Nakhoda di Balik Quattrick LKS Dikmen:
Menakar Kepemimpinan Transformatif Kadisdik Jawa Timur
Oleh: Dr. Daris Wibisono Setiawan, S.S., M.Pd., D.PEd, Kepala SMK Negeri 3 Bondowoso.
Sejarah kembali terlukis dengan tinta emas bahwasannya Jawa Timur menjadi provinsi pertama di Indonesia yang mencatatkan rekor kemenangan beruntun paling banyak dalam sejarah kompetisi vokasi tingkat nasional yang awalnya dulu bernama Lomba Kompetensi Siswa (SMK) dan sejak tahun 2025 telah berkembang menjadi inklusif menjadi LKS Dikmen (Pendidikan Menengah), di mana siswa SMA/MA juga bisa mengikutinya. Kemenangan empat kali beruntun menjadi juara umum tersebut di awali pada LKS SMK Nasional XXXI tanggal 23-28 Oktober 2023 dan menorehkan quattrick pada LKS Dikmen XXXIV tanggal 27 Juli hingga 1 Agustus 2026 di Jakarta. Tentunya menjadi kado terindah 100 hari kerja sang nahkoda Dinas Pendidikan Jatim yang bernama Dr. Aries Agung Paewai, S.STP., M.M. Rupanya selaras dengan wasiat Lao Tzu “The journey of a thousand miles begins with one step”.
Capaian fantastis empat tahun tanpa tanding di atas menggelitik penulis untuk menelisik lebih dalam apa yang beda dari model kepemimpinan dari sang nakhoda Dinas Pendidikan Jatim tersebut. Sebagai pemimpin, kepala dinas Pendidikan tentu saja merupakan subjek yang harus melakukan transformasi kepemimpinannya melalui bimbingan, tuntunan dan pemberdayaan kepada seluruh komunitasnya, dalam berperan secara kolaboratif. Rupanya, model kepemimpinan transformasional merupakan salah satu pilihan sang nahkoda dalam memimpin dan mengembangkan Pendidikan di Jatim karena gaya kemimpinan transfomasional tersebut mampu meningkatkan motivasi, komitmen, dan produktivitas anggota organisasi (Kumar Dubey et al., 2023).
Faktanya, mempertahankan gelar juara bertahan dari sebuah ajang super dahsyat dan super kompetitif level nasional bukanlah perkara mudah. Namun, selalu konsisten mendominasi dan mengunci gelar juara umum LKS Dikmen secara beruntun hingga mencapai predikat quattrick jelas bukan lagi sekadar faktor keberuntungan. Capaian gemilang ini adalah sinyal terang benderang bahwa ada mesin ekosistem yang bekerja dengan presisi tinggi di balik layar di bawah kendali sang nahkoda dengan kepemimpinan transformatifnya.
Mesin ekosistem itu adalah 24 Cabang Dinas Pendidikan dari Pacitan hingga Banyuwangi yang bergerak berdampak, yang terinspirasi sang nahkoda sehingga mereka tergerak dengan tanpa lelah membangun fondasi sejak lama dari ruang-ruang kelas, di bengkel praktik, pada setiap aksi guru melakukan pembinaan yang tak selalu terlihat kamera, namun dari situlah nyala api kemenangan itu dibangun. Maka, pada kesan pertama yang selalu terucap dari sang nahkoda saat di podium menerima penghargaan adalah “ini buah kerja keras dan kerja cerdas semua pihak”, karena pada sebuah penerimaan apresiasi, satu kata terjelek adalah saya, dan satu kata terbaik adalah kita. Di sini terliihat seperti yang disampaikan Stephen P. Robbins (2017), bahwasannya seorang pemimpin yang menginspirasi pengikutnya untuk mengesampingkan kepentingan mereka sendiri dan memiliki kapasitas untuk memiliki pengaruh yang mendalam dan luar biasa pada mereka menggunakan gaya kepemimpinan transformasional.
Ada pomeo yang mengatakan bahwasannya teladan mengalahkan jutaan arahan benar adanya, dan dibayar tuntas oleh sang nahoda yang berhasil menerima Anugerah Best Innovation Leader Jatim 2023 oleh TIMES Indonesia dalam kategori Inovasi Pengembangan SMK Berprestasi. Inovasi tersebut meliputi; Pengembangan kurikulum SMK yang lebih relevan dengan kebutuhan industri, Peningkatan kualitas dan kompetensi guru dan tenaga kependidikan SMK, Peningkatan sarana dan prasarana SMK, dan Peningkatan akses pasar lulusan SMK menjadi bukti nyata bahwasannya proses tidak akan mengkhianati hasil. Tidak hanya itu, sang nahkoda juga telah memberikan dampak positif bagi pengembangan SMK di Jawa Timur, di mana jumlah SMK PK di Jawa Timur dari 100 SMK pada tahun 2021 menjadi 200 SMK pada tahun 2023.
Langkah strategis dalam rangka menginspirasi semua guru dan tenaga kependidikan, maka sang nahkoda tersebut meluncurkan pogram GEMPITA Jatim (Gelar Mutu Prestasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan) pada tahun 2024, sebuah ajang apresiasi untuk mendorong inovasi guru dan tenaga kependidikan yang pada perkembangannya berubah menjadi EJIES Jatim (East Java Innovative Education Summit) dan menjadi ajang tahunan hingga sekarang. Langkah cerdas ini selaras dengan yang disampaikan Judge & Piccolo menemukan korelasi bermakna antara kepemimpinan transformasional dengan kinerja kelompok dan organisasi (Deng et al., 2023). Korelasi ini menunjukkan bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya bergantung pada struktur birokrasi, tetapi juga pada bagaimana pemimpin mampu menginspirasi dan memberdayakan anggotanya dalam menciptakan inovasi.
Sebagai pemimpin yang konsisten menggunakan model kepemimpinan transformasinal, peningkatan mutu pendidikan menjadi komitmen Dinas Pendidikan Jatim dalam mengakselerasi peningkatan kualitas dan prestasi pendidikan di seluruh wilayah. Salah satu upaya yang diwujudkan adalah mendorong kepala SMA/SMK dan SLB memiliki jiwa kepemimpinan transformasional. Kepada kepala sekolah, sang nahkloda selalu menggarisbawahi bahwasannya kepala sekolah harus memiliki jiwa kepemimpinan transformasional. Artinya, kepala sekolah harus menjadi motor penggerak inovasi di sekolah masing-masing, mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, serta menciptakan iklim belajar yang inspiratif bagi siswa dan guru. Juga kepada guru sebagai ujung tombak Pendidikan, di mana kualitas lulusan sangat bergantung pada bagaimana guru mengajar, mendidik, membimbing, dan menginspirasi murid. Aksi nyata inspiratiif tersebut tentunya selaras dengan gaya memimpin yang berfokus pada perubahan positif melalui empat pilar utama: pengaruh ideal, motivasi inspirasional, dan stimulasi intelektual sesuai dengan tipe kepemimpinan transformasional yang diwariskan Bernard M. Bass (2006).
Ratusan kata yang terangkai menjadi kalimat di atas tentunya sangat jauh dari porsi ideal untuk bisa mendeskripsikan secara detail model kepemimpinan transformatif sang nahkoda yang begitu inspiratif. Akhirnya, semua pelaku dan pemerhati pendidikan sepakat bahwa pencapaian quattrick LKS Dikmen melampaui sekadar rentetan medali. Capaian ini adalah manifestasi dari kepemimpinan yang mampu menggerakkan sistem secara efektif, membangun kepercayaan diri para peserta didik, dan menyatukan seluruh elemen pendidikan dalam satu ritme perjuangan yang sama. Dengan fondasi pembinaan yang solid dan kepemimpinan transformatif yang terus berfokus pada inovasi, Jawa Timur tidak hanya siap mempertahankan tradisi juara, tetapi juga terus melahirkan generasi emas berkualitas dan berkarakter untuk Indonesia Emas.
Editor : M. Ainul Budi