RADAR JEMBER - Kurang ajar betul para dukun statistik voli Asia. Masa Indonesia cuma dikasih jatah menang 40 persen. Sementara Korea Selatan dipoles jadi calon pengantin juara dengan angka 60 persen. Seolah-olah Indonesia ini cuma pendekar silat kampung datang ke turnamen pakai sandal swallow. Sedangkan negeri si ehem Nohran turun dari bus pariwisata dengan rombongan master taekwondo, sabuk hitam berlapis-lapis, lengkap dengan kipas angin dan musik dramatis ala BlackPink.
Padahal olahraga itu lebih susah ditebak dari isi hati Nanik S Deyang. Hari ini ranking 24 dunia, besok bisa pulang sambil membawa oleh-oleh kekalahan. Bola voli memang tidak bulat sempurna, tapi nasib laga itu lebih bulat dari dua bakso blackmamba. Bisa menggelinding ke mana saja.
Pasukan coach Toiran menuju final AVC Men's Cup 2026 bukan naik lift VIP. Kita naik tangga darurat sambil menggendong tabung gas tiga kilogram. Bahkan sempat kehabisan napas di lantai tiga.
Semifinal melawan India seperti sinetron ditulis penulisnya sambil minum lima gelas kopi. Set pertama Indonesia kalah 15-25. Saat itu rasanya seperti pendekar silat datang ke arena, tetapi lupa membawa celana latihan. India begitu perkasa. Penonton India dimotori Kajol sudah senyum-senyum seperti emak-emak dapat promo minyak goreng.
Namun Boy Arnez cs tiba-tiba mengeluarkan jurus "Gajah Lampung Menolak Pensiun". Menang 26-24. Lalu 25-20. India balas lagi 25-19. Drama makin tegang. Jantung penonton Indonesia berubah fungsi menjadi mesin diesel. Sampai akhirnya Timnas menang 15-12. Uncle Muthu ca mungkin masih bingung sampai sekarang, apakah mereka sedang main voli atau menjadi penjual nasi biryani.
Perjalanan Farhan Halim cs di fase grup juga mirip kisah mahasiswa akhir bulan. Awalnya menangis, lalu mendadak kuat mungkin minum jamu kubu bima kali.
Indonesia dihajar Korsel 0-3 dengan skor 22-25, 22-25, 21-25. Tenang, anak muda ngalah dulu.
Kalah itu seperti murid silat baru masuk padepokan, lalu langsung ditendang guru taekwondo sampai nyaris mendarat di parkiran.
Tetapi setelah itu Boy cs bangkit. Qatar ditumbangkan 3-2. Thailand dibejek-bejek 3-2. Oman digeprek 3-1.
Timnas berubah dari kucing kehujanan menjadi harimau yang baru sadar dirinya punya taring.
Sementara Nohran, eh salah, Korsel berjalan menuju final seperti orang sudah booking kursi bioskop dari seminggu lalu. Santai, percaya diri, dan tidak panik.
Di semifinal mereka mengalahkan juara bertahan Bahrain 3-1 dengan skor 25-23, 25-22, 23-25, dan 25-20.
Mereka juara Pool B.
Pokoknya aura negeri Drakor itu seperti pelatih taekwondo yang kalau berjalan saja sudah terdengar backsound nyanyian Lisa.
Indonesia punya Boy Arnez Arabi yang sudah mengoleksi 106 poin. Boy ini kalau smash, kadang bolanya turun lebih cepat dari Kejagung menangkap gerombolan H Dadan cs.
Farhan Halim mengumpulkan 89 poin dan menjadi receive terbaik. Sayangnya punggungnya sempat cedera di semifinal. Kita doakan punggungnya malam ini berubah menjadi titanium, bukan lagi punggung manusia biasa.
Fauzan Nibras menyumbang 80 poin. Trio Boy-Farhan-Fauzan ini ibarat tiga pendekar silat yang sudah tamat membaca kitab jurus rahasia dan sekarang sedang mencari korban mlatihan.
Alfin Daniel Pratama juga sedang bersaing dengan Hwang Taek-eui dalam perebutan gelar best setter. Hwang sendiri adalah peraih best setter AVC Cup 2023. Korea juga masih memiliki Park Kyeong-min dan Lee Sang-hyeon yang pertahanannya setebal tembok rumah yang dibangun kontraktor takut kiamat.
Kalau melihat sejarah, Korea memang seperti dosen killer yang hobi memberi nilai C.
Indonesia kalah 0-3 pada AVC Nations Cup 2024. Kalah 2-3 pada Asian Championship 2023. Kalah 2-3 lagi di Asian Games 2023. Kalah 0-3 pada fase grup AVC Men's Cup 2026.
Tetapi sejarah itu seperti tagihan listrik. Bisa dicatat, tetapi tidak harus ditangisi setiap hari.
Para analis memberi Korsel peluang juara 60 persen karena pengalaman, konsistensi, rekor pertemuan, dan ranking dunia mereka yang berada di posisi 24. Timnas baru berada di posisi 48.
Namun Garuda memiliki senjata rahasia tak bisa dimasukkan ke Excel, PowerPoint, atau kalkulator Casio, nekat berjamaah.
Kalau Farhan fit, Boy sedang kesurupan semangat Garuda, Fauzan lagi panas seperti knalpot motor balap, dan receive Indonesia mampu meredam jump serve Korea, maka angka 60 persen itu bisa berubah menjadi kertas pembungkus gorengan.
Final AVC Men's Cup 2026 digelar Minggu, 28 Juni 2026 pukul 20.30 WIB di Veer Savarkar Sports Complex, Ahmedabad, India.
Laga bisa disaksikan melalui Moji TV, Vidio, dan VBTV.
So, malam ini jangan mencari duel silat lawan taekwondo di YouTube. Pertarungannya nyata. Siapkan kopi, gorengan, obat lambung, minyak kayu putih, dan nomor telepon tetangga yang punya tensimeter. Sebab kalau Boy cs menang, yang loncat-loncat nanti bukan cuma pemain, tetapi satu kampung bisa mendadak membuka padepokan silat dadakan sambil teriak, "Tuh kan, bola voli itu bulat, Wak!"
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar