantai Cemara ini. Terlihat wisatawan yang datang mulai Minggu (24/12), sehingga kesempatan ini dimanfaatkan nelayan,” katanya.
“Memang tidak semunya yang punya jukung menjadi ojek saat liburan. Tetapi, ada juga nelayan yang memilih melaut karena sudah mata pencariannya. Yang menjadi ojek jukung ini saat liburan saja. Seperti hari Minggu, liburan sekolah, Hari Raya Idul Fitri, dan libur tahun baru,” katanya.
Menurutnya, saat air pasang dan ombak besar, nelayan tidak berani karena ombak besar dan di muara sungai ini cukup besar. “Muara dan tempat keluar masuknya jukung terus berpindah-pindah. Baru setelah air surut, berani mengantar pengunjung yang ingin naik," kata Hendrik.
Sementara itu, Lilin, wisatawan asal Balung, mengaku, kesempatan naik jukung itu pertama kali baginya. “Sebenarnya setiap liburan sudah ada ojek jukung, tetapi takut. Saya belum pernah naik jukung. Awalnya ragu, setelah banyak pengunjung yang naik, saya memberanikan diri untuk naik bersama keluarga,” jelasnya. Sementara itu, pantauan Jawa Pos Radar Jember, banyak juga wisatawan yang datang ke Pantai Cemara berebut ingin naik ojek jukung. (c2/nur)
Editor : Radar Digital