RADAR JEMBER - Kita lanjutkan kisah wakil rakyat tak layak dicontoh asal Jember. Tiba-tiba muncul videonya. Kaing-kaing minta maaf ke publik. Dengan wajah memelas, ia janji tak mengulangi lagi. Tapi, netizen tetap teriak, “Pecaaat…!” Simak lagi kisahnya sambil seruput Koptagul, wak!
Jelang sidang Mahkamah Partai Gerindra, Achmad Syahri Assidiqi alias Ra Syahri alias Gus Syahri akhirnya muncul ke publik. Bukan sambil bawa rokok dan buka Clash of Clans, melainkan lewat video permintaan maaf yang disebarkan Rabu malam, 13 Mei 2026, melalui Ketua Fraksi Gerindra DPRD Jember, Hanan Kukuh Ratmono. Wajahnya serius. Suaranya lirih. Gesturnya seperti santri ketahuan nyolong tabung gas pesantren.
Ia mengaku khilaf. Meminta maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat Jember. Meminta maaf kepada Prabowo dan pimpinan Gerindra. Mengaku siap menerima segala konsekuensi. Bahkan menyebut kejadian itu sebagai “pembelajaran penting dalam hidupnya.” Lengkap sekali. Tinggal kurang backsound seruling Sunda dan hujan CGI jatuh di kaca jendela.
Tapi masalahnya, rakyat sudah kadung muak.Publik tidak lagi melihat video itu sebagai permintaan maaf. Mereka melihatnya seperti adegan bos mafia yang pura-pura insaf lima menit sebelum sidang vonis. Kolom komentar langsung berubah jadi stadion gladiator digital.
“Kalau nggak viral, paling lanjut upgrade balai kota.”
“Maafnya datang setelah surat panggilan turun.”
“Ini bukan penyesalan, ini alarm takut kehilangan gaji.”
Jujur saja, sulit membantah netizen. Sebab permintaan maaf itu muncul setelah video dirinya main Clash of Clans sambil merokok di rapat stunting meledak nasional. Setelah rakyat ngamuk. Setelah media nasional seperti detik, Kumparan, Viva, dan Instagram rame membedah tingkahnya seperti bangkai politik habis ditabrak truk.
Kacong bayangkan betapa liar negeri ini. Di satu sisi ada ibu-ibu di Jember yang anaknya kekurangan gizi. Ada rakyat jungkir balik ngurus BPJS. Ada orang tua yang beli susu harus utang dulu ke warung. Sementara wakil rakyat yang digaji dari pajak mereka malah sibuk mempertahankan desa virtual sambil ngebul seperti cerobong pabrik ban.
Ini bukan lagi soal etika. Ini penghinaan level dewa.
Sekarang Gerindra sedang berada di persimpangan jalan. Kalau sanksinya cuma teguran ringan, tamat sudah. Publik akan makin yakin, politik Indonesia hanyalah taman safari keluarga elite. Anak tokoh boleh melakukan apa saja selama marganya kuat dan jaringan pesantrennya tebal.
Karena Ra Syahri memang bukan manusia biasa. Ia putra Achmad Fadil Muzakki Syah alias Ra Fadil, mantan anggota DPR RI yang dulu viral tidur saat rapat DPR. Ayah tidur di parlemen pusat, anak main game di parlemen daerah. Ini bukan regenerasi politik. Ini DLC kemalasan nasional.
Kalau Gerindra cuma bilang “sudah ditegur keras”, rakyat bakal tertawa sampai muntah. Teguran keras di politik Indonesia sering cuma berarti dimarahi lima menit di ruangan ber-AC, lalu besoknya tetap ngopi santai sambil menikmati fasilitas negara.
Padahal publik maunya jelas, pecat. PAW. Tendang keluar dari kursi DPRD seperti satpam mal mengusir bocah main lato-lato.
Karena kalau kasus beginian lolos begitu saja, jangan salahkan rakyat kalau nanti makin sinis. Besok mungkin ada anggota dewan rapat sambil live TikTok joget jedag-jedug saat bahas banjir. Ada yang mabar Mobile Legends sambil bahas angka kemiskinan. Bahkan mungkin ada yang buka slot online sambil pidato soal moral bangsa.
Badan Kehormatan DPRD Jember juga sedang memproses kasus ini. Tapi rakyat sudah trauma. Mereka takut BK cuma berubah jadi “Badan Kekeluargaan”, tempat para elite saling elus pundak sambil bilang, “Sudahlah, namanya juga anak muda.”
Besok adalah hari penentuan. Hari ketika Gerindra harus memilih, menjadi partai tegas yang membersihkan aibnya sendiri, atau menjadi bengkel tambal malu politik nasional.
Sebab saat ini, di kepala rakyat Jember, suara notifikasi Clash of Clans itu sudah berubah jadi satu teriakan raksasa, “Pecaaaattt…!”
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar