RADAR JEMBER - Kalian pasti udah melihat videonya. Titik-titik api di langit terbang bersamaan menuju sebuah target di Kota Tel Aviv Israel. Setelah itu, boom! Dahsyat sekali. Itulah bom cluster milik Iran yang membuat negeri zionist ketar-ketir. Mari kita bedah bom tersebut sambil imagine Koptagul usai buka puasa nanti, wak!
Malam di Tel Aviv yang biasanya dipenuhi musik klub, lampu neon, dan orang-orang yang sibuk memamerkan kopi mahal di balkon apartemen. Tiba-tiba langit berubah jadi festival kembang api paling menegangkan di Timur Tengah. Bukan pesta tahun baru, bukan konser rock, melainkan efek dari rudal Iran yang membawa bom cluster. Sirene meraung panjang, warga berlari ke bunker, dan dunia mendadak menatap langit yang dipenuhi titik-titik api.
Serangan ini muncul dalam rangkaian operasi Iran yang dikenal sebagai True Promise 4. Dalam beberapa gelombang serangan, Iran meluncurkan rudal balistik seperti Khorramshahr-4 dan jenis lain seperti Kheibar Shekan menuju wilayah Israel. Khorramshahr-4 sendiri termasuk salah satu sistem paling berat dalam arsenal rudal Iran. Rudal ini memiliki jangkauan sekitar 2.000 kilometer dengan hulu ledak mencapai 1.500 kilogram, menjadikannya salah satu rudal dengan muatan terbesar yang dimiliki Iran.
Kecepatannya juga tidak main-main. Dalam beberapa laporan militer, rudal ini diklaim mampu mencapai Mach 16 di luar atmosfer dan sekitar Mach 8 saat memasuki atmosfer kembali menuju target.
Yang membuatnya lebih menakutkan adalah jenis hulu ledaknya. Dalam konfigurasi bom cluster, rudal tidak meledak sekali seperti rudal konvensional. Sebaliknya, ketika mendekati wilayah target, hulu ledak akan terbuka di udara. Beberapa laporan menyebut mekanisme ini terjadi pada ketinggian sekitar 7 kilometer di atas permukaan tanah.
Begitu terbuka, wadah rudal melepaskan sekitar 20 submunisi atau bom kecil. Setiap bom membawa kira-kira 2,5 kilogram bahan peledak tinggi. Bom-bom kecil ini kemudian menyebar ke berbagai arah dan jatuh di area luas.
Inilah yang membuat bom cluster menjadi mimpi buruk bagi sistem pertahanan udara. Satu rudal tiba-tiba berubah menjadi puluhan ancaman kecil sekaligus. Ketika radar dan sistem pertahanan udara mencegat satu target besar, tiba-tiba puluhan objek baru muncul di langit. Jika beberapa saja lolos, dampaknya bisa terjadi di banyak titik sekaligus. Penyebarannya bahkan bisa mencapai radius sekitar 8 kilometer, menciptakan kerusakan yang tersebar di wilayah kota.
Di beberapa lokasi di sekitar Tel Aviv dan wilayah metropolitan Gush Dan, submunisi ini dilaporkan jatuh di area pemukiman dan fasilitas kota. Ada yang menghantam atap bangunan, ada yang memicu kebakaran kecil, dan ada pula yang hanya meninggalkan lubang ledakan kecil di jalan atau halaman rumah.
Masalah terbesar dari bom cluster bukan hanya ledakan awalnya. Banyak submunisi memiliki tingkat kegagalan tertentu sehingga tidak meledak saat menyentuh tanah. Bom kecil ini kemudian berubah menjadi unexploded ordnance (UXO) yang tetap berbahaya bagi warga sipil bahkan setelah perang selesai.
Karena alasan itu, bom cluster termasuk salah satu jenis senjata paling kontroversial di dunia. Banyak negara telah menandatangani Convention on Cluster Munitions yang melarang penggunaannya. Namun Iran dan Israel bukan bagian dari perjanjian tersebut.
Di sisi lain, penggunaan bom cluster memiliki tujuan strategis yang jelas. Itu menyulitkan sistem pertahanan udara. Sistem seperti Iron Dome dirancang untuk mencegat rudal besar yang datang dari satu arah. Ketika satu rudal berubah menjadi puluhan bom kecil yang menyebar, sistem pertahanan harus menghadapi banyak ancaman sekaligus. Inilah yang disebut efek saturasi, yaitu ketika pertahanan udara dipaksa menghadapi lebih banyak target daripada kapasitas intersepsinya.
Lalu di titik ini, kita yang menonton dari jauh mendadak merasa seperti warga planet lain. Di Timur Tengah sana, negara seperti Iran sibuk mengembangkan rudal balistik berkecepatan ekstrem, bereksperimen dengan teknologi hipersonik, membangun kota rudal bawah tanah, dan merancang hulu ledak yang bisa menyebar menjadi puluhan submunisi di udara. Industri militernya dipaksa mandiri karena embargo, sehingga riset pertahanan mereka berjalan seperti lomba sains berskala negara.
Sementara itu di negeri kita? Energi nasional lebih sering habis untuk perdebatan yang levelnya seperti talk show tengah malam. Ribut soal ijazah asli atau palsu, memperdebatkan jumlah rakaat tarawih, atau berdebat tanpa ujung tentang siapa keturunan nabi paling sah. Di sana para insinyur dihargai karena merancang rudal Mach belasan. Di sini yang sering dipuji justru keahlian merancang skema mengincar APBN dengan taktik, strategi, dan intrik yang kalau dipakai untuk riset pertahanan mungkin kita sudah punya roket sendiri ke bulan.
Akhirnya bom cluster Iran bukan sekadar senjata. Ia juga menjadi cermin yang agak menyakitkan. Di satu sisi dunia berlomba meningkatkan teknologi militer hingga level fisika tingkat tinggi, sementara di sisi lain ada negara yang masih sibuk berdebat hal-hal remeh sambil lupa, pertahanan negara tidak bisa dijaga hanya dengan wacana.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar