Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Koptagul Resahkan Demokrasi, Partai Politik Mulai Ada Membelot

M. Ainul Budi • Senin, 11 Mei 2026 | 08:51 WIB
Koptagul Resahkan Demokrasi, Partai Politik Mulai Ada Membelot
Koptagul Resahkan Demokrasi, Partai Politik Mulai Ada Membelot

 

RADAR JEMBER - Akhirnya terjadi juga. Ada partai politik, besar lagi, mulai “membelot” dan bergabung dengan Partai Koptagul. Maksudnya, membelot untuk minum Koptagul juga. Tenang, belum sampai pindah ideologi. Baru pindah selera kopi dan cara bikin narasi.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya yang penuh deadline, kopi pahit, dan komentar netizen setengah waras, saya diundang menjadi narasumber oleh partai politik penghuni Senayan. Bukan partai gurem yang kantornya numpang di atas ruko jual ban bekas. Ini partai besar. Partai yang baliho ketuanya kadang lebih banyak dari pohon di pinggir jalan.

Jujur saya bingung. Kenapa saya? Kenapa bukan wartawan senior media nasional yang tiap malam muncul di televisi sambil bilang, “berdasarkan hasil survei…” dengan muka setegang pagar kawat berduri.

Ternyata alasannya sederhana. Mereka sering membaca tulisan saya di Tiktok dan Facebook. Mereka ingin kader partai bisa menulis dengan gaya Koptagul. Di situ saya sadar, literasi mulai masuk ke dunia politik. Ini perkembangan yang lebih langka dari pejabat ngaku salah tanpa menyalahkan cuaca.

Untung tempat pelatihannya dekat rumah. Tiga menit sudah sampai. Ini pertama kali saya datang ke acara politik tanpa perjuangan seperti ekspedisi mencari Siplester adik Rambo.

Begitu masuk ruangan, saya langsung syok. Pesertanya ramai sekali. Kursi penuh sampai harus tambah kursi. Saya sempat curiga ada pembagian sembako atau kupon umrah. Ternyata memang murni mau belajar menulis.

Lebih bikin saya gugup, saya disambut dengan julukan, “Ini dia penulis viral!” Astaga. Biasanya saya cuma ditemani kopi pahit dan komentar netizen yang IQ-nya kadang kalah sama kalkulator rusak. 

Kata panitia, baru kali ini peserta pelatihan seramai itu. Pesertanya datang dari seluruh Kalbar. Bahkan dari Ketapang juga hadir. Itu jauh sekali. Perjalanan mereka mungkin lebih panjang dari proses pengusutan kasus ijazah palsu.

Sebagai pemanasan, saya suruh mereka menulis cerita perjalanan menuju lokasi pelatihan. Awalnya tulisan mereka kaku. Mirip pidato pejabat yang dibacakan tanpa titik koma dan tanpa dosa.

Lalu saya kasih “jurus sakti Koptagul”. Sedikit emosi. Sedikit hiperbola. Sedikit satire. Sedikit sindiran politik biar pembaca senyum sambil mikir.

Boom!

Tulisan mereka langsung berubah. Yang tadinya, “Saya berangkat pagi.” Menjadi, “Saya melawan kantuk, kabut, dan jalan berlubang demi keyakinan, literasi bisa menyelamatkan demokrasi.”

Saya sampai ikut merinding. Ini bukan pelatihan biasa. Ini semacam proses evolusi dari status WA menjadi narasi politik.

Puncaknya di sesi strategi narasi defensif dan ofensif. Saya bilang ke mereka, kalau diserang netizen atau lawan politik, jangan langsung ngamuk seperti admin buzzer kehilangan paket data.

Kalau mau kritik pemerintah atau menyerang lawan, jangan modal bacot doang dan urat leher. Siapkan data. Cari sumber kredibel. Baru kritik dengan elegan. Karena politik tanpa literasi itu seperti motor tanpa rem. Berisik, kencang, tapi ujungnya nyungsep ke got demokrasi.

Mereka senang sekali di sesi itu. Beberapa langsung membuat tulisan dan mempostingnya ke media sosial. Timeline mendadak penuh kader partai yang mendadak puitis dan edukatif. Saya baca sambil senyum sendiri.

Jujur saya bahagia. Sidak bayangkan kalau semua partai mulai rajin membaca sebelum bicara. Wah, itu bukan lagi Indonesia Emas. Itu Indonesia Ultra HD 8K Limited Edition.

Di akhir acara saya dapat hadiah kaus bertuliskan, “Koptagul, Kopi Tanpa Gula.” Warnanya, hitam. Saya kira warnanya oranye, ups. Saya tertawa kecil.

Akhirnya, tulisan receh saya bukan cuma meresahkan netizen. Sekarang mulai meresahkan demokrasi juga. Kalau ada partai lain ingin membelot juga, “Kecik telapak tangan, parabola saya siapkan.”

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Editor : M. Ainul Budi
#koptagul #partai politik #demokrasi