Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kali Ini Keracunan MBG di Jantung Ibukota Negara, 72 Siswa Tumbang

M. Ainul Budi • Rabu, 8 April 2026 | 15:01 WIB
Kali Ini Keracunan MBG di Jantung Ibukota Negara, 72 Siswa Tumbang
Kali Ini Keracunan MBG di Jantung Ibukota Negara, 72 Siswa Tumbang

RADAR JEMBER - “Ah, cuma 0,00017%,” kata petinggi. Kecil, nyaris tak terlihat. Statistik dingin yang disajikan seperti gula di atas luka. Tapi, coba tanya ke orang tua yang lihat anaknya muntah tanpa henti, tubuh lemas tak berdaya di ranjang rumah sakit, apakah itu terasa seperti angka kecil? Atau seperti dunia yang runtuh pelan-pelan di depan mata?

Kamis, 2 April 2026. Jakarta Timur. Empat sekolah di kawasan Pondok Kelapa dan Duren Sawit. Siang itu, anak-anak menyantap menu dari dapur SPPG Pondok Kelapa 2: spageti bolognese, bola-bola daging, scramble egg tofu, sayuran, dan stroberi.

Menu yang terlihat “bergizi”. Bahkan mungkin lebih “mewah” dari bekal rumah sebagian dari mereka. Tapi beberapa menit kemudian, semuanya berubah jadi adegan yang tak akan pernah bisa dihapus dari ingatan.

Satu anak muntah. Lalu dua. Lalu seperti domino yang jatuh satu per satu, kelas berubah jadi lautan kepanikan.

Muntah tak terkendali, cairan asam keluar terus-menerus. Bau menyengat memenuhi ruangan. Anak-anak memegangi perut mereka, wajah pucat seperti kehilangan darah. Ada yang mencoba berdiri, lalu jatuh. Ada yang menangis sambil merintih, “Bu… sakit… Bu…”

Diare menyusul. Demam naik cepat. Perut mereka seperti diremas dari dalam, seperti ada pisau tak terlihat yang mengiris pelan tapi pasti. Tubuh kecil itu gemetar, keringat dingin membasahi seragam.

Sebagian anak sudah tak kuat menangis. Mereka hanya diam, menatap kosong, seolah tubuhnya menyerah lebih dulu daripada suaranya.

Baca Juga: Rakyat Iran Rayakan Kemenangan, Teriakan Allahu Akbar Menggema

Ambulans datang dengan sirene meraung. Satu, dua, tiga, tak cukup. Orang tua berdatangan dalam kepanikan yang tak bisa dijelaskan. Ada yang berlari tanpa alas kaki. Ada yang langsung memeluk anaknya sambil menangis histeris. Ada yang hanya terdiam, syok, melihat anaknya terbaring dengan infus di tangan kecilnya.

Total 72 siswa tumbang. Sebagian dirawat di tiga rumah sakit. Sebagian boleh pulang setelah observasi. Tapi trauma? Tidak ada yang “dipulangkan”.

Ini bukan kejadian pertama. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, kasus keracunan MBG sudah mencapai puluhan ribu. Dari Januari 2026 saja, hampir dua ribu anak terdampak dalam waktu singkat. Total sebelumnya sudah melampaui belasan ribu kasus. Ini bukan anomali. Ini pola yang terus berulang.

Namun setiap kali terjadi, kita selalu bersikap seperti ini hal baru.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, datang menjenguk ke RSKD Duren Sawit. Dengan nada tenang, ia menyampaikan, “Kondisinya sekarang semuanya stabil, recovery, mudah-mudahan satu dua hari sudah selesai semua.” Bahkan diselipkan kata syukur, Alhamdulillah.

Baca Juga: Heboh! Motor Listrik Badan Gizi Nasional Harganya Rp49 Juta per Unit, Produsen Lokal Sebut Bisa Jauh Lebih Murah!

Kalimat yang terdengar menenangkan… tapi bagi orang tua, luka ini tidak selesai dalam satu dua hari. Karena setelah infus dilepas, setelah anak pulang, yang tersisa adalah ketakutan.  Takut makan. Takut percaya. Takut kejadian itu terulang.

Sementara itu, dari pihak BGN, Wakil Kepala Bidang Komunikasi, Nanik Sudaryati Deyang, menyampaikan permohonan maaf. Katanya tulus. Operasional dapur SPPG Pondok Kelapa dihentikan sementara.

Alasannya? Fasilitas belum memenuhi standar. Tata letak bermasalah. IPAL belum sesuai. Satu lagi yang terdengar sederhana tapi mematikan, jeda distribusi terlalu lama, membuat makanan tidak lagi segar. Wak… ini bukan masalah kecil. Ini bukan sekadar “oops”. Ini kelalaian yang berulang.

Biaya pengobatan memang ditanggung, melalui BPJS atau BGN. Terdengar seperti solusi cepat. Tapi ini seperti mengganti perban tanpa menghentikan luka yang terus disayat.

Di rumah-rumah malam itu, suasana berubah. Orang tua memeluk anak mereka lebih erat. Tidak ada lagi rasa percaya yang utuh. Dalam bisikan pelan, penuh air mata, mereka berkata, “Jangan makan itu lagi, Nak… kita bawa bekal saja dari rumah.”

Kepercayaan sudah runtuh. Berkeping-keping. Di tengah semua ini, satu pertanyaan menggantung, keras, tak nyaman, tapi jujur, kalau makanan ini aman, kenapa sudah puluhan ribu anak jadi korban?

Satu lagi yang lebih tajam, apakah para petinggi itu mau makan yang sama? Bukan untuk kamera. Bukan satu suapan simbolik. Tapi setiap hari. Dari dapur yang sama. Dengan distribusi yang sama. Dengan risiko yang sama. Kalau mereka ragu, kalau mereka diam, maka jawabannya sebenarnya sudah jelas.

Ini bukan lagi soal program. Ini soal nyawa. Selama kita terus menganggap ini “kecil”, selama itu pula tragedi akan terus datang, dengan angka baru, korban baru, dan luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Editor : M. Ainul Budi
#jakarta timur #SPPG #keracunan mbg #siswa