SAYA lahir di Desa Kembang Sari. Sisi timur Kecamatan Tlogasari. Meski saat ini saat ini saya sudah tidak tinggal di sana, namun empati terhadap tanah kelahiran tetap kental. Butuh effort tinggi apabila ingin tiba di sana.
Apalagi memakai kendaraan roda dua. Roda empatpun asal jangan pakai jenis mobil yang sama dengan yang bernomor plat P 1 AP, P 2 AP dan P 3 AP dan turunannya, dijamin pasti sangat terasa guncangannya. Sangat tidak maksimal jika kondisnya saya deskripsikan di sini. Jika tidak percaya, silahkan dicoba. Rasakan sensasinya. Hihi
Melalui tulisan ini, saya ingin memberikan informasi kepada kepemerintahan daerah. Ya, termasuk yang sedang duduk di 'rumah timur' sebagai pejabat DPRD. Utamanya kepada Bupati Bondowoso KH. Abdul Hamid Wahid dan Sekretaris Daerah Fathur Rosi. Wabup As'ad Yahya Arifin dan pejabat DPRD tidak saya sebut karena mereka pastinya sudah tau betul seluk beluk Tlogosari.
Sebelum informasi itu saya sampaikan, sebagai warga negara yang taat terhadap Ulil Amri, izinkan saya menyampaikan pendapat, pandangan dan pemikiran sebagai ruang ekspresi betapa besarnya harapan saya terhadap program Ruas Infrastruktur Jalan Tuntas (RANTAS).
Bagi saya dan tetangga-tetangga di rumah Kembang, program RANTAS besutan KH. Abdul Hamid Wahid & KH. As'ad Yahya Syafi'i (RAHMAD) sejak awal membawa harapan besar. Bagaimana tidak, akronimya tegas: "Tuntas". Sangat wajar jika masyarakat memiliki ekspektasi bahwa persoalan klasik jalan rusak yang bertahun-tahun dikeluhkan warga akan diselesaikan secara sistematis. Namanya juga Tuntas.
Selesai secara menyeluruh, sempurna. Artinya beres tanpa sisa. Seingat saya, selama ini tidak ada kepala daerah yang berani menjamin persoalan jalan rusak akan dituntaskan. Jujur, saya angkat topi untuk kepemerintahan ini.
Setelah satu tahun program RANTAS berjalan, dengan memperhatikan dinamika realisasinya, muncul satu pertanyaan mendasar. Apakah skala kemampuan program RANTAS benar-benar sebanding dengan luasnya persoalan jalan rusak yang dijanjikan bakal dituntaskan? Apakah pengerjaan pembangunannya telah mempertimbangkan secara priotas? Saya tegaskan! Saya tidak dalam rangka meyebar pesimisme tentang program ini.
Faktanya, jumlah ruas jalan yang mengalami kerusakan masih tergolong tinggi. 494 kilometer . Itu versi pemerintah yang tidak disebut tingkat kerusakannya mulai dari ringan hingga berat. Apalagi lokasinya di mana saja. Asumsinya banyak akses penghubung desa dalam kondisi berlubang, bahkan rusak berat.
Tak heran jika soal jalan menjadi keluhan rutin masyarakat. Jika dibandingkan dengan total panjang jalan rusak yang mencapai ratusan kilometer, progres capaian penanganan RANTAS di tahun pertamanya bisa dibilang masih relatif kecil. Makanya hanya disebut titiknya saja yang sebanyak 212 itu.
Total panjangnya jika diakumulasikan mungkin hanya 20 kilometer. Itupun jika ditelusuri termasuk peningkatan atau pembangunan drainase. Sementara di tahun ini diproyeksikan memperbaiki sepanjang 25 kilometer. Jika ada 494 kilometer jalan rusak. 20 kilometer yang dibangun di tahun 2025 jika diprosentasikan progresnya hanya 4.05%. Sementara di 2026 yang ditargetkan 26 kilometer progresnya hanya 5.06%.
Kemampuan perbaikan RANTAS hanya berkisar 4-5%/tahun. Artinya, dampak program ini memang ada, tetapi progresnya belum signifikan ketika dibandingkan dengan kebutuhannya.
Dalam prinsip umum teori kebijakan publik, perbandingan antara skala masalah dan skala solusi menjadi indikator penting dalam mencapai keberhasilan. Kegagalan sering terjadi ketika skala masalah besar ditangani dengan skala solusi yang terlalu kecil.
Dalam konteks RANTAS, jika persoalan jalan rusak berada dalam skala besar, tetapi intervensi atau realisasi program yang dilakukan sangat kecil, maka yang terjadi hanyalah penanganan secara parsial ketika dipaksakan. Hanya sepotong-potong.
Tidak benar-benar dituntaskan di wilayah-wilayah prioritas. Secara teknis saya paham bahwa penyebabnya adalah keterbatasan anggaran. Namun secara politis dan komunikatif, akronim 'Tuntas' yang dipilih dalam program ini, justru akan berpotensi menjadi masalah besar bahkan bumerang yang berpotensi menurunkan kredibilitas, seperti idiom pedang bermata dua. Tentu sangat dikhawatirkan jika terus terjadi ketidakseimbangan antara skala masalah dan kemampuan skala penanganan.
RANTAS 100% memang telah terbukti memberi dampak psikologis positif di titik-titik yang sudah diperbaiki. Sebagaimana yang telah diberitakan maupun disebar melalui konten medsos akun buzzer pemerintah tentang testimoni positif warga. Itu wajar, karena warga yang sudah lebih dulu menikmati jalan mulus tentu merasakan manfaatnya langsung.
Tetapi secara struktural, harus diakui bahwa perubahan belum tampak adil dan merata. Banyak wilayah yang belum tersentuh tetap berada dalam kondisi lama. Padahal fungsi dan kebermanfaatannya secara umum lebih urgent daripada yang sudah diperbaiki lebih dulu.
Akibatnya muncul kesan ketimpangan. Banyak warga mempertanyakan kapan jalan rusak di wilayahnya akan tersentuh RANTAS. Contohnya seperti saudara-saudara saya, warga Desa Tlogosari dan Kembang yang mempertanyakan kapan perbaikan jalan datang. Mumpung ini sedang membahas RANTAS, Tlogosari akan saya capture sebagai informasi yang saya maksud di atas sekaligus sebagai contoh evaluasi program RANTAS.
Jika Bupati Abdul Hamid Wahid mengakui Bondowoso adalah Kabupaten agroindustri, maka Tlogosari merupakan Kecamatan si paling agroindustri dibanding Kecamatan lain.
Warga Tlogosari sangat bergantung kepada sektor pertanian dan perkebunan. Jumlah penduduknya terbesar se-Dapil III. Merupakan penyangga terbesar komoditas padi, tebu, sektor kopi rakyat, dan daerah holtikultura sebagai pemasok sayur-mayur.
Mulai pasar Pujer, pasar induk, Wonosari, Prajekan, Maesan, hingga pasar kota tetangga seperti Kalisat, Jember, menjadikannya sebagai wilayah agroindustri strategis di Kabupaten ini. Oleh sebab itu, Kecamatan Tlogosari direkomendasikan sebagai pilihan utama kawasan agroindustri dengan penghasil komoditas padi terbesar di Kabupaten Bondowoso dalam jurnal 'Penentuan Kawasan Argoindustri Berdasarkan Komoditas Unggulan di Kabupaten Bondowoso'.
Bayangkan, betapa padatnya lalu lalang kendaraan aktivitas perekonmian di sana. Apalagi iring-iringan truk tebu yang melebihi tonase saat musim panen tiba. Sayangnya, wilayah strategis seperti Tlogosari yang kondisinya jalannya rusak parah, belum terkonfirmasi bakal tersentuh program RANTAS.
Jika program RANTAS memiliki skala prioritas yang jelas, idealnya jalan utama Kecamatan Tlogosari seperti di Desa Tlogosari hingga Kembang yang menjadi akses utama menuju Desa-Desa yang lain, harusnya dipertimbangkan, dianalisa apakah masuk skala prioritas. Warga tidak memungkiri bahwa memang ada pengaspalan di era kepemerintahan Bambang Soekwamto dan Salwa Arifin.
Juga Pokir dari salah satu anggota dewan kala itu. Namun pembangunan jalannya selalu parsial. Kalaupun ada pengaspalan, paling hanya 50 sampai 100 meter.
Kalau Tlogosari tidak masuk prioritas realisasi program RANTAS, kondisi jalan yang rusak parah sekarang bisa jadi karena pengaruh politik kekuasaan. Sebab kepala daerah terpilih tidak memperoleh kemenangan mutlak di Tlogosari, atau mungkin karena tidak ada satupun anggota DPRD dari warga wilayah sisi timur Tlogosari.
Itu asumsi warga yang saya dengar saat duduk bercengkrama di emperan Masjid. Karena di beberapa titik realisasi RANTAS tahun kemarin, dikawal ketat oleh anggota dewan setempat. Tentu pemandangan itu bukan hanya sebatas turun jalan untuk menjalankan fungsi pengawasan. Saya tidak akan berbicara lebih jauh soal itu.
Berdasarkan fakta-fakta itu, sepertinya ada ketimpangan pada program RANTAS. Asumsi itu muncul karena memang tidak ada transparansi peta jalan jangka panjang.
Jika program ini tidak disertai peta jalan jangka panjang yang transparan yang didasari skala prioritas, wajar bila masyarakat yang wilayahnya belum tersentuh RANTAS kepercayaannya terus terkikis. Sebab masyarakat bukan hanya melihat satu ruas yang selesai, tetapi membandingkannya dengan kondisi jalan lain yang tak kunjung berubah menjadi mulus.
Yang ditampakkan di permukaan hanya jumlah total titik perbaikan dan informasi ruas jalan yang sedang diperbaiki yang ditulis oleh media arus utama. Tetapi bagi masyarakat di wilayah lain, informasi itu terasa seperti antrean tanpa nomor. Tidak ada kepastian giliran, tidak ada indikator prioritas program RANTAS yang bisa dipahami oleh masyarakat.
Jalan yang rusak bertahun-tahun bisa saja kembali "menunggu", sementara ruas lain lebih cepat disentuh. Di sinilah antrean menjadi semu. Inilah yang menjadi cikal bakal reaksi berlebih warga. Utamanya yang meramaikan postingan jalan rusak dan kolom-kolom komentar di media sosial. Bahkan sampai ada warga yang menanyakan perbaikan jalan kepada Bupati yang salah.
Saya ingin menegaskan bahwa jika RANTAS terus berjalan seperti di tahun pertamanya, sangat berpotensi menjadi program simbolik jika tidak diimbangi dengan skala intervensi yang proporsional dan transparan.
Simbolik dalam artian kuat secara branding, tetapi terbatas dalam capaian makro. Program ini digadang-gadang akan menuntaskan, namun warga seperti berdiri dalam antrean panjang tanpa kepastian giliran.
Saya berharap keterbatasan fiskal juga tidak menjadi satu-satunya alasan untuk tidak menginformasikan garapan RANTAS secara jangka panjang. Dengan penuh kerendahan hati, saya harap pemerintah mawas diri bahwa prioritas pembangunan RANTAS belum berbasis skala urgensi yang transparan.
Agar tidak terjadi miskomunikasi dengan masyarakat yang berpotensi memicu kegaduhan. Baikkya program RANTAS mempublikasikan setidaknya tiga hal:
Pertama: Berilah nomor antrian yang jelas. Maksudnya, program RANTAS baiknya memberikan keterbukaan informasi skala prioritas berbasis urgensi dan dampak ekonomi di titik-titik yang akan diperbaiki.
Kedua: Informasikan jadwal pelaksanaan secara terbuka. Ketiga: Kepastian kualitas. Bukan hanya memberi standar teknis yang menjamin daya tahan.
Supaya umur ekonomis jalan tetap terjaga, Pemerintah juga harus tegas menindak kendaraan milik perusahaan yang membawa muatan berlebih. Contohnya seperti kejadian di Kecamatan Grujugan.
Terimakasih sudah menyimak pendapat sederhana ini. Tentu kita semua sama-sama ingin menikmati kenyamanan dalam berkendara. Apalagi yang tidak memiliki kendaraan mewah yang kaki-kainya empuk. Mari kita dukung program RANTAS dengan memberikan kritik membangun agar hasilnya menjadi warisan RAHMAD yang akan selalu dikenang.
Editor : M. Ainul Budi