Kejagung Didemo, Minta Febrie Ditangkap, Disembunyikan atau Dilenyapkan

M. Ainul Budi • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 16:53 WIB
Kejagung Didemo, Minta Febrie Ditangkap, Disembunyikan atau Dilenyapkan
Kejagung Didemo, Minta Febrie Ditangkap, Disembunyikan atau Dilenyapkan

RADAR JEMBER - Sampai saat ini, keberadaan Febrie menjadi misterius. Kejagung sampai didemo, tetap tak terlihat batang hidungnya. Apakah sengaja disembunyikan, atau jangan-jangan dilenyapkan, ups. Silpester saja lenyap, apalagi sekelas Febrie. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Jakarta hari ini bukan sekadar panas karena matahari, tapi karena drama hukum yang meledak seperti bom Iran menghantam pangkalan militer As. Nuan bayangkan, ribuan mahasiswa berteriak di depan Gedung Kejaksaan Agung, ban-ban dibakar seperti pesta barbeque politik, spanduk direbut aparat, jalanan macet, dan orasi bergema. “Tangkap Febrie! Tangkap Febrie!” Seolah-olah Kejagung berubah jadi panggung konser rock, dengan polisi sebagai bodyguard dan mahasiswa sebagai penonton yang ngamuk karena idolanya mangkir.  

Semua bermula dari penggeledahan rumah Febrie Adriansyah di Sentul, Bogor. Dari brankas mewahnya, aparat menemukan 74 kilogram emas batangan, bukan emas imitasi, bukan kaleng biskuit, tapi emas asli yang diuji Pegadaian. Ditambah uang asing: Rp 100 juta, USD 4,767,300, dan SGD 14,083,800. Totalnya? Sekitar Rp 476 miliar. Publik pun ngakak getir, “Indonesia emas, tapi emasnya di rumah Febrie.” Visi Indonesia Emas 2045 mendadak jadi meme nasional, bukan cita-cita mulia, melainkan sindiran pedas, emas justru tersimpan di koper pejabat.  

Kejagung mencoba tampil gagah. Mereka menerbitkan tiga sprindik untuk kasus Krakatau Steel, PLTU PLN blackout, dan ASABRI. Mereka membentuk “Tim 9” berisi jaksa senior, sebagian eks-KPK, seolah-olah Avengers versi hukum. Mereka menerima pengunduran diri Febrie dari jabatan Jampidsus pada 11 Juli 2026, dengan alasan menjaga integritas. Kapuspenkum Anang Supriatna berkata lantang, “Keputusan mundur adalah komitmen menjaga netralitas.” Jamwas Rudi Margono menolak tudingan pelimpahan cacat hukum. Semua terdengar resmi, tapi di jalanan mahasiswa tetap berteriak, karena bagi publik, integritas bukan sekadar kata-kata.  

Lalu, di mana Febrie sekarang? Nah, ini bagian paling epik sekaligus absurd. Ia belum ditahan, masih bebas berkeliaran, tapi mangkir dari panggilan Kejagung. Pada 22 Juli 2026 ia tidak hadir dengan alasan sakit. Pada 24 Juli 2026, ia kembali mangkir dari pemeriksaan di Gedung Bundar. Pengacaranya, Hotman Paris, menolak mengungkap lokasi Febrie dengan alasan etika, lalu mundur sebagai kuasa hukum karena alasan kesehatan. 

Kejagung menegaskan jika Febrie terus mangkir, akan dilakukan pemanggilan paksa sesuai Pasal 28 KUHAP. Publik pun berspekulasi liar, apakah ia sengaja dibiarkan, dilindungi, atau bahkan dilenyapkan. Faktanya, ia masih hidup, hanya keberadaannya tidak diumumkan ke publik.  

Sementara itu, di depan Kejagung, mahasiswa membakar ban, polisi menyemprot air, spanduk direbut, jalanan macet, dan orasi makin keras. “Febrie jangan sembunyi di sini!” teriak massa. Situasi berubah jadi tontonan epik. Aparat berusaha menjaga ketertiban, mahasiswa berusaha menjaga idealisme, dan publik di media sosial menjaga humor dengan meme satir.  

Kisah ini adalah opera hukum penuh ironi. Dari penggeledahan rumah di Sentul dengan temuan emas 74 kg, pengunduran diri dari jabatan Jampidsus, demo mahasiswa membakar ban di depan Kejagung, hingga misteri keberadaan Febrie yang mangkir dari pemeriksaan, semuanya memperlihatkan betapa tajam sorotan publik terhadap integritas penegakan hukum. “Indonesia emas” kini bukan sekadar slogan, melainkan punchline nasional. Emasnya bukan di tambang, bukan di rakyat, tapi di brankas seorang pejabat yang sedang diperiksa. Di jalanan Jakarta, mahasiswa menjadikan ironi itu bahan bakar untuk api demonstrasi.  

“Bang, infonya si Febrie menyimpan rahasia korupsi para elite di negeri ini. Benarkah?”

“Saya yakin, wak. Cuma, takut aja dituduh Londo Ireng. Rahasia yang dipegang Febrie itu bisa mengguncang negeri ini. Begitu semua rahasia itu diamankan, barulah Febrie dijebloskan. Biasanya gitu sih.” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

Editor : M. Ainul Budi
kasus jampidsus demo kejagung jampidsus Febri Adriansyah