radar jember - Di era kejayaan motor dua-tak, nama Suzuki GP100 dan GP125 pernah menjadi idola para penggemar sepeda motor di Indonesia.
Dirilis pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an, keduanya menjadi simbol keandalan mesin dua-tak dengan performa mantap namun tetap terjangkau.
Kini, puluhan tahun sejak pertama kali mengaspal, GP100 dan GP125 masih diburu oleh para kolektor maupun penggemar motor klasik karena karakternya yang unik dan nilai historis yang tinggi.
Suzuki GP100 hadir lebih dulu dengan mesin 98cc 2-tak satu silinder yang mampu menghasilkan tenaga sekitar 10 PS pada 7.500 rpm.
Desainnya sederhana namun tangguh, cocok untuk kebutuhan harian maupun hobi berkendara santai. Bobotnya yang ringan—sekitar 90 kg—membuatnya sangat lincah di jalanan.
Tidak lama berselang, Suzuki memperkenalkan GP125 sebagai versi "naik kelas". Dengan mesin 123cc, motor ini menghasilkan tenaga lebih besar di angka 13 PS pada 8.000 rpm.
Meskipun sama-sama dua-tak, GP125 terasa lebih agresif dengan akselerasi yang lebih baik dan suara knalpot yang khas menggelegar. Keduanya menggunakan sistem transmisi manual 5-percepatan dan karburator Mikuni yang legendaris di masanya.
Dari sisi tampilan, GP100 dan GP125 menawarkan desain retro dengan tangki ramping, jok datar, dan lampu bulat klasik.
Panel instrumennya juga minimalis namun informatif, terdiri dari speedometer dan indikator bahan bakar analog. Fitur-fitur ini kini justru menjadi nilai jual tersendiri di tengah maraknya motor digital modern.
Di pasaran motor bekas, Suzuki GP100 dan GP125 kini menjadi barang koleksi.
Harga unit yang masih orisinil dan mulus bisa tembus Rp5 juta hingga Rp12 juta, tergantung kondisi dan kelengkapannya.
Banyak penggemar motor klasik yang memilih merestorasi motor ini sebagai hobi, mengganti onderdil dengan spare part original atau bahkan menambahkan sentuhan modifikasi ringan tanpa menghilangkan nuansa klasiknya.
Keberadaan GP100 dan GP125 menjadi bukti bahwa motor dua-tak tak pernah benar-benar ditinggalkan.
Bagi generasi muda yang penasaran dengan sensasi motor klasik atau kolektor yang ingin menambah deretan koleksi bersejarah, motor ini masih layak dimiliki dan dirawat.
Penulis: Fauzan Rifqi Prayoga Listyawan