RADAR JEMBER - Tulisan ke-9 Edisi Ramadan. Ada pertanyaan, apakah umat Islam bisa disatukan? Disatukan dalam satu kepemimpinan sepertinya tidak bisa. Perpecahan itu sudah ada dari sananya. Puncak perpecahan itu dimulai di masa khalifah Ali bin Abi Thalib. Simak kisahnya sambil membayangkan seruput Koptagul, wak!
Sejarah Islam mengenal banyak bab heroik. Tetapi ada satu bab yang ditulis dengan tinta paling pekat, bab yang dimulai pada tahun 656 M, ketika Ali bin Abi Thalib dibaiat sebagai khalifah keempat menggantikan Utsman bin Affan yang terbunuh secara tragis di Madinah. Ironisnya, di tangan sosok yang paling dikenal adil, zuhud, dan pemberani itulah puncak perpecahan umat Islam justru meledak terbuka.
Ali bukan figur sembarangan. Lahir pada 13 Rajab, 30 tahun sebelum Hijrah (sekitar 600 M) di dalam Ka’bah, ia diasuh langsung oleh Muhammad sejak usia lima tahun. Ia masuk Islam pada usia sekitar 10 tahun, tidur di ranjang Nabi saat malam hijrah, memegang panji di Badar (624 M), terluka parah di Uhud (625 M), menghadapi duel hidup-mati di Khandaq (627 M), dan memimpin penaklukan Khaibar (628 M).
Ia juga menantu Nabi melalui pernikahannya dengan Fatimah az-Zahra, ayah dari Hasan bin Ali, Husain bin Ali, Zainab, dan Umum Kulsum. Keturunan yang kelak menjadi simbol cinta dan luka umat sepanjang zaman.
Secara moral, ia nyaris tanpa cela. Secara politik, ia mewarisi bara.
Setelah Utsman wafat pada Juni 656 M, Madinah dalam keadaan genting. Kelompok pemberontak dari Mesir dan Irak masih berada di kota. Banyak sahabat senior terbelah sikap. Dalam tekanan situasi, Ali menerima baiat. Langkah pertamanya tegas, mengganti gubernur-gubernur yang dianggap bermasalah dan menata ulang distribusi Baitul Mal agar merata tanpa privilese elite Quraisy. Kebijakan ini benar secara etika, tetapi mengguncang jaringan kepentingan lama.
Desember 656 M meledak Perang Jamal (8 Desember 656). Aisyah binti Abu Bakar bersama Thalhah dan Zubair bergerak ke Basra menuntut penuntasan hukum atas pembunuh Utsman. Basra dikuasai. Ratusan orang terbunuh bahkan sebelum pertempuran besar terjadi. Ali berangkat dari Kufah dengan pasukan sekitar 20.000 orang. Upaya dialog dilakukan. Riwayat menyebut kedua pihak sempat hampir berdamai sebelum provokator memicu bentrokan malam hari.
Pertempuran berlangsung sengit. Unta yang ditunggangi Aisyah menjadi titik pusat pasukan, sehingga perang ini dinamakan “Jamal” (unta). Ribuan korban jatuh dari kedua pihak. Thalhah dan Zubair tewas. Ali menang secara militer.
Namun ia melarang penjarahan, melarang memperbudak tawanan, dan mengantar Aisyah kembali ke Madinah dengan hormat. Secara etika ia unggul, tetapi luka politik telah terbuka. Untuk pertama kalinya sahabat melawan sahabat dalam perang terbuka.
Belum kering darah di Basra, konflik berlanjut ke Syam. Tahun 657 M pecah Perang Siffin melawan Muawiyah I, gubernur Suriah sekaligus kerabat Utsman. Muawiyah menuntut agar pembunuh Utsman dihukum sebelum mengakui kekhalifahan Ali. Pertempuran berlangsung berbulan-bulan, puncaknya Juli 657 M. Pasukan Ali hampir meraih kemenangan ketika pasukan Syam mengangkat mushaf Alquran di ujung tombak, menyerukan arbitrase berdasarkan Kitabullah.
Sebagian pasukan Ali terpecah dan mendesak menerima tahkim. Ali, dalam posisi sulit, menyetujui arbitrase. Secara militer ia unggul. Secara politik ia kehilangan momentum.
Hasil tahkim tidak menyelesaikan konflik. Justru lahirlah kelompok baru, Khawarij yang keluar dari barisan Ali karena menganggap menerima arbitrase manusia sebagai dosa besar. Mereka mengusung slogan “La hukma illa lillah” (tidak ada hukum selain hukum Allah) dan mengkafirkan Ali, Muawiyah, serta siapa pun yang berbeda pandangan.
Tahun 658 M terjadi Perang Nahrawan. Ali menghadapi sekitar 4.000 Khawarij. Ia menawarkan dialog, bahkan mengampuni yang mau kembali. Sebagian mundur. Sekitar 1.800 tetap bertahan dan akhirnya tewas dalam pertempuran. Secara militer Ali kembali menang. Tetapi ekstremisme yang tersisa tidak mati.
Puncaknya datang pada 19 Ramadan 40 H (28 Januari 661 M). Di Masjid Kufah, saat memimpin shalat Subuh, Ali diserang oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang Khawarij. Pedang beracun menghantam kepalanya. Dua hari kemudian, 21 Ramadan 40 H (30 Januari 661 M), Ali wafat pada usia 63 tahun. Ia berwasiat agar pembunuhnya diperlakukan adil dan dihukum tanpa melampaui qisas.
Setelah Ali wafat, putranya yang sulung, Hasan bin Ali, sempat menjadi khalifah. Cuma sebentar saja. Akhirnya, menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan RA. Ini adalah salah satu babak paling pilu sekaligus paling bijak dalam sejarah Islam, cucu Nabi SAW yang rela melepaskan tahta demi mencegah lautan darah umat.
Berakhir sudah era Khulafaur Rasyidin. Kekuasaan kemudian beralih kepada Muawiyah dan membuka babak Dinasti Umayyah, model pemerintahan yang bergerak ke arah monarki turun-temurun.
Di masa Ali, untuk pertama kalinya perbedaan politik menjelma menjadi konflik bersenjata internal berskala besar. Dari periode inilah akar polarisasi Sunni–Syiah mulai terbentuk, bersama kemunculan Khawarij sebagai arus ketiga. Perpecahan bukan lagi sekadar beda pendapat, ia berubah menjadi identitas, teologi, dan loyalitas politik.
Di sinilah sindiran sejarah terasa pahit. Pemimpin yang hidup dengan roti gandum kasar, membagi harta tanpa diskriminasi, dan menolak nepotisme justru memerintah dalam badai fitnah tanpa henti. Upaya membersihkan tata kelola justru memicu perlawanan elite. Seruan agama dipakai sebagai legitimasi politik. Mushaf diangkat bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk menghentikan kemenangan lawan.
Sejarah masa Ali mengajarkan, keadilan moral tidak selalu berbanding lurus dengan stabilitas politik. Bahwa ketika kepentingan dan tafsir agama bertemu tanpa kedewasaan, umat bisa retak dari dalam. Ppecahan besar sering dimulai bukan oleh kekurangan integritas pemimpin, tetapi oleh benturan ambisi yang tak terkendali.
Di masa Ali bin Abi Thalib, puncak perpecahan itu dimulai. Gema retaknya, entah kita sadari atau tidak, masih terdengar hingga hari ini.
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar