Kasihan Rektor UINSA, Baru Dilantik Sudah Didemo, Lalu Mundur

M. Ainul Budi • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 07:38 WIB
Kasihan Rektor UINSA, Baru Dilantik Sudah Didemo, Lalu Mundur
Kasihan Rektor UINSA, Baru Dilantik Sudah Didemo, Lalu Mundur

RADAR JEMBER - Jangan melawan mahasiswa, berat urusannya. Soeharto saja lengser. Apalagi sekelas rektor. Buktinya, baru seminggu jadi Rektor UINSA Surabaya, sudah minta mundur. Ini akibat didemo mahasiswa. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, cak!

Kasihan Prof. Akh. Muzakki M Ag Grad.Dip.SEA M Phil Ph D (bale gelarnye, begegar saye). Baru dilantik kembali menjadi Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) periode 2026–2030 pada 15 September 2026, belum sempat mengelap meja rektor, mahasiswa sudah demo.

Ini bukan pelantikan rektor. Ini seperti masuk rumah baru. Begitu pintu dibuka, tetangga sebelah sudah membawa spanduk, “Silakan keluar atau kami keluarkan!”

Sejak 16 September, mahasiswa, dosen, dan civitas akademika bergerak. Gerbang kampus disegel, posko didirikan, perkuliahan terganggu. Sebagian dilakukan daring. Tuntutannya macam-macam. Gaya kepemimpinan dinilai otoriter, UKT, fasilitas mahasiswa, keterbukaan informasi, pelayanan KTM, almamater, buku mahasiswa baru, jam malam, penggunaan fasilitas kampus, sampai proses pengangkatan rektor.

Pokoknya lengkap. Untung saja tak ditangkap KPK macam Rektor Unsoed. 

Kalau tuntutan mahasiswa dimasukkan ke menu restoran, ini sudah paket prasmanan. Banyak kali dosa rektornya.

Ada pula persoalan Kopertais diminta mahasiswa diusut. Waduh tambah lagi dosanya. Namun ini penting. Berbagai tudingan tersebut merupakan kritik dan tuntutan mahasiswa. Proses hukum terkait Kopertais masih berupa penyelidikan, bukan putusan pengadilan menyatakan Muzakki bersalah.

Drama kemudian naik kelas. Pada 22 September, Menteri Agama Nasaruddin Umar hadir di Komisi VIII DPR RI. Menag mengaku kaget dan menyebut Kemenag “kebobolan”. Katanya, mekanisme pemilihan rektor PTKN menggunakan aturan dan prosedur sama, tetapi khusus Surabaya reaksinya berbeda.

Menag meminta maaf dan berjanji menyelesaikan persoalan dalam tiga hari. Tiga hari, cak! Orang bikin mi instan saja butuh tiga menit. Kemenag diminta menyelesaikan drama rektor tiga hari.

Komisi VIII lebih serius lagi. DPR mendesak jabatan Muzakki ditangguhkan, kepemimpinan sementara diambil alih Kemenag, dan memberi waktu satu minggu. Kalau tidak selesai, Panja akan dibentuk untuk membongkar proses pemilihan dan pengangkatan rektor.

Beberapa anggota DPR juga menyoroti dugaan kejanggalan proses seleksi. Ada informasi nama Muzakki sempat tidak masuk tiga besar tim seleksi lalu muncul kembali. Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin membantah adanya intervensi dan menyatakan dokumen serta prosedur telah dipenuhi.

Belum juga tiga hari berlalu, datanglah kabar paling mengejutkan. Muzakki mundur. Yeah, belum juga Menag turun, ia sudah mundur duluan. 

Menurut laporan detikJatim 23 September 2026 pukul 19.00 WIB, pengunduran diri berlaku sejak 22 September pukul 22.00 WIB. Guru Besar UINSA Prof. Imam Ghazali menyatakan sudah mengecek informasi tersebut ke Inspektorat Jenderal dan Sekjen Kemenag.

Astaga. Ini rektor apa tiket kereta ekonomi? Baru dibeli, langsung dibatalkan. Baru dilantik 15 September. Demo mulai 16 September. 22 September malam mundur. Hanya sekitar seminggu!

Kursi rektor UINSA periode 2026–2030 akhirnya seperti kursi panas di warung kopi. Belum sempat diduduki lama, pantat sudah minta berdiri.

Yang paling kasihan tentu Muzakki. Belum sempat menjalankan program empat tahun, sudah harus berhadapan dengan mahasiswa, civitas akademika, guru besar, Kemenag, DPR, penyegelan kampus, dan segala macam badai politik akademik.

DEMA UINSA kini meminta Kemenag segera menunjuk rektor definitif periode 2026–2030. Maka lengkaplah episode ini. Pelantikan ada. Demo ada. Penyegelan ada. DPR turun ada. Menag mengaku kebobolan ada. Rektor mundur juga ada.

Tinggal satu belum ada, penonton tahu siapa sebenarnya menyalakan kompor. Tapi dalam politik kampus, mencari siapa menyalakan kompor kadang lebih rumit dari mencari dosen tiba-tiba tidak masuk kelas.

Kasihan rektor. Baru datang sudah disambut demo. Baru memimpin sudah dipimpin keadaan. Baru dilantik untuk empat tahun, ternyata masa jabatannya kalah cepat dari masa orientasi mahasiswa baru. Nasibmu, Rektor UINSA.

“Bang, hebat mahasiswa ya, sekali demo, jabatan rektor terpelanting dibuatnya.”

“Memang hebat, wak. Penggantinya nanti harus lebih baik. Kalau lebih buruk, ya didemo lagi.” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

#camanewak

#jurnalismeyangmenyapa

#JYM

Editor : M. Ainul Budi
rektor uinsa rektor uinsa mundur uinsa rektor UINSA Surabaya