Radar Jember - Era keemasan Low Cost Green Car (LCGC) di Indonesia tampaknya mulai memudar.
Sempat menjadi primadona sejak diluncurkan pada 2013, kini segmen mobil murah ini justru menunjukkan tren penurunan yang mengkhawatirkan sepanjang tahun 2025 hingga memasuki awal 2026.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kombinasi antara daya beli yang lesu dan gempuran teknologi baru dari negeri tirai bambu menjadi pemicu utamanya.
Data Gaikindo: Pangsa Pasar Menipis
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), angka penjualan LCGC secara retail (dari dealer ke konsumen) terjun bebas.
Pada tahun 2025, penjualannya hanya menyentuh 130.799 unit, turun signifikan dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 178.726 unit.
Penurunan ini juga berimbas langsung pada pangsa pasar nasional. Jika pada 2024 LCGC masih menguasai 20,1 persen pasar otomotif tanah air, kini angka tersebut menyusut menjadi 15,7 persen.
Dihimpit Ekonomi dan Gempuran EV China
Mengapa konsumen mulai meninggalkan LCGC? Ada dua faktor krusial yang saling menjepit
Ekonomi Lesu: Target pasar LCGC adalah first buyer atau pembeli mobil pertama.
Namun, kelompok ini menjadi yang paling terdampak kondisi ekonomi saat ini, sehingga banyak yang mengurungkan niat untuk membeli kendaraan baru.
Invasi Mobil Listrik (EV) China: Kehadiran mobil-mobil listrik asal China dengan harga kompetitif mengubah peta persaingan.
Meski LCGC memiliki standar irit BBM 1:20, mereka kini harus berhadapan dengan EV yang menawarkan jarak tempuh 300 km dengan biaya operasional dan pengisian daya yang jauh lebih murah, ditambah insentif pajak yang menggiurkan.
Prediksi 2026: Akankah LCGC Tenggelam?
Tahun 2026 menjadi tahun pembuktian bagi eksistensi mobil murah di Indonesia.
Tanpa adanya kebijakan baru yang mampu mendongkrak daya beli masyarakat kelas menengah-bawah, nasib LCGC diprediksi akan semakin terpinggirkan.
Pilihan kini ada di tangan konsumen: tetap setia pada mobil bensin yang ‘irit’ namun harganya terus naik, atau beralih ke teknologi listrik yang mulai semakin terjangkau.
Editor : Imron Hidayatullahh