Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Mengenal Supia Sulaiman, Penulis Kampung yang Melahirkan Puluhan Buku

M. Ainul Budi • Jumat, 1 Mei 2026 | 15:39 WIB
Mengenal Supia Sulaiman, Penulis Kampung yang Melahirkan Puluhan Buku
Mengenal Supia Sulaiman, Penulis Kampung yang Melahirkan Puluhan Buku

RADAR JEMBER - Sejujurnya, saya harus membuka cerita ini dengan pengakuan agak pahit. Di dalam hati, saat pertama kali mendengar akan ada pemateri dari kampung, saya sempat meremehkan. Ah, orang kampung, pikir saya. Paling materinya biasa saja. Tidak akan jauh dari teori yang sering kita dengar. Tidak akan mengejutkan.

Ternyata saya salah besar. Kesalahan itu tidak datang pelan-pelan. Ia datang seperti tamparan telak yang membuat saya langsung diam, Jujur saja, malu pada diri sendiri.

Hari kedua kami berada di Dayang Resort Singkawang. Udara pagi dingin, pepohonan rimbun, suasana tenang. Seolah alam sedang mengajarkan satu hal, jangan cepat menilai sebelum benar-benar melihat.

Di tempat itulah saya bertemu sosok yang mengubah cara pandang saya. Penampilannya sederhana. Tutur katanya lembut. Tidak ada kesan ingin terlihat hebat. Tapi ketika beliau mulai mempresentasikan materi tentang pantun, saya langsung sadar, ini bukan orang biasa.

Ia menjelaskan rima, sampiran, dan isi pantun dengan sangat terstruktur. Bukan sekadar teori, tapi seperti orang yang benar-benar hidup di dalamnya. Pantun-pantun keluar begitu saja, ringan tapi dalam. Saya mulai tertarik. Lalu berubah menjadi kagum. Kemudian, terpaku.

Satu slide ditampilkan. Daftar buku. Bukan satu dua. Tapi puluhan. Saya ulangi, puluhan. Mata saya seperti tidak percaya. Ini bukan lagi hobi. Ini dedikasi seumur hidup.

Nama beliau, Supia Sulaiman.

Seorang guru matematika dari Selakau, Kabupaten Sambas. Tinggal di Seranggang, Selakau Timur. Jauh dari kota. Jauh dari pusat literasi. Tapi justru dari sana, lahir karya-karya yang luar biasa.

Sejak tahun 1990, beliau sudah menulis karya ilmiah. Tahun 1991, mempresentasikan karya di Yogyakarta. Tahun 1992, menerbitkan karya ilmiah di Semarang. Karyanya membahas pendidikan, sistem pembelajaran, hingga Grafik Fry sebagai alat ukur keterbacaan buku eksak berbahasa Indonesia. Tahun 2001, menulis tentang peningkatan pemahaman konsep matematika di Bogor. Tahun 2020, menerbitkan buku Papan Lagak Sang Motivator. Itu baru karya ilmiah.

Di bidang pantun, beliau menulis:
- Pantun Nasihat ASEAN (tercatat di MURI),
- Pantun Mutiara Budaya Indonesia,
- Pantun Mutiara Budaya Nusantara ASEAN,
- Pantun Persahabatan,
- Pantun Mengusik Jiwa,
- Pantun Pemanis Bahasa,
- Pantun Majelis.

Di bidang sastra dan puisi:
- Bukan Puitis Dadakan,
- Celoteh-celoteh Guru Penulis Sambas,
- Dendang Secangkir Kopi,
- Loggo’an Kate Melayu Sambas,
- Senandung Bukit Sahang,
- ASA,
- Kisah di Balik Pantun Mutiara Budaya Indonesia,
- Pohon Ilmu,
- Antologi Puisi Jalan Bersama,
- Puisi Doa Untuk Bangsa,
- Gurindam Kalbu (MURI),
- Sekolah Idaman,
- Syair Internasional (MURI),
- Puisi Ramadan,
- Pena Gading Khatulistiwa,
- Kamus Bahasa Melayu Sambas–Inggris–Indonesia,
- Karmina (MURI),
- Puisi Etnik Nusantara.

Di bidang fiksi dan cerita rakyat:
- Ikan Pating,
- Batu Ballah,
- Buaya Jembatan Agen,
- Kisah dari Bentala Terigas,
- Kisah Gunung Selindung,
- Si Jabu dan Si Jaba.

Di bidang budaya:
- Adat Perkawinan Nan Elok Termakan Zaman,
- Tradisi Ngeluarkan Amping,
- Adat Tersapu Badai.

Di bidang umum:
- Jenis-jenis Penyakit dalam Kultur Melayu Sambas,
- Obat Dalam Genggaman,
- Konservasi Penyu Tanjung Api,
- Perjalanan Iman dan Cinta,
- Brunei Darussalam Negeri Harmonis.

Saya tidak sedang membaca katalog penerbit. Saya sedang menyaksikan hasil kerja satu orang. Di ruangan yang sama, hadir Chairil Effendi, Ketua MABM Kalbar, mantan Rektor Untan. Sosok yang tentu sudah sangat berpengalaman menilai kualitas akademik.

Namun bahkan beliau pun tampak terkejut. Saat daftar karya itu ditampilkan, beliau sempat melontarkan pertanyaan yang terasa seperti tamparan bagi banyak pihak, kenapa nama ini tidak pernah diajukan sebagai penerima penghargaan khusus guru?

Padahal beliau sendiri adalah salah satu penilai penghargaan tersebut. Pertanyaan itu menggantung. Berat. Mengandung keheranan sekaligus kritik yang halus tapi tajam. Bagaimana mungkin seseorang dengan puluhan karya, dengan rekam jejak sejak 1990, dengan pengakuan MURI, bisa luput dari perhatian?

Jawabannya sederhana, dan menyakitkan. Karena beliau berkarya dari kampung. Dalam diam. Tanpa publikasi besar. Tanpa promosi diri.

Saya duduk sambil seruput Koptagul dengan perasaan campur aduk. Kagum, terharu, dan… malu. Malu karena sempat meremehkan. Malu karena baru tahu. Malu karena menyadari kehebatan tidak selalu berisik.

Dari pertemuan itu, saya belajar sesuatu yang sangat penting, ilmu tidak memilih alamat.
Karya tidak butuh gedung tinggi untuk lahir. Ketekunan jauh lebih penting dari pengakuan. Kadang, orang yang kita anggap “biasa” justru sedang menjalani sesuatu yang luar biasa.

Usai acara, saya sempat hampiri beliau. Saya sarankan agar karya beliau bisa dipublikasikan di internet. Tujuannya agar siapa saja bisa membacanya. Ia hanya tersenyum. Duh, jadi malu, wak.

Jangan pernah meremehkan siapa pun, apalagi hanya karena ia berasal dari kampung. Karena bisa jadi, dari tempat yang kita anggap jauh itu, lahir seorang penulis besar yang diam-diam telah menulis sejarahnya sendiri. Hlaman demi halaman, tanpa perlu tepuk tangan.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Editor : M. Ainul Budi
#penulis kampung #supia sulaiman #Buku