RADAR JEMBER - Sebelumnya Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq pergi duluan. Saya kira ini yang terakhir. Ternyata, menyusul Novia. Bisa dikatakan ketiganya layak dianugerahi Pahlawan Anumerta KDMP. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Indonesia kembali berduka. Di tengah berbagai pidato tentang makanan bergizi, pemberdayaan rakyat, dan masa depan bangsa, satu lagi kabar duka datang menghantam nurani. Novia Rahmadhani Sihotang, gadis 25 tahun asal Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Ia meninggal dunia setelah mengikuti program pelatihan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) melalui jalur SPPI. Ia menjadi korban ketiga yang meninggal dalam rangkaian program tersebut.
Tiga korban. Tiga keluarga berduka. Tiga rumah yang berubah menjadi lautan air mata.
Semoga tidak ada lagi yang buru-buru menghitung persentase lalu berkata, "Ah, cuma 0,0006 persen." Sebab bagi keluarga yang kehilangan, satu nyawa bukan angka statistik. Satu nyawa adalah seluruh dunia.
Novia bukan siapa-siapa bagi sebagian besar dari kita. Ia bukan pejabat. Bukan selebritas. Bukan tokoh terkenal. Ia hanya seorang anak perempuan yang berangkat membawa mimpi. Anak kelima dari enam bersaudara itu lulus dari Hukum Ekonomi Syariah UIN Padangsidimpuan dan memiliki keinginan sederhana, mengabdi dan membangun desa.
Ia berangkat ke Jakarta dengan semangat besar. Di media sosial profesionalnya, ia pernah menulis, "Life must be balance." Kalimat yang kini terasa begitu menyakitkan untuk dibaca kembali. Seolah takdir sedang memainkan ironi paling kejam.
Beberapa hari sebelum meninggal, Novia masih sempat menelepon ibunya, Tiur Sihombing. Tidak ada firasat buruk. Tidak ada tanda, percakapan itu akan menjadi yang terakhir. Tidak ada menyangka, anak yang berangkat dengan langkah penuh harapan akan pulang dalam peti jenazah.
Tuberkulosis disebut menjadi penyebab kematiannya. Penyakit yang entah bagaimana mampu melewati berbagai tahapan pemeriksaan kesehatan selama ini disebut ketat dan sesuai prosedur. Penjelasan boleh bermacam-macam. Evaluasi boleh terus dilakukan. Namun satu kenyataan tidak bisa dibantah.
Novia tetap meninggal. Keluarganya tetap kehilangan.
Di rumah duka di Jalan Sisingamangaraja, Padangsidimpuan, suasana berubah menjadi hamparan kesedihan yang sulit digambarkan. Ayahnya, Syawaluddin Sihotang, hanya mampu mengucapkan kalimat pendek yang terasa begitu berat.
"Kami sangat terkejut." Kalimat sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan kesedihan sebesar lautan.
Lebih memilukan lagi ketika ambulans tiba membawa jenazah Novia. Sang ibu tak kuasa menahan tangis.
"Viaaa... anakku... Oh Viaaa..."
Jeritan itu memecah suasana. Jeritan seorang ibu yang dunianya runtuh dalam hitungan detik. Saudara-saudaranya ikut menangis sambil memanggil nama kakak mereka yang tak akan pernah menjawab lagi.
"Kak Viaaa... kenapa cepat sekali kau pergi tinggalkan kami..."
Mungkin tidak ada pidato pejabat, tidak ada laporan keberhasilan program, dan tidak ada angka statistik yang mampu menghapus suara tangisan itu.
Malam ketika Novia dimakamkan di TPU Simarsayang, bukan hanya jasad seorang gadis muda yang dikuburkan. Yang ikut terkubur adalah harapan orang tua, kebanggaan keluarga, dan masa depan yang belum sempat berkembang.
Kini Novia Rahmadhani Sihotang dikenang sebagai "Pahlawan Anumerta KDMP Ketiga". Sebuah gelar yang terdengar megah, tetapi pasti tidak pernah diinginkan keluarganya. Sebab bagi seorang ibu, penghargaan tertinggi bukanlah gelar anumerta. Penghargaan tertinggi adalah melihat anaknya pulang ke rumah dalam keadaan hidup.
Pesan moralnya, kalau sebuah program lebih cepat menghasilkan korban dari prestasi, mungkin perlu dievaluasi bukan peserta, melainkan programnya. Sebab bagi birokrasi, satu korban mungkin hanya angka. Namun bagi seorang ibu, itu adalah seluruh dunianya yang ikut dikuburkan.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
Editor : M. Ainul Budi