Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Republik Cendol: Gincu di Layar, Debu di Jalanan

M. Ainul Budi • 2026-03-26 17:50:55
A. Nawawi Maksum (Tokoh Ulama Muda Bondowoso, Pengasuh PP Nurut Taqwa.)
A. Nawawi Maksum (Tokoh Ulama Muda Bondowoso, Pengasuh PP Nurut Taqwa.)
Oleh: A. Nawawi Maksum

Di sebuah pagi yang dipenuhi kabut tipis di lereng Argopuro, Bondowoso biasanya terbangun dengan doa-doa dari surau dan aroma kopi yang jujur. Namun belakangan, udara kita terasa lebih pekat, bukan karena asap pembakaran jerami, melainkan karena aroma satire yang menyengat dari layar ponsel.

 Sebuah video pendek melesat, menampilkan sang pemegang mandat tertinggi di kabupaten ini sedang menebar senyum paling karismatik. Kalimatnya tertata, intonasinya santun, ia sedang mengucapkan selamat ulang tahun kepada "Empok Cendol".

Bagi warga digital, Empok Cendol adalah representasi dari sebuah pilihan hidup yang eksentrik—seorang laki-laki yang memilih jalan riuh dengan berdandan perempuan, melenturkan tulang maskulinnya, dan memperagakan gestur "tulang lunak" demi tawa atau angka viewer.

Baca Juga: Antrean Semu Program RANTAS

Secara personal, tentu itu ruang privatnya. Namun, ketika seorang Bupati memberikan panggung protokoler dan sapaan hangat kepada persona tersebut, ada sebuah pergeseran gravitasi moral yang sedang dipertontonkan: bahwa yang viral, betapa pun absurdnya, kini punya derajat yang lebih tinggi daripada yang nyata.

Di sinilah letak getirnya. Sementara sang Bupati begitu tangkas dan responsif menyapa sosok "tulang lunak" tersebut, ribuan warga di pelosok Bondowoso justru sedang berhadapan dengan realitas yang teramat keras. Realitas itu tidak selembut cendol. Ia berbentuk lubang-lubang jalan yang menganga, yang jika musim hujan tiba, menjelma menjadi kubangan duka bagi para petani yang hendak membawa hasil bumi ke pasar.

 Ia berbentuk jembatan-jembatan yang punggungnya patah, yang membuat anak-anak sekolah harus bertaruh nyawa demi sebuah cita-cita.

Mari kita jujur menatap cermin kebijakan. Mengapa untuk urusan ucapan ulang tahun kepada sosok kontroversial, sang pemimpin begitu lincah muncul di layar? Namun, ketika warga berteriak tentang "gaibnya" LPG 3 kg—si tabung melon yang kini lebih langka daripada kejujuran di musim politik—sang pemimpin seolah memilih jalan sunyi.

 Ia menjadi pertapa digital yang sulit ditemui fisiknya di lapangan, jarang menyapa warga yang jembatannya ambrol, dan seolah enggan mengotori sepatu larsnya dengan debu jalanan yang hancur.

Baca Juga: Program Rantas Pemkab Bondowoso Terus Berlanjut: 134 Titik Jalan Akan Diperbaiki Tahun Ini

Kegaduhan ini pun akhirnya melahirkan dua kubu yang saling serang di ruang siber. Siapa pun yang berani mengkritik sapaan mesra sang Bupati langsung dicap sebagai "Pasukan Sakit Hati". Sebuah label yang murah untuk membungkam akal sehat, seolah-olah kritik terhadap kebijakan hanya bisa lahir dari rasa dendam atau kegagalan politik masa lalu. Di sisi lain, mereka yang membela mati-matian—bahkan untuk hal yang nalar santri pun sulit terima—dengan cepat dilabeli sebagai "Barisan Penjilat".

Dialog publik kita akhirnya mati di tangan label-label ini. Padahal, inti masalahnya bukan pada siapa yang sakit hati atau siapa yang mencari muka, melainkan pada sebuah fakta keras: Bondowoso sedang butuh kerja nyata, bukan konten belaka.

Kepemimpinan "tulang lunak" adalah kepemimpinan yang lentur terhadap prinsip namun kaku terhadap keluhan rakyat. Ia adalah bentuk Political Spectacle, di mana penderitaan rakyat dianggap terlalu "berat" dan tidak "estetik" untuk dijadikan konten.

Maka, dicarilah hal yang ringan, jenaka, dan sedikit "nyeleneh" untuk menutupi ketidakberdayaan dalam eksekusi kebijakan. Sang Bupati tampaknya lebih betah bersemayam dalam algoritma daripada berpeluh di bawah terik matahari untuk menyapa warga yang infrastrukturnya sekarat.

Sejarah Bondowoso, yang dibangun oleh keringat para ulama dan pejuang, tidak akan mencatat berapa banyak sosok viral yang disapa oleh bupatinya.

Baca Juga: Tak Hanya Aspal Drainase Jadi Penentu, Rantas 2026 Fokus Ketahanan Jalan, Begini Kata BSBK Bondowoso

Sejarah akan mencatat dengan tinta yang dingin: apakah di masa jabatannya, rakyatnya bisa memasak dengan gas yang terjangkau? Apakah petani bisa mengangkut kopi tanpa takut terperosok ke lubang jalan? Dan apakah jembatan yang ambrol itu dibangun kembali dengan semen komitmen, atau hanya dibiarkan menjadi monumen kegagalan?

Berhenti memoles gincu di atas aspal yang rontok. Kekuasaan yang hanya dipoles dengan citra digital akan luntur oleh keringat kemarahan rakyat. Sebab, pada akhirnya, aspal yang hancur dan perut yang lapar tidak bisa dikenyangkan dengan segelas cendol, apalagi sekadar ucapan selamat ulang tahun yang penuh basa-basi di dunia maya.

Bondowoso butuh nakhoda yang tangannya memegang kemudi kebijakan dengan kuat, bukan nakhoda yang tangannya sibuk memegang tongsis untuk urusan yang remeh-temeh.

Editor : M. Ainul Budi
#ulama muda #Argopuro #jalan rusak #ponpes #kopassus #Bondowoso