Dari Kebun Kedasih ke Kantong Kopi Celup

Alvioniza • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 09:32 WIB
Dr. Djoko Wahyudi, S.T., M.T.
Dr. Djoko Wahyudi, S.T., M.T.

 

RADARJEMBER – Kopi biasanya identik dengan bubuk yang diseduh menggunakan air panas. Namun, masyarakat Desa Kedasih, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, kini mencoba cara berbeda menikmati kopi lokal.

Kopi dari kawasan lereng pegunungan itu dikembangkan menjadi kopi celup (coffee tea bag). Bentuknya praktis seperti teh celup. Konsumen cukup memasukkan kantong kopi ke dalam air panas dan menunggu beberapa saat sebelum menikmatinya.

Inovasi sederhana tersebut dikembangkan bersama PKK Desa Kedasih melalui Program Desa Binaan (PDB) Smart Kopi Kedasih Universitas Panca Marga. Program yang memasuki tahun kedua ini didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026.

Program ini dikembangkan oleh tim Universitas Panca Marga yang melibatkan Dr. Djoko Wahyudi, S.T., M.T. sebagai ketua pelaksana bersama Novita Lidyana, S.P, M.M.A., Linda Kurnia Supraptiningsih, S.Pd., M.Pd. dan Dr. Amanatuz Zuhriyah, S.P, M.M.A. Tim bersama masyarakat dan PKK Desa Kedasih mendorong pengembangan potensi kopi lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Bagi masyarakat Kedasih, pengembangan kopi celup bukan sekadar membuat produk dengan bentuk berbeda. Ada upaya untuk meningkatkan nilai tambah kopi lokal sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Selama ini, kopi lebih banyak dijual dan diolah dalam bentuk kopi bubuk. Padahal, kebutuhan konsumen terus berkembang. Produk yang praktis dan mudah disajikan semakin dibutuhkan.

Kondisi itulah yang kemudian menjadi salah satu pertimbangan pengembangan kopi celup di Kedasih.

Praktis Tanpa Meninggalkan Kopi Lokal

Proses pembuatan kopi celup sebenarnya cukup sederhana. Kopi yang telah dipilih dan disiapkan kemudian digiling dengan tingkat kehalusan yang sesuai. Setelah itu, kopi dimasukkan ke dalam kantong khusus dan dikemas agar mudah digunakan konsumen.

Namun, proses tersebut tetap membutuhkan ketelitian. Takaran kopi, ukuran gilingan, pengisian kantong hingga pengemasan harus diperhatikan agar produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang konsisten.

Anggota PKK Desa Kedasih mendapatkan pelatihan dan praktik langsung dalam setiap tahapan tersebut. Mulai dari pemilihan bahan baku, penggilingan, pengisian kopi ke dalam kantong celup hingga pengemasan.

Pendampingan dilakukan dengan praktik langsung. Dengan cara tersebut, anggota kelompok tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga mencoba sendiri proses pembuatan kopi celup.

Salah satu tahap penting adalah memasukkan bubuk kopi ke dalam kantong celup. Proses ini dilakukan dengan memperhatikan takaran dan kebersihan agar produk yang dihasilkan siap dikemas dan dipasarkan.

Hasilnya, anggota PKK Desa Kedasih telah mampu memproduksi kopi celup secara mandiri. Produk tersebut menjadi salah satu bentuk diversifikasi olahan kopi yang dikembangkan dalam program tahun kedua.

Menambah Nilai Jual Kopi

Bagi petani dan masyarakat pengolah kopi, menjual hasil pertanian dalam bentuk produk olahan memberikan peluang nilai tambah yang lebih besar.

Kopi tidak berhenti sebagai hasil kebun. Setelah melalui proses pengolahan, pengemasan dan pemberian identitas produk, kopi dapat ditawarkan kepada konsumen dalam bentuk yang berbeda.

Kopi celup menjadi salah satu pilihan untuk menjangkau konsumen yang menginginkan penyajian kopi secara praktis.

Produk ini juga memiliki peluang dikembangkan sebagai oleh-oleh khas dari kawasan Kedasih. Apalagi, Desa Kedasih berada di Kecamatan Sukapura yang menjadi salah satu kawasan menuju destinasi wisata Bromo.

Kemasan yang praktis membuat produk kopi celup relatif mudah dibawa. Hal ini membuka peluang agar kopi lokal tidak hanya dinikmati masyarakat sekitar, tetapi juga diperkenalkan kepada konsumen dari luar daerah.

Dari Pelatihan Menjadi Peluang Usaha

Pengembangan kopi celup tidak berhenti pada pelatihan membuat produk. Pendampingan juga diarahkan pada pengemasan, branding dan pemasaran.

Kemasan menjadi bagian penting karena menjadi wajah pertama sebuah produk ketika sampai ke tangan konsumen. Karena itu, produk kopi celup Kedasih juga didampingi agar memiliki tampilan yang lebih menarik dan informatif.

Pemasaran digital menjadi langkah berikutnya. Produk lokal yang sebelumnya lebih banyak dikenal di lingkungan sekitar memiliki kesempatan untuk diperkenalkan melalui media sosial dan berbagai kanal pemasaran daring.

Bagi anggota PKK Desa Kedasih, kemampuan membuat produk sendiri menjadi modal penting untuk mengembangkan usaha secara bertahap.

Dari kegiatan tersebut terlihat bahwa inovasi produk tidak selalu harus menggunakan teknologi yang rumit. Memanfaatkan potensi yang sudah ada dan menyesuaikannya dengan kebutuhan konsumen juga dapat menjadi jalan untuk meningkatkan nilai ekonomi produk pertanian.

Kopi celup Kedasih menjadi salah satu contohnya.

Dari kopi yang tumbuh di kebun masyarakat, kemudian diolah, dikemas dan disiapkan menjadi produk yang lebih praktis. Harapannya, semakin banyak konsumen mengenal kopi Kedasih, semakin besar pula peluang masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari komoditas yang mereka hasilkan.

Sebab, secangkir kopi tidak hanya berbicara soal rasa. Di baliknya ada kebun, petani, pengolah dan masyarakat yang terus berupaya membuat kopi lokal memiliki nilai lebih.

Kopi Kedasih kini tidak hanya diseduh. Ia juga sedang dikembangkan menjadi peluang usaha baru bagi masyarakatnya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Desa Binaan (PDB) Smart Kopi Kedasih Tahun Kedua yang didanai DPPM Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026.

 

Editor : Alvioniza
program desa binaan Kopi