RADAR JEMBER - Gelar tikar lagi untuk ketiga kalinya. Drama brankas yang pindah dari cokelat tua ke cokelat muda, kian seru. Barang bukti sudah segunung. Anehnya, belum ada tersangka. Atau, memang tidak ada tersangkanya. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Kalau kasus ini disiarkan langsung di stadion, rating-nya mungkin mengalahkan laga perempat final Piala Dunia antara Prancis melawan Maroko nanti pagi. Bedanya, kalau di lapangan bola kita tahu siapa striker, siapa bek, siapa wasit. Bahkan siapa tukang semprot rumput. Lah, di drama Brankas Cipete ini, bolanya sudah masuk gawang berkali-kali, skor sudah terpampang 476 miliar plus Rp67,2 miliar di papan elektronik. Tapi, daftar pemain inti masih bertuliskan, "sedang diverifikasi."
Rakyat sudah telanjur gelar tikar depan televisi. Koptagul mengepul dari gelas. Gorengan tinggal remah. Semua siap menyaksikan laga akbar bertajuk Cokelat Muda FC versus Cokelat Tua United. Kick-off dimulai dengan Barracuda meluncur gagah, Brimob turun bak lini belakang Prancis yang tak memberi ruang sedikit pun. Penyidik menyerbu 12 titik penggeledahan seolah sedang menerapkan strategi gegenpressing. Brankas dibuka. Duit berhamburan. Emas batangan 74 kilogram muncul dari rumah Sentul seperti pemain pengganti baru masuk menit ke-90 tetapi langsung mencetak hattrick.
Penonton berdiri. Komentator sampai serak. "Gooool... barang bukti lagi!" Lima menit kemudian..."Gooool... emas lagi!" Tidak lama..."Gooool... Valas lagi!" Skor sementara di papan, Barang Bukti 543 Miliar, Tersangka 0.
Ini laga paling ajaib sepanjang sejarah. Tim barang bukti menang telak 543-0 atas tim tersangka. Bahkan VAR pun kebingungan mencari pemain lawan.
Lucunya, setiap konferensi pers terdengar seperti komentator sepak bola sedang menunggu injury time. "Masih dikembangkan..."
Kalimat itu sekarang sudah seperti tambahan waktu 45 menit plus 45 menit plus 45 menit. Tidak selesai-selesai. Kalau terus begini, FIFA mungkin akan mengadopsinya. Pertandingan selesai kalau penyidikan sudah "cukup berkembang."
Di tribun penonton, netizen mulai teriak-teriak seperti fans Mesir meneriaki wasit. “Mana tersangkanya...? Mana tersangkanya...?" Sementara aparat menjawab dengan gaya pelatih seusai kalah. “Kami fokus pertandingan berikutnya."
Secara hukum tentu semua harus dihormati. Menetapkan tersangka memang membutuhkan alat bukti yang cukup, pemeriksaan saksi, penelusuran aliran dana, analisis dokumen, hingga pembuktian yang matang. Tidak bisa asal tunjuk. Itu memang prinsip negara hukum.
Tetapi rakyat juga manusia. Kalau sudah melihat uang bertumpuk hampir Rp67,2 miliar di Cipete, ditambah emas 74 kilogram dan aset valas sekitar Rp476 miliar dari Sentul, naluri mereka otomatis berubah menjadi komentator sepak bola. "Wasit... kok belum ada kartu merah?"
Drama makin seru ketika rumah Jampidsus Febrie Adriansyah dijaga personel TNI. Penjelasan resmi menyebut pengamanan itu dilakukan atas permintaan Kejaksaan Agung sesuai Perpres Nomor 66 Tahun 2025 tentang perlindungan jaksa. Tidak berkaitan dengan penggeledahan Polri. Penjelasan itu sah dan harus dihormati. Namun netizen +62 memang memiliki bakat alamiah merangkai teori konspirasi lebih cepat dari Kylian Mbappé menggiring bola.
Yang paling lucu justru pertanyaan penutup dari rakyat. “Nanti semua barang bukti segunung ini disimpan di mana?" Kaum optimistis menjawab mantap, "Di tempat penyimpanan resmi negara." Kaum satir menyeruput koptagul pelan-pelan sambil tersenyum tipis.
"Mudah-mudahan jangan disimpan di balik lemari lagi. Soalnya kalau tahun depan ada penggeledahan, jangan-jangan kita menemukan brankas baru yang isinya... ya brankas lama."
Tentu itu hanya satire. Sebab sampai hari ini penyidikan masih berjalan dan belum ada satu pun pihak yang ditetapkan sebagai tersangka. Namun satu hal sudah pasti. Pertandingan Prancis vs Maroko nanti pagi mungkin hanya berlangsung 90 menit. Sedangkan Drama Brankas Cipete? Sepertinya siap masuk babak tambahan waktu, adu penalti, bahkan musim kedua.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar