RADAR JEMBER - Wakil Asia, Jepang tersingkir usai dihajar Brazil 1-2. Terus terang, sedih. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
NRG Stadium Houston menjadi saksi. Jepang datang membawa semangat samurai dan karate, disiplin. Brasil hadir dengan samba dan capoeira, bergerak lentur seperti politisi menjelang pemilu.
Dipimpin Maurizio Mariani asal Italia, laga langsung panas. Maklum, sama-sama ingin menang.
Baru menit ke-12, Kaishu Sano sudah mendapat kartu kuning. Dua menit kemudian Casemiro ikut dikartu kuningi. Mariani tampaknya ingin memastikan laga berjalan tertib seperti sidang parlemen, meski sesekali ricuh.
Menit ke-29, samurai menikam lebih dulu. Goool. Kaishu Sano meliuk-liuk melewati pemain Brasil seperti pendekar yang baru minum tiga cangkir kopi hitam. Dari luar kotak penalti, ia melepaskan tembakan ke sudut kanan bawah gawang.
Alisson hanya bisa menatap seperti rakyat yang mendengar janji "harga kebutuhan pokok pasti turun" untuk kesekian kalinya.
Skor berubah menjadi 0-1.
Pendukung Jepang langsung berpesta. Media sosial dipenuhi gambar samurai, anime, dan meme katana. Ada yang mulai membahas peluang juara, ada pula yang sudah menganggap samba tinggal sejarah.
Brasil tampak seperti grup musik yang kehilangan penabuh gendang.
Babak pertama ditutup kartu kuning Daichi Kamada pada menit ke-45. Jepang unggul 1-0 dan samurai sedang tersenyum lebar.
Masuk babak kedua, Carlo Ancelotti seperti menteri yang melakukan reshuffle kabinet demi menyelamatkan elektabilitas. Lucas Paqueta cedera pada menit ke-46 dan digantikan Endrick.
Menit ke-48 Danilo mendapat kartu kuning. Brasil makin panas seperti kolom komentar politik menjelang pemilu.
Menit ke-52 Bruno menyundul bola, tetapi Zion Suzuki berubah menjadi tembok beton bertulang campuran vibranium. Menit ke-54 Casemiro hampir mencetak gol, namun pertahanan Jepang masih kokoh seperti koalisi yang baru dibentuk seminggu sebelum pendaftaran.
Namun samurai ternyata tak kebal terhadap irama samba.
Menit ke-56, gawang Suzuki jebol. Gabriel mengirim umpan silang, Casemiro datang menyundul bola masuk ke atap gawang.1-1.
NRG Stadium Houston langsung meledak. Pendukung Brasil berteriak seperti baru mendengar harga Pertamax turun. Ada melompat, ada memeluk orang asing, bahkan mungkin ada yang memeluk kursi stadion karena terlalu bahagia.
Jepang melakukan pergantian demi pergantian pada menit 66 dan 78. Hajime Moriyasu seperti kepala daerah yang terus mengganti staf berharap masalah selesai sendiri.
Menit ke-84, Junnosuke Suzuki mendapat kartu kuning. Samurai mulai kehilangan ketajaman. Karate mulai melambat. Sebaliknya capoeira semakin menemukan iramanya.
Lalu tibalah menit yang membuat pendukung Jepang ingin menonaktifkan media sosial selama seminggu.
Menit 90+5. Bruno mengoper kepada Gabriel Martinelli. Sang penyerang menerima bola, menembak, bola memantul melewati bagian bawah tiang kanan. Goool. 2-1!
Stadion berguncang seperti sidang parlemen yang tiba-tiba membahas gajah di Lampung.
Yang paling heboh ternyata bukan cuma di Houston. Fans Brasil di Indonesia ikut kehilangan akal sehat untuk sementara.
Warkop di Pontianak, Bandung, Makassar, hingga Bekasi berubah menjadi Kedutaan Besar Samba Republik Indonesia. Kopi tumpah, gorengan beterbangan, kursi plastik bergeser. Ada memeluk dispenser galon, ada mencium televisi, bahkan ada membangunkan tetangga sambil berteriak, "Samurai pulang! Samba lanjut!"
Grup WA pecinta Brasil mendadak seperti konser musik. Stiker Ronaldinho beterbangan, meme Ronaldo bermunculan. Sementara admin grup kewalahan karena ribuan pesan masuk hanya berisi satu kalimat, Goool Brazilll.
Sebaliknya, kubu Jepang mendadak sunyi seperti rapat politik kehilangan sponsor. Yang tadi mengangkat samurai setinggi Gunung Fuji kini hanya bisa berkata, "Ini bagian dari proses."
Peluit panjang Maurizio Mariani akhirnya berbunyi. Brasil menang 2-1. Samurai tumbang. Karate dikalahkan capoeira. Jepang tersingkir.
Sepak bola kembali mengajarkan satu hal. Jangan pernah menganggap Brasil selesai sebelum musik samba berhenti. Mereka seperti politisi senior, saat survei turun dan pendukung mulai cemas, tahu-tahu muncul di menit akhir membawa pidato kemenangan, kembang api, dan pesta sampai subuh.
Ntar lagi tim unggukan saya, Belanda menghadapi wakil Afrika, Maroko. Mudahan menang. Siapkan dulu Koptagul dan pisgor srikaya.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar