Final Piala Dunia, 22 Orang Mengejar Bola, UMKM Mengejar Cuan

M. Ainul Budi • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 19:19 WIB
Final Piala Dunia, 22 Orang Mengejar Bola, UMKM Mengejar Cuan
Final Piala Dunia, 22 Orang Mengejar Bola, UMKM Mengejar Cuan

RADAR JEMBER - Pasti sudah tidak sabar menyaksikan laga final Argentina vs Spanyol pukul 02.00 dini hari nanti. Apalagi saya. Cuma, bingung mau nobar di mana yang ramai dengan UMKM-nya juga. Nonton sambil ngemil. Sekarang mau bahas, apakah aksi Messi vs Yamal berpengaruh ada UMKM? Simak ulasannya sambil seruput Koptagul, wak!

Kalau alien turun ke Indonesia malam ini, mereka pasti bingung. Di stadion final Piala Dunia yang main Argentina lawan Spanyol. Tapi yang macet justru Pontianak, Jakarta, Bengkulu, Kupang, sampai Sanggau. Mereka mungkin akan menyimpulkan satu hal, Indonesia pasti masuk final. Sayangnya, setelah dicek FIFA, yang masuk final tetap Argentina dan Spanyol. Indonesia hanya masuk final... urusan nobar.

Beginilah negeri ini. Tidak punya wakil di Piala Dunia, tapi semangatnya seperti pemilik turnamen. Yang lebih hebat lagi, kita berhasil menemukan rumus ekonomi yang mungkin bikin para profesor Harvard mendadak minta kuliah di warung kopi. Rumusnya sederhana, 22 orang mengejar bola, jutaan UMKM mengejar pembeli.

TVRI yang dulu sering dijadikan bahan candaan karena dianggap "televisi peninggalan dinosaurus", mendadak berubah menjadi Avengers versi penyiaran. Mereka menyiarkan 104 pertandingan secara gratis. Gratis! Di negeri yang kadang parkir motor lima menit saja sudah kena tarif, menonton Piala Dunia tanpa bayar terasa seperti menemukan durian isi emas.

Efeknya? Jangan tanya. Survei Lokadata mencatat 78,1 persen masyarakat Indonesia mengikuti nobar sedikitnya satu kali selama Piala Dunia. Itu bukan lagi nobar. Itu migrasi manusia terbesar setelah mudik Lebaran. Orang keluar rumah membawa kursi plastik, tikar, termos kopi, dan semangat yang lebih menyala daripada lampu stadion.

Rata-rata setiap orang menghabiskan Rp51 ribu setiap kali nobar. Ada yang bilang, "Ah, cuma lima puluh ribuan."

"Cuma?" Kalikan jutaan orang. Kalikan lagi puluhan pertandingan. Hasil kajian Kadin menyebut uang yang berputar mencapai Rp5,03 triliun. Lima koma nol tiga triliun! Angka sebesar itu cukup membuat mesin penghitung uang masuk ruang ICU karena kelelahan. Bahkan dompet yang biasanya kurus mendadak punya pipi.

Yang paling bahagia tentu sektor hotel, restoran, dan kafe. Mereka menikmati sekitar Rp2,4 triliun. Semua berawal dari satu pertanyaan sakral. "Mau nambah Koptagul?" Ternyata sejarah ekonomi Indonesia bisa berubah hanya karena orang haus setelah penalti.

Selama ini UMKM sering dipaksa lari maraton melewati pagar-pagar birokrasi. Urus izin, urus pajak, urus administrasi, urus fotokopi KTP, mungkin sebentar lagi diminta surat keterangan dari mantan pacar.

Eh, giliran Piala Dunia datang, Kementerian Hukum justru memberikan izin dan menggratiskan lisensi nobar bagi UMKM dan komunitas yang memenuhi syarat non-komersial. Non-komersial, katanya.

Silakan tanya pedagang bakso di depan lokasi nobar. "Pak, jualannya buat amal?" "Bukan, buat bayar cicilan." Semua langsung paham.

TVRI Sumatera Selatan menghadirkan 18 UMKM dalam acara nobarnya. Untuk final malam ini jumlahnya naik menjadi 29 UMKM. Mereka tahu satu gol dramatis bisa membuat sepanci bakso langsung pensiun terhormat. Tendangan bebas bukan hanya mengancam gawang lawan, tetapi juga mengancam stok gorengan.

Di Nusa Tenggara Timur tercatat ada 221 titik nobar resmi. Dua ratus dua puluh satu! Saking banyaknya, kalau setiap layar disusun berjajar mungkin bisa membuat satelit bingung membedakan mana bumi dan mana stadion.

Di Bengkulu terdapat lebih dari 120 titik nobar, sampai ke Polsek Enggano di pulau terpencil. Luar biasa. FIFA mungkin belum pernah menginjak Enggano, tetapi Enggano sudah lebih dulu menyaksikan final Piala Dunia.

Sepak bola memang ajaib. Sinyal internet boleh putus. Listrik boleh kedip. Tetapi teriakan "Gooool!" selalu menemukan jalannya.

Kalimantan Barat juga tidak mau kalah. Di halaman Kantor Gubernur, ribuan orang berkumpul malam ini bersama bazar UMKM dan hadiah-hadiah menarik. Di Sanggau, bupati bahkan ikut menyiapkan makanan dan minuman ringan.

Nuan bayangkan. Di negara lain kepala daerah sibuk meresmikan jalan. Di sini kepala daerah ikut memastikan rakyat tidak nonton bola dalam keadaan lapar. Kalau ekonomi bisa tersenyum, mungkin malam ini ia sedang tertawa ngakak.

Jakarta, Lapangan Banteng. Bekasi, Plaza Patriot Candrabhaga. Bandung, Yogyakarta, Bali, NTB. Semua berubah menjadi lautan manusia. Ironisnya, bangsa yang tiap hari mengeluh ekonomi sedang susah justru mampu menciptakan perputaran uang Rp5,03 triliun hanya dengan menonton pertandingan negara lain.

Kita belum bisa mencetak gol di Piala Dunia. Tetapi kita sudah jago mencetak omzet.

Anggota Komisi VII DPR RI pun meminta pemerintah daerah terus bersinergi dengan UMKM memanfaatkan euforia ini. Kali ini sulit membantah. Sebab setiap peluit pertandingan berbunyi, ada pedagang yang membawa pulang rezeki. Ada keluarga yang dapurnya tetap mengepul. Ada anak sekolah yang uang jajannya berasal dari semangkuk bakso yang laku karena Lionel Messi atau Lamine Yamal menggiring bola.

Jadi malam ini jangan cuma fokus melihat siapa yang mengangkat trofi. Lihat juga tukang kopi yang termosnya kosong. Lihat penjual sate yang kipasnya nyaris patah. Lihat pedagang gorengan yang wajahnya lebih bersinar dari lampu stadion.

Karena di Indonesia, Piala Dunia bukan sekadar pesta sepak bola. Ini festival nasional bernama "Operasi Besar-Besaran Menggemukkan Dompet UMKM". 

Kalau FIFA memberi penghargaan untuk negara paling heboh tanpa ikut bertanding, percayalah, trofinya sudah lama mendarat di Indonesia.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
#camanewak

 

Editor : M. Ainul Budi
final Piala Dunia 2026 spanyol vs argentina umkm piala dunia Jadwal Piala Dunia