RADAR JEMBER - Masih terkait MBG, tapi bukan drama skandal megakorupsi di BGN. Ini terkait ucapan Abdul Mu’ti ke Prabowo, program MBG itu luar biasa bagusnya. Menjilatnya tak ketulungan, ampun dah. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Semua bermula ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, melapor kepada Presiden Prabowo Subianto pada 11 Juni 2026. Ia menjelaskan, per 10 Juni 2026 sekitar 80,7 persen murid telah menerima MBG. Dari sekitar 53 juta murid, sekitar 43 juta sudah menerima manfaat program tersebut.
Masalahnya, dalam pemberitaan, kata "murid" berubah menjadi "guru". Satu kata berubah, satu negara pusing. Publik langsung terbahak-bahak sekaligus emosi. Sebab jumlah guru Indonesia sebenarnya hanya sekitar 3 juta orang. Kalau benar ada 53 juta guru, mungkin setiap siswa punya 17 wali kelas, 8 guru matematika, 4 guru olahraga, dan seekor kambing yang sedang mengambil sertifikasi profesi.
Namun ternyata salah sebut itu hanyalah kulit bawang. Setelah dikupas, baunya makin menyengat.
Dalam laporan yang sama, Abdul Mu'ti menyampaikan, MBG berdampak positif terhadap motivasi belajar, kehadiran siswa, dan capaian akademik. Bahkan disebut ada penelitian Universitas Indonesia yang mendukung keberhasilan tersebut.
Nah, di sinilah rakyat mulai menggaruk kepala sampai hampir botak. Sebab laporan UI yang dijadikan rujukan ternyata juga memuat berbagai masalah. Distribusi makanan sering terlambat. Jadwal sekolah terganggu. Guru mendapat pekerjaan tambahan mengurus pembagian makanan. Guru yang seharusnya mengajar pecahan matematika malah ikut menghitung jumlah kotak nasi. Guru yang mestinya menjelaskan rumus aljabar malah sibuk memastikan ayam goreng tidak hilang di tengah jalan.
Memang ada insentif Rp100.000 per hari bagi guru yang ditunjuk mengurus MBG. Namun banyak pihak menilai beban tambahan itu tetap memberatkan. Yang lebih bikin kesal, bagian-bagian kritis ini nyaris tidak terdengar saat laporan keberhasilan dipresentasikan. Yang muncul hanya sisi manisnya. Yang pahit dibuang seperti sayur yang tidak disukai anak kecil.
Akibatnya, publik mulai mencium aroma menjilat yang begitu kuat sampai bisa terdeteksi satelit cuaca.
Padahal fakta lain justru lebih mengkhawatirkan. Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 menunjukkan penurunan signifikan pada tingkat SD dan SMP. Nilai rata-rata Matematika hanya berkisar 40–43. Bahasa Indonesia masih lumayan di angka sekitar 60. DPRD Pontianak bahkan ikut menyoroti kondisi ini karena dianggap sebagai alarm serius bagi kualitas pendidikan nasional.
Rakyat pun bingung. Katanya motivasi belajar meningkat. Katanya capaian akademik membaik. Tapi nilai Matematika malah nyungsep lebih cepat dari sinyal WiFi saat hujan deras. Kalau begini, yang bergizi jangan-jangan bukan kemampuan akademik siswa, melainkan narasi keberhasilan yang terus digoreng setiap hari.
Belum cukup sampai di sana. Program MBG juga dijual sebagai senjata melawan stunting. Tujuannya tentu baik. Presiden Prabowo ingin anak-anak Indonesia tumbuh sehat dan cerdas. Sayangnya, kenyataan tidak selalu mengikuti naskah pidato.
Di Kabupaten Sanggau, angka stunting justru naik. Data Dinas Kesehatan menunjukkan prevalensi stunting meningkat dari 20,50 persen pada 2025 menjadi 21,82 persen pada triwulan I 2026, atau naik 1,32 persen. Memang satu daerah tidak mewakili Indonesia. Tetapi data tetap data. Ia tidak bisa disuruh diam hanya karena mengganggu suasana perayaan.
Lalu datang babak yang paling membuat rakyat ingin tepok jidat memakai omprengan. Ketika banyak dapur SPPG bermasalah dan berhenti beroperasi, yang tampak paling kelaparan bukan siswa. Anak-anak masih bisa membawa bekal dari rumah. Yang terlihat panik justru para petinggi, pemain proyek, dan mitra yang selama ini mengitari program tersebut seperti lalat mengelilingi semangkuk bakso.
Publik menyaksikan satu per satu kasus hukum bermunculan. Sudah lima orang menjadi tersangka dalam perkara yang berkaitan dengan pelaksanaan program. Uang negara mengalir deras. Dana triliunan berputar-putar seperti gasing kesurupan. Sementara rakyat masih bertanya, sebenarnya yang kenyang siapa?
Pada akhirnya, masalah terbesar bukan salah sebut guru atau murid. Masalahnya adalah ketika laporan keberhasilan tumbuh lebih cepat dari hasil nyata di lapangan. Ketika nilai Matematika turun, guru kewalahan, stunting di beberapa daerah naik, dan tersangka terus bertambah, rakyat hanya bisa memandang langit sambil menghela napas panjang.
Karena semakin lama, yang terlihat bukan program makan bergizi. Yang terlihat justru program rakyat dibuat bingung berjamaah. Kecuali, Bosnia & Herzegovina mampu menahan kehebatan tuan rumah, Kanada 1-1, jelas hasilnya.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
Editor : M. Ainul Budi