RADAR JEMBER - Saya mau ngajak pengikut Partai Koptagul membaca realitas politik. Konspirasi menuju 2029. Usai Roy Suryo dan dr Tifa dilepas, Jokowi pun melakukan safari politik. Nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Jumat, 26 Juni 2026, pukul 11.00 WIB, pesawat mendarat mulus di Bandara Raden Inten II, Lampung. Tangga pesawat dibuka perlahan. Musik imajiner mulai terdengar. Kamera-kamera siaga. Burung-burung mendadak berhenti berkicau. Bahkan menurut sumber tidak mau disebutkan namanya karena memang tidak ada, cicak di dinding bandara sempat berbisik, "Waduh... episode baru dimulai."
Turunlah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Kemeja putih. Topi putih berlogo PSI pemberian Kaesang Pangarep. Topi itu langsung dianalisis lebih serius dari naskah UUD. Ada yang menghitung sudut kemiringannya, ada memperbesar fotonya sampai piksel terakhir, seolah di balik jahitan topi itu tersembunyi peta menuju Pilpres 2029.
Ratusan relawan sudah menunggu sejak pagi. Sambutannya bukan lagi seperti menyambut tokoh politik, tetapi seperti emak-emak menyambut truk minyak goreng diskon. Riuh. Heboh. Selfie bertubi-tubi. Kamera HP bekerja lembur tanpa uang makan.
Agenda resminya sederhana. Tiga hari mengunjungi lima kabupaten, yakni Lampung, Mesuji, Tulang Bawang, Pesawaran, dan Lampung Timur.
Katanya cuma silaturahmi. Silaturahmi? Hahaha... itu kata paling menegangkan dalam politik Indonesia. Kalau pejabat bilang "silaturahmi", para analis langsung begadang tiga malam. Yang satu membuka peta politik, yang lain membuka YouTube, sisanya membuka warung kopi.
Jokowi berkata dirinya ingin menjadi motivator dan meminta struktur PSI segera komplet agar menjadi mesin politik yang besar.
Nah, kata "mesin politik" inilah yang membuat kaum cocoklogi langsung kehilangan waktu tidur.
Menurut mereka, ini bukan mesin biasa. Ini mesin diesel politik. Sekali distarter, caleg bermunculan seperti jamur habis hujan.
Sekali digas, baliho tumbuh lebih cepat daripada pohon pisang. Sekali dipanaskan, grup WA ormas langsung perang argumen, kita dapat gak ya..?
Yang pegang setir? Kaesang Pangarep. Netizen langsung membayangkan PSI sedang berubah dari city car menjadi buldoser politik lengkap dengan turbo, NOS, dan knalpot racing yang suaranya terdengar sampai ruang rapat kabinet.
Belum habis orang membahas topi, sebelumnya sudah muncul Gerakan Militan Gibran Nusantara (MGN). Namanya saja sudah seperti pasukan rahasia dalam film laga.
Empat kelompok relawan, yakni Pragi, LAKI, Jargon, dan Jokman Nusantara Bersatu, melebur menjadi satu. Dalam waktu kurang dari sebulan, kepengurusan terbentuk di 38 provinsi.
Tiga puluh delapan. Kecepatannya membuat jasa ekspedisi pun minder.
Kalau bikin KTP saja kadang harus bolak-balik, ini malah organisasi sudah sampai seluruh Indonesia sebelum netizen selesai berdebat soal font pada spanduk.
Ketua MGN, Andi Azwan menegaskan, instruksinya adalah mendukung Prabowo-Gibran dua periode. Nah, di sinilah sinetron politik Indonesia naik kelas menjadi film multiverse.
Di episode pagi mendukung dua periode. Siangnya muncul isu pengkhianatan. Sorenya bikin konferensi pers. Malamnya netizen membuat 4.000 utas teori yang panjangnya mengalahkan rel kereta Whoosh.
Lalu datang episode yang lebih dramatis lagi.
Pada Senin, 22 Juni 2026, Roy Suryo dan dr. Tifa, tersangka kasus dugaan fitnah ijazah Jokowi, tidak ditahan. Mereka hanya diwajibkan lapor seminggu sekali setelah berkas tahap dua dilimpahkan. Padahal mereka sempat mengenakan rompi oranye dan barang bukti yang diserahkan mencapai 714 item, dokumen, buku, telepon genggam, flash disk, tautan, hingga video.
Pendukung Jokowi langsung seperti penonton sepak bola melihat wasit meniup peluit lalu membatalkan gol karena ada kupu-kupu lewat.
Andi Azwan menyebutnya anomali. Netizen menganggap kata "anomali" terlalu sederhana.
Mereka menggantinya menjadi, "Plot twist level Marvel bertemu sinetron azab."
Tokoh relawan Fritz Alorboy menyebut Prabowo berkhianat. Sekjen Peradi Bersatu, Ade Darmawan, menyebut ada diskriminasi terhadap Jokowi.
Sementara dr. Tifa justru mengucapkan terima kasih kepada Prabowo atas andil dalam penangguhan penahanannya.
Nah, di titik ini server teori konspirasi langsung overheat. Asapnya keluar dari telinga para analis dadakan. Keyboard para buzzer bergetar.
Admin grup WA pengopi kelas berat memilih menonaktifkan komentar demi menjaga kesehatan mental.
Lalu muncullah seruan yang membuat politik Indonesia seperti pertandingan gulat tanpa wasit, Gibran harus maju sebagai capres 2029 melawan Prabowo.
Netizen pun bingung. "Lho... bukannya tadi dua periode?" "Ini dua periode atau dua kubu?"
Politik Indonesia memang luar biasa. Di sini sekutu bisa berubah menjadi rival lebih cepat dari rudal Fattah Iran.
Musuh hari ini bisa jadi sahabat besok pagi. Sahabat pagi bisa jadi lawan sore. Lawan sore bisa duduk semeja malamnya sambil makan durian.
Sementara semua orang berteriak, Jokowi tetap tenang. "Saya serahkan sepenuhnya kepada proses hukum."
Kalimatnya pendek. Tetapi bagi kaum konspirasi, itu bukan kalimat. Itu sandi. Itu Morse. Itu QR Code politik.
Mereka percaya setiap senyum Jokowi memiliki 17 lapis makna. Setiap langkah memiliki koordinat rahasia. Setiap topi yang dipakai sudah dihitung memakai rumus fisika kuantum, ilmu falak, serta ramalan cuaca BMKG.
So, benarkah Istana sedang bergeta? Entahlah.
Yang pasti, yang benar-benar berguncang hari ini adalah media sosial. Di sana lahir jutaan profesor cocoklogi, ribuan ahli bahasa tubuh, ratusan pakar arah angin politik, dan belasan paranormal demokrasi yang mampu membaca masa depan republik hanya dari posisi topi, arah lambaian tangan, serta jumlah kedipan mata.
Negeri MBG memang tidak pernah kekurangan drama. Di negeri ini, silaturahmi bisa dianggap operasi intelijen, topi bisa menjadi dokumen negara, rompi oranye bisa melahirkan seribu teori, dan secangkir kopi di warung bisa berubah menjadi rapat rahasia penyelamat republik.
Selamat menikmati episode berikutnya. Koptagul habis? Tenang. Politik Indonesia tidak pernah kehabisan bahan.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar