Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Menyelami Kuliner Jember lewat Seporsi Rawon Pecel Bu Darum

Radar Digital • Rabu, 15 November 2023 | 21:40 WIB
Anik Sajawi
Anik Sajawi

BEBERAPA hari lalu, saya mencoba untuk mencicipi rawon pecel Bu Darum, sebuah kuliner yang wajib dicoba saat tiba di Kota Seribu Gumuk. Konon kuliner ini sudah ada setelah tujuh tahun Indonesia merdeka. Inisiatornya adalah seorang perempuan yang bernama Darum, yang secara tak sengaja meramu sebuah hidangan yang akan menjadi warisan kuliner. Dia melahirkan sebuah menu. Dikenal dengan rawon pecel Bu Darum. Saat itu Tahun 1953 menjadi pertama kali pengelola rawon pecel Bu Darum membuka kedainya.  Tepat tujuh tahun setelah kemerdekaan Indonesia, kuliner istimewa itu mulai berkembang. Nenek Darum menjadi pionir di balik menu ini. Meski semuanya dimulai secara tak terduga, saat seorang pelanggan meminta agar rawon disajikan bersama pecel.

Sejak saat itu, nama rawon pecel Bu Darum mulai mencuat dan dengan cepat mencuri perhatian. Kelezatan rasa, perpaduan rempah yang menggoda, dan sentuhan pecel yang gurih menjadikan hidangan ini laris dan dicari oleh banyak orang.  Pandalungan menjadi sikap hidup yang tidak bisa dipisahkan dengan kuliner ini. Pandalungan yang berarti mencampur-campur sesuatu dengan takaran yang sesuai menjadikannya hal yang lumrah. Hal tersebut berarti memasak dengan cermat, tanpa mengurangi atau menambahkan apa pun dalam komposisi kuliner rawon pecel Bu Darum semenjak ia dibuat.

Rawon pecel Bu Darum menjadi bukti nyata bahwa warisan kuliner lokal dapat bertahan dan berkembang hingga masa sekarang. Kelezatan, bumbu-bumbu rempah, dan kisah di balik hidangan ini menjadikannya bagian integral dari identitas Kuliner Khas Jember. Meski dunia yang terus berubah, melestarikan keaslian makanan menjadi sebuah tantangan, terutama saat usaha mulai berkembang dan generasi berikutnya mengambil alih. Rawon pecel Bu Darum menjadi contoh sukses bagaimana kuliner warisan dapat terus menjadi kebanggaan komunitas dan daya tarik bagi para pendatang. Lebih dari sekadar makanan, hidangan seperti ini menghubungkan pembeli dengan sejarah, tradisi, dan identitas suatu daerah. Resep-resep turun-temurun selalu dijaga dengan cermat. Ini adalah warisan yang berharga, dan penduduk Jember memiliki tanggung jawab untuk menjaganya.

Hal tersebut menjadi bagian dari Pandalungan yang menghormati bumbu-bumbu tradisional dan menjaga takaran yang tepat, sehingga rasa hidangan tidak pernah berubah. Ketika kita berbicara tentang takaran yang tepat, tentu tidak akan lepas dari berbicara tentang presisi dalam meracik hidangan. Setiap sendok bumbu, setiap takaran garam, dan setiap perbandingan antara bahan adalah kunci.

Pandalungan seakan menjadi seni yang memastikan bahwa ketika pembeli menyantap hidangan, kamu tidak hanya merasakan rasa lezatnya bumbu-bumbu, tetapi juga merasakan sejarah dan identitas kuliner Khas Jember ini. Rawon pecel Bu Darum menjadi contoh sempurna tentang bagaimana cinta keluarga dan rasa menjaga terhadap warisan dapat menciptakan hidangan yang menggoda selera, kuliner mengundang decak kagum bagi siapa pun yang mencicipinya.

 

Rawon pecel Bu Darum memiliki beberapa tanda khas yang membuatnya begitu istimewa hal ini lantaran kuliner ini seakan menjadi bahasa yang merentang jembatan antara masa lalu dan masa kini, dan rawon pecel Bu Darum menjadi satu di antara banyak kuliner khas Jember yang memiliki daya magis itu. Pertama, rawon Bu Darum dikenal dengan kuah rawonnya yang gurih dan penuh rempah. Ketumbar, kunyit, keluwek, dan bumbu-bumbu lainnya menciptakan rasa yang tidak ada duanya. Kedua, keunikan hidangan ini ada pada perpaduannya dengan pecel. Pecel menjadi hidangan sayuran yang dilumuri oleh saus kacang. Perpaduan antara kuah rawon dan pecel menjadi kombinasi yang sempurna.

Ketiga, rawon pecel Bu Darum telah dikelola hingga generasi ketiga. Ini menjadi bukti nyata keberlanjutan dan warisan keluarga yang kuat dalam menjaga kualitas dan cita rasa asli hidangan. Lalu keempat, tidak hanya menjadi favorit warga setempat, rawon pecel Bu Darum juga menjadi salah satu makanan khas Jember yang dikenal baik oleh pendatang. Kelezatan dan keunikan hidangan ini telah menarik para wisatawan dari berbagai penjuru.

Kelima, pengaruh budaya sebab ketika berbicara tentang Jember, salah satu hal yang segera mencuat ialah “Pandalungan”. Pandalungan adalah filosofi hidup dan kuliner yang menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Jember. Ini tidak terlepas dari cerita tentang Pandalungan, tentang bagaimana semangat untuk merasakan lezatnya tradisi telah merajut jalinan erat dengan selera makan dengan budaya yang ada di sana.

Pandalungan sebagai Wadah Lahirnya Warisan Kuliner

Seperti yang sudah saya singgung di atas Pandalungan bukan hanya sekedar pendekatan dalam memasak; ini merupakan sikap warisan budaya yang mendalam. Tentu langkah ini tercermin dari semangat komunitas yang ingin memastikan bahwa kuliner tradisional Jember tetap lezat dan otentik dari generasi ke generasi. Menjaga komposisi bumbu dan takaran bukan hanya tentang memasak. Upaya tersebut menjadi perwujudan rasa hormat terhadap budaya dan sejarah yang diciptakan penemunya. Hal itu menjadi cara dari warga Jember memelihara dan menjaga identitasnya dalam setiap sejarah yang tercipta dan dikenal hingga masa kini mulai dari kuliner hingga warisan budaya lainnya.

Pandalungan menjadi kisah yang menggambarkan bagaimana Jember telah menjaga kelezatan tradisinya dalam setiap hidangan makanan utamanya rawon pecel Bu Darum. Hal tersebut menjadi semangat untuk memelihara rasa lezat hidangan dan menyebarluaskan kekayaan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sebab ketika kamu menyantap hidangan rawon pecel Bu Darum Khas Jember, kamu akan merasakan cita rasa budaya Pandalungan di sana. Pembeli akan merasakan cita rasa yang terjaga dari generasi ke generasi dengan rasa lezat yang telah menjadi ciri khas kuliner Jember. Pandalungan menjadi sebuah penghormatan kepada masa lalu, dan setiap suap kisah yang menjalin masa kini dan masa lalu dalam cita rasa otentik yang tidak akan pernah berubah.

 

 

*) Penulis adalah alumnus Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN KHAS Jember.

Editor : Radar Digital
#Kuliner #rawon pecel jember