Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Puasa dan Salat Tarawih Nabi Muhammad SAW

M. Ainul Budi • Rabu, 18 Februari 2026 | 13:09 WIB

Puasa dan Salat Tarawih Nabi Muhammad SAW - Foto Ai hanya ilustrasi
Puasa dan Salat Tarawih Nabi Muhammad SAW - Foto Ai hanya ilustrasi
 

RADAR JEMBER - Flyer saya, selama puasa akan membahas kisah sahabat Rasulullah, silakan request di kolom komentar, widih sampai 300-an yang komen. Request-nya banyak kali. Saya senang. Semua request itu akan saya tunaikan.

Kalau ada terlewat, mohon maaf ya, mungkin keterbatasan sumber referensi. Sebagai permulaan, saya mulai dengan kisah puasa dan tarawihnya Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, barulah kisah sahabat beliau. Simak narasinya sambil seruput terakhir Koptagul di siang hari, wak!

Ramadan itu bukan sekadar bulan tahan lapar sambil nunggu azan Magrib seperti nunggu proyek cair. Ini bulan upgrade iman. Kalau mau lihat tutorial resminya, jangan ke panggung kampanye yang tiba-tiba religius tiap Ramadan. Lihat langsung ke teladan paling sahih sepanjang zaman, Muhammad SAW.

Puasa itu rukun Islam. Nabi bersabda, “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya” (HR. Bukhari no. 1904; juga Muslim). Artinya ini ibadah eksklusif. Allah sendiri yang urus reward-nya. Puasa itu perisai. Perisai dari neraka, dari hawa nafsu, dan harusnya juga perisai dari korupsi, karena orang yang benar-benar puasa mestinya malu makan uang rakyat saat orang lain menahan lapar.

Sahur? Nabi tegas, “Makan sahurlah, karena pada sahur itu ada berkah” (HR. Bukhari-Muslim). Sahurnya sederhana: kurma atau air. Beliau menunda sahur mendekati fajar. Jaraknya kira-kira membaca 50 ayat (HR. Bukhari). Sederhana tapi penuh makna. Bukan sahur mewah yang fotonya lebih heboh dari niatnya.

Berbuka? Jangan ditunda. “Manusia akan terus dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (HR. Bukhari-Muslim). Menu beliau, kurma segar, kalau tak ada kurma kering, kalau tak ada ya air. Doanya:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

(HR. Abu Dawud, hasan)

Sederhana. Tidak ada panggung, tidak ada backdrop sponsor. Kontras dengan buka puasa pejabat yang kadang lebih mahal dari gaji guru honorer.

Beliau melarang puasa wisal. “Aku tidak seperti kalian…” (HR. Bukhari-Muslim). Islam tidak memerintahkan menyiksa diri. Tapi anehnya, ada yang rajin tarawih tapi tetap tega menyiksa rakyat dengan kebijakan yang tak berempati. Ramadan mestinya melunakkan hati, bukan cuma mengeraskan jidat karena terlalu sering sujud tanpa bekas di akhlak.

Masuk ke tarawih. Nabi bersabda, “Barangsiapa mendirikan salat malam Ramadan karena iman dan berharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang lalu” (HR. Bukhari no. 37; Muslim no. 759). Ini momentum bersih-bersih dosa. Tapi bukan berarti setelah Ramadan bisa kotor lagi.

Baca Juga: Awal Puasa: Harga Emas Antam Merosot ke Rp2.870.000 per Gram pada Rabu 18 Februari 2026

Aisyah RA meriwayatkan Nabi tidak pernah menambah lebih dari 11 rakaat: empat panjang, empat panjang, lalu tiga witir (HR. Bukhari no. 1147; Muslim no. 738). Kadang 13 dengan dua rakaat ringan pembuka. Salat malam itu dua rakaat dua rakaat, lalu witir penutup (HR. Bukhari-Muslim). Kualitas di atas kuantitas. Bukan maraton cepat-cepat supaya bisa selfie paling depan.

Nabi sempat berjamaah beberapa malam lalu berhenti karena khawatir diwajibkan (HR. Bukhari-Muslim). Setelah beliau wafat, di masa khalifah Umar bin Khattab RA, umat dikumpulkan dalam satu imam agar lebih tertib.

Dalam riwayat sahabat yang tercatat dalam al-Muwaththa’ Imam Malik dan diperkuat al-Baihaqi, pada masa Umar RA dilaksanakan 20 rakaat tarawih ditambah 3 witir, total 23 rakaat. Ini bukan sabda Nabi, tetapi praktik sahabat yang diterima luas oleh mayoritas mazhab.

Jadi wak, mau 11 rakaat? Ada dalil sahihnya.
Mau 23 rakaat? Ada jejak sejarahnya.

Yang tidak ada dalilnya itu salat khusyuk di masjid tapi tangan tetap lihai menyusun skema manipulasi anggaran.

Ramadan bukan lomba angka. Nabi mengajarkan kedalaman. Umar mengajarkan kerapian jamaah. Dua-duanya tentang kesungguhan. Kalau puasa benar, mestinya lahir empati. Kalau tarawih benar, mestinya lahir kejujuran. Kalau Ramadan hanya mengubah jadwal makan tapi tidak mengubah karakter, mungkin yang lapar cuma perut. Hatinya belum.

Ramadan mengajarkan, inti ibadah bukan pada riuhnya simbol, tetapi pada jujurnya hati. Muhammad SAW mencontohkan puasa yang sederhana namun dalam, tarawih yang tidak banyak tapi panjang dan khusyuk. Beliau tidak memamerkan ibadah, tidak membebani umat, dan tidak menjadikan agama sebagai panggung.

Dari sini kita belajar, kualitas lebih utama dari kuantitas, makna lebih tinggi dari angka. Kalau puasa hanya menahan lapar tetapi lidah tetap tajam dan tangan tetap zalim, maka yang berkurang cuma energi, bukan dosa.

Perbedaan 11 atau 23 rakaat, doa ini atau doa itu, seharusnya tidak memecah ukhuwah. Di masa Umar bin Khattab RA, umat disatukan dalam jamaah. Bukan untuk berdebat, tetapi untuk tertib dan kuat bersama. Ramadan mestinya melahirkan empati sosial, kejujuran publik, dan kepemimpinan yang takut kepada Allah.

Jika setelah sebulan penuh kita masih mudah curang, mudah marah, dan mudah menyalahkan, mungkin yang perlu diperbaiki bukan dalil orang lain, tapi niat dan akhlak kita sendiri.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Editor : M. Ainul Budi
#puasa #Ramadan #Khalifah Umar #rakaat #salat tawarih