RADAR JEMBER - Ngajak orang salat ke masjid itu, gampang. Membuat ia mau melangkah ke rumah Allah, itu yang berat. Tapi, ada satu tips jitu dari Pemkot Cilegon, kasih hadiah umrah, dijamin masjid berjubel jamaah. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Ada kejadian langka di Masjid Agung Cilegon Minggu pagi kemarin. Langka sekali. Lebih langka dari misteri Pangeran Pandeglang apakah benar jago buat gelang.
Subuh mendadak penuh.
Bukan penuh karena kebocoran atap. Bukan karena ada artis hijrah. Tapi karena ada program “Shalat Subuh Akbar Berjamaah Berhadiah Umrah.” Seketika umat bergerak cepat melebihi respon netizen saat lihat giveaway.
Sekitar 1.500 jamaah memadati masjid sejak dini hari. Sandal berserakan seperti habis simulasi kiamat kecil. Parkiran penuh. Saf rapat. Orang-orang yang biasanya jam segitu masih berguling di kasur sambil bilang “lima menit lagi ya Allah,” mendadak mandi jam 2 pagi pakai semangat pejuang.
Di situlah kita sadar satu hal penting. Ternyata, masalah umat selama ini bukan tidak bisa bangun subuh. Bisa. Sangat bisa. Tinggal hadiahnya apa.
Kalau biasanya alarm subuh dibunuh tanpa belas kasihan, kali ini alarm diperlakukan seperti wahyu. Ada yang pasang lima alarm sekaligus. Ada yang tidur pakai gamis supaya tak ribet. Ada juga yang mungkin malamnya tak tidur sama sekali karena takut kesiangan dan kehilangan peluang umrah.
Fenomena ini membuat banyak orang terharu. Sekaligus tertawa. Karena jujur saja, di banyak masjid, suasana subuh kadang memang menyedihkan. Muazinnya datang. Imamnya datang. Jamaahnya belum tentu. Kadang satu orang merangkap semua posisi. Dia azan, dia iqamah, dia imam, habis salam dia muter nyalamin dirinya sendiri.
Maka ketika Robinsar, Walikota Cilegon, melihat Masjid Agung penuh sampai sekitar 1.500 jamaah, beliau sampai kagum. Katanya, selama masjid berdiri, jarang sekali subuh seramai itu. Ya jelas. Biasanya yang penuh itu warung kopi habis subuh, bukan masjidnya.
Tapi di balik semua kekocakan ini, sebenarnya ada hadis yang luar biasa. “Barangsiapa salat Subuh berjamaah, maka ia berada dalam jaminan Allah.” (HR Muslim). Para ulama lalu menafsirkan, kekuatan umat bisa dilihat dari ramainya jamaah subuh. Kalau subuh ramai, itu tanda iman hidup. Persatuan hidup. Semangat ibadah hidup.
Nah masalahnya, di sebagian tempat, yang hidup malah speaker Bluetooth warung kopi. Makanya program begini sebenarnya cerdas. Bukan sekadar undian umrah. Ini strategi dakwah level “pancing dulu ikannya.” Karena kadang manusia memang begitu. Awalnya datang karena hadiah, lama-lama malah jatuh cinta pada suasana masjid. Awalnya niatnya umrah gratis, eh pulangnya malah dapat ketenangan hati.
Tentu saja ada netizen spesialis niat orang langsung bermunculan. “Ah, mereka salat karena pengen hadiah.” Lah terus kenapa? Minimal mereka salat. Dari pada nyinyir bangun subuh cuma buat cek siapa yang view story WA-nya. Jangan mentang-mentang rajin ibadah lalu buka cabang Badan Intelijen Niat Nasional.
Ketua DKM, Slamet Ibnu Syam, juga berharap jamaah tetap istiqamah walau nanti tidak ada hadiah lagi. Itu memang poin utamanya. Karena tujuan akhirnya bukan tiket umrah, tapi membiasakan hati akrab dengan subuh berjamaah.
Namun jujur saja, setelah melihat masjid penuh begini, banyak pengurus masjid lain mungkin mulai mikir keras. “Kalau hadiah umrah bisa 1.500 jamaah… gimana kalau hadiah motor?”
Waduh. Itu bukan lagi salat subuh. Itu sudah seperti grand opening dealer. Jamaah bisa datang dari tiga kabupaten. Saf sampai trotoar. Tempat wudhu antre kayak SPBU subsidi solar.
Tapi tak apa. Selama orang datang ke masjid, selama saf makin rapat, selama anak muda mulai kenal subuh berjamaah, berarti ada sesuatu yang hidup kembali. Karena kadang Allah memang menarik manusia dengan hadiah dunia… supaya akhirnya mereka menemukan akhirat.
“Bang, kalau semua masjid besar salat subuhnya berhadiah rumah tipe 45, gimanalah?”
“Wow, saya jamin penuh sesak sampai ke luar, wak! Warkop makin menjamur, karena habis salat biasanya jamaah ngopi.” Ups
Sumber foto: Dok. Ist/Pemkot Cilegon
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar