Bangkit dari Abu Semeru: Teknologi Menggerakkan Ekonomi Warga Desa Supiturang

Alvioniza • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 22:03 WIB
Dr. Judi Suharsono, S.E., Ak., M.M
Dr. Judi Suharsono, S.E., Ak., M.M

 

RADARJEMBER - Dari lahan pertanian yang terdampak erupsi hingga lahirnya usaha baru, masyarakat Desa Supiturang membangun kembali sumber penghidupan melalui teknologi, pengolahan potensi lokal, dan pendampingan perguruan tinggi.

Erupsi Gunung Semeru tidak hanya meninggalkan jejak pada bentang alam Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor pertanian, bencana juga menghadirkan persoalan ekonomi yang tidak sederhana. Sebagian lahan pertanian terdampak material vulkanik sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Akibatnya, kesempatan kerja dan pendapatan petani ikut menurun.

Kondisi tersebut mendorong hadirnya program “Pemberdayaan Ekonomi Pascabencana Berbasis Teknologi melalui Usaha Bata Ringan Nonstruktural (CLC) dan Produk Olahan Salak bagi Kelompok Tani dan PKK Desa Supiturang.” Program ini dilaksanakan oleh Universitas Panca Marga (UPM) sebagai bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam mendampingi dan memperkuat kemandirian masyarakat Desa Supiturang sebagai desa binaan.

Pelaksanaan program ini mendapat dukungan melalui program Hibah Pengabdian Kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi skema Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) tahun 2026, serta dengan dukungan pendanaan dari Universitas Panca Marga. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong penerapan teknologi, peningkatan kapasitas masyarakat, serta pengembangan usaha produktif yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat setempat.

Program ini merupakan kolaborasi lintas keahlian yang melibatkan tim dari Universitas Panca Marga dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Tim tersebut terdiri atas Dr. Judi Suharsono, S.E., Ak., M.M., Prof. Ridho Bayuaji, S.T., M.T., Ph.D., Linda Kurnia Supraptiningsih, S.Pd., M.Pd., dan Triyan Bayu Pratama, S.P., M.P. Masing-masing anggota berkontribusi sesuai bidang keahliannya, mulai dari aspek teknis, manajemen usaha, agribisnis, hingga penguatan branding dan digitalisasi.

Dalam pelaksanaannya, tim juga didukung oleh mahasiswa Universitas Panca Marga yang turut terlibat dalam berbagai aktivitas pendampingan di lapangan. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari proses pembelajaran berbasis pengalaman sekaligus memperkuat interaksi antara perguruan tinggi dan masyarakat.

Kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi salah satu kekuatan program. Aspek teknologi, manajemen usaha, agribisnis, hingga digitalisasi dipadukan agar pemberdayaan masyarakat tidak berhenti pada pengenalan teknologi, tetapi berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang dapat dikelola secara berkelanjutan.

Dari Petani Menjadi Pelaku Usaha Baru

Salah satu fokus kegiatan diarahkan kepada Kelompok Tani Wana Semeru Lestari. Pascabencana, kelompok tani menghadapi keterbatasan dalam mengelola lahan sawah. Pengembangan usaha bata ringan nonstruktural kemudian menjadi salah satu alternatif kegiatan ekonomi yang dapat dilakukan di luar sektor pertanian.

Melalui pelatihan, penerapan teknologi tepat guna, penyusunan prosedur kerja, serta pendampingan produksi dan manajemen, kelompok tani mulai membangun unit usaha bata ringan. Hasil pelaksanaan menunjukkan terbentuknya satu unit usaha bata ringan nonstruktural dengan kapasitas sekitar 300–500 unit per hari, sekaligus membuka peluang penyerapan tenaga kerja bagi petani terdampak.

Lebih dari sekadar menghasilkan produk, proses ini menjadi bagian dari transformasi keterampilan. Petani yang sebelumnya sangat bergantung pada aktivitas di lahan mulai memiliki pengalaman baru sebagai pelaku usaha berbasis teknologi.

Salak Naik Kelas di Tangan PKK

Di sisi lain, program menyasar Kelompok PKK Desa Supiturang. Potensi salak yang masih tersedia dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah.

Melalui pelatihan pengolahan, penerapan teknologi, pengemasan, serta pendampingan manajemen usaha, anggota PKK mulai mengembangkan produk olahan salak yang lebih berorientasi pasar. Kapasitas produksi diarahkan mencapai sekitar 25–40 kilogram per bulan, dengan target sedikitnya dua produk olahan salak bernilai tambah.

Bagi anggota PKK, kegiatan ini bukan sekadar tentang mengolah buah menjadi makanan. Di dalamnya terdapat proses belajar mengenai bagaimana sebuah produk diproduksi, dikemas, diberi identitas, dihitung biaya produksinya, hingga dipasarkan.

Teknologi yang Bertemu dengan Kebutuhan Masyarakat

Keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang diterapkan. Pendekatan partisipatif menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan. Mitra dilibatkan sejak identifikasi kebutuhan, pelatihan, penerapan teknologi, hingga monitoring dan evaluasi. Kelompok tani menjalankan produksi dan pengelolaan usaha, sementara PKK terlibat dalam pengolahan serta pemasaran produk olahan salak.

Pendampingan juga diberikan pada aspek manajemen dan pemasaran. Kelompok mulai menerapkan pencatatan keuangan sederhana, perencanaan usaha, pengembangan kemasan dan identitas produk, serta memperluas pemasaran melalui pasar lokal, jejaring mitra, kegiatan desa, dan media sosial.

Dengan demikian, teknologi tidak hadir sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Teknologi ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam membangun usaha.

Ketika Pemulihan Berarti Membangun Kemandirian

Pelaksanaan program di Desa Supiturang memperlihatkan bahwa pemulihan pascabencana dapat dilakukan melalui pendekatan yang lebih dari sekadar bantuan. Ketika masyarakat mendapatkan akses terhadap pengetahuan, teknologi, keterampilan, dan pendampingan, potensi lokal dapat diubah menjadi kekuatan ekonomi baru.

Usaha bata ringan menjadi alternatif bagi petani yang menghadapi keterbatasan lahan, sementara pengolahan salak memberikan ruang bagi perempuan untuk mengambil peran lebih besar dalam aktivitas ekonomi keluarga dan desa. Kedua kegiatan tersebut dirancang saling melengkapi: usaha bata ringan memanfaatkan peluang kebutuhan rehabilitasi pascabencana, sedangkan pengolahan salak meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

Program ini juga sejalan dengan agenda penguatan lapangan kerja, kewirausahaan, industri kreatif, dan pembangunan infrastruktur sebagaimana tercermin dalam Asta Cita, sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian SDGs, terutama penguatan sumber pendapatan masyarakat dan pengurangan kerentanan ekonomi pascabencana.

Pada akhirnya, kisah Desa Supiturang bukan hanya tentang bagaimana masyarakat menghadapi dampak erupsi Gunung Semeru. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah komunitas belajar untuk beradaptasi.

Dari lahan yang belum sepenuhnya pulih, lahir peluang usaha baru. Dari komoditas lokal, muncul produk bernilai tambah. Dan dari kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat, tumbuh keyakinan bahwa teknologi akan memiliki arti ketika benar-benar mampu menjawab kebutuhan manusia.

Bangkit dari bencana bukan sekadar kembali seperti semula. Bangkit berarti menemukan cara baru untuk menjadi lebih tangguh, mandiri, dan siap menghadapi masa depan.

 

Editor : Alvioniza
ABU SEMERU Ekonomi