RADAR JEMBER - Saya salat Id dekat rumah. Jalan kaki. Bagian paling saya tunggu bukan sate kurban atau rebutan kantong kresek daging, melainkan khutbah. Sebab di negeri ini, khutbah kadang lebih jujur dari kampanye. Saat menunggu sate dihidangkan, nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Nama khatibnya, KH Helmi Amin, pengasuh Pondok Pesantren Baitul Qur’an Tahfizhul Qur’an. Kebetulan dekat rumah ponpesnya. Beliau membahas haji mabrur. Tiba-tiba beliau menyitir nama Jalaluddin Rumi. Saya langsung tegak. Biasanya yang dikutip saat Iduladha itu imam besar, ulama besar, atau minimal motivator TikTok yang videonya diselingi musik galau. Ini malah Rumi.
Kata Rumi, “Musik yang haram itu adalah bunyi sendok dan garpu orang kaya di meja makan, yang terdengar oleh tetangganya yang miskin dan kelaparan.”
Astaga. Itu bukan quote. Itu rudal balistik sosial.
Rumi ternyata bukan sibuk debat gitar haram atau halal. Ia sedang menyindir manusia yang perutnya penuh, tapi hatinya kopong. Bunyi sendok orang kaya itu lebih nyaring dari toa masjid. Karena di balik denting sendok saat makan Coq au Vin, Bouillabaisse, Ratatouille, Quiche Lorraine, Croissant, Macaron, dan Crème brûlée, ada tetangga yang makan mi instan dibagi tiga: pagi, siang, malam. Bahkan kadang kuahnya diwariskan lintas generasi.
“Bang, itu makanan yang disebut, kok asing sih. Makanan dari mana itu?”
“Makanya sering-sering jalan ke Paris, wak. Itu makanan terkenal Prancis.” Ups
Saya lanjutkan. Khatib lalu menjelaskan hadis Rasulullah SAW. Dalam riwayat HR Ahmad, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi, tanda haji mabrur itu sederhana: memberi makan orang lain dan berkata baik. Riwayat lain menambahkan menebarkan salam atau kedamaian. Jadi ukuran haji mabrur bukan jumlah foto dekat Ka’bah atau caption “MasyaAllah tabarakallah” pakai font Arab emas. Kalau pulang haji masih hobi marah-marah, nipu proyek, dan nyinyir di grup WA ormas, itu bukan haji mabrur. Itu wisata rohani plus oleh-oleh air zamzam.
Rumi sendiri lahir 30 September 1207 di Wakhsh, wilayah Khwarezmian Empire, sekarang Tajikistan. Ayahnya, Baha al-Din Walad, seorang ulama besar. Sekitar 1218 keluarganya hijrah karena ancaman Mongol. Dari dulu rakyat sudah akrab dengan drama geopolitik. Bedanya, zaman itu belum ada buzzer yang komentar, “Tenang saja, kondisi kondusif.”
Dalam perjalanan, Rumi bertemu penyair sufi terkenal Fariduddin Attar. Ia juga berhaji ke Mekkah sebelum menetap di Konya, Turki. Hidupnya berubah setelah bertemu darwis nyentrik Shams Tabrizi. Setelah Shams menghilang, Rumi mendadak jadi “pabrik puisi spiritual.” Hasilnya lahirlah Mathnawi, Diwan-e Shams-i Tabrizi, dan Fihi Ma Fihi. Kalau sekarang orang bikin thread “cara menemukan inner peace dalam 7 hari,” Rumi sudah membahas penyatuan dengan Tuhan sejak abad ke-13.
Ajarannya sederhana tapi dalam. Hidup adalah perjalanan menuju Allah lewat cinta. Ia mengenalkan konsep fana, melebur diri dalam Tuhan. Bukan melebur prinsip demi kursi komisaris.
Dari ajaran itu lahir tarekat Mevlevi dengan tarian berputar, whirling dervishes. Mereka berputar untuk mendekat pada Tuhan. Di negeri kita juga banyak yang berputar-putar. Bedanya, sebagian mengelilingi kekuasaan sambil cari proyek APBN.
Hebatnya, delapan abad setelah wafat pada 17 Desember 1273 di Konya, nama Rumi masih hidup. Puisinya diterjemahkan ke berbagai bahasa dan populer di Barat. Karena manusia modern ternyata makin canggih, tapi makin stres. Kuota internet unlimited, hati limited edition. Followers ribuan, teman curhat nihil.
Mungkin itulah sebabnya Rumi tetap relevan. Saat dunia sibuk pamer religiusitas, ia mengingatkan, jalan menuju Tuhan bukan lewat suara paling keras, melainkan hati yang paling lembut.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar