Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Manusia Bukan Menuju Kemajuan tapi Kehancuran

M. Ainul Budi • Senin, 16 Februari 2026 | 12:00 WIB

Manusia Bukan Menuju Kemajuan tapi Kehancuran - Foto AI hanya ilustrasi.
Manusia Bukan Menuju Kemajuan tapi Kehancuran - Foto AI hanya ilustrasi.
 

RADAR JEMBER - Tulisan ini hanya kegelisahan pikiran saya saja. Risiko punya IQ di atas rata-rata, ups. Gelisah bawaannya. Ini soal kemajuan. Kita selalu bangga dengan kata “maju.” Tak mungkin pula, mundur. Pokoknya harus maju. Maju bersama lah, maju untuk kesejaheraan rakyat. Maju untuk Indonesia. Di mana-mana maju.

Pernah kah nuan berpikir, apakah kemajuan itu memang untuk kemajuan manusia itu sendiri? Jangan-jangan kita sedang menuju kehancuran. Kebetulan malam Jumat, saya mengajak untuk merenung. Jangan malah mikir mau “belah duren” aja. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Kita terpesona pada “inovasi.” Seolah setiap yang baru pasti lebih baik. Padahal bisa jadi itu cuma cara lebih elegan untuk menghancurkan diri sendiri. Dulu manusia menemukan api. Revolusioner. Kita bisa memasak.

Tapi dari api lahir pembakaran dan perang. Lalu besi. Kita bisa bikin cangkul, tapi juga pedang, tombak, meriam. Setiap alat punya dua wajah, membangun dan merobohkan. Dan sejarah membuktikan, wajah kedua sering lebih cepat dipakai.

Mesin diciptakan untuk memudahkan kerja. Hasilnya? Alam diperas sampai megap-megap. Hutan ditebang, laut dikuras, udara dipenuhi asap.

Mobil mempercepat perjalanan, tapi juga mempercepat pemanasan bumi. Pabrik memproduksi kebutuhan, sekaligus limbah tanpa malu. Kita menyebutnya efisiensi. Bumi menyebutnya penderitaan.

Masuk era digital, kita makin jumawa. Internet menyatukan dunia dalam hitungan detik. Tapi fitnah juga lintas benua dalam detik.

Hoaks berkembang lebih subur dari padi musim hujan. Algoritma yang dirancang memudahkan hidup justru membelah manusia jadi kubu-kubu saling curiga. Kita merasa terhubung, padahal makin terasing.

Senjata? Dari busur dan panah sampai rudal hipersonik. Dari mesiu sampai nuklir. Setiap lompatan teknologi pertahanan disebut “penyeimbang kekuatan.” Bahasa jujurnya, siapa paling cepat menghancurkan, dia paling ditakuti. Dunia modern tidak kekurangan teknologi untuk damai. Dunia kekurangan kedewasaan untuk menahan diri menggunakan teknologi itu.

Kini kita menciptakan kecerdasan buatan. Mesin bisa menulis, menggambar, menganalisis. Katanya membantu manusia. Tapi muncul pertanyaan: apakah suatu hari mesin menggantikan nurani? Apakah keputusan moral diserahkan pada sistem yang hanya mengenal logika tanpa rasa? Kita bangga karena mesin bisa belajar. Tapi manusia masih mau belajar bijak?

Kalau ditarik lebih jauh, kegelisahan ini bukan cuma milik saya. Filsuf seperti Arthur Schopenhauer sudah lama mencibir. Ia menyebut manusia digerakkan “will-to-live,” dorongan buta yang tak pernah puas.

Kita maju bukan karena arif, tapi karena dorongan instingtif yang terus ingin, terus menaklukkan, terus menguasai, meski itu berarti menciptakan penderitaan baru. Friedrich Nietzsche di sisi lain berteriak, “Will to power!” Hidup adalah afirmasi, bahkan di tengah neraka. Dua filsuf ini seperti komentator pertandingan, satu bilang kita sedang bunuh diri pelan-pelan, satu lagi bilang ini gladiator kosmik yang heroik.

Agama-agama besar pun sudah lama memberi spoiler. Judaism bicara “end of days,” Messianic Age setelah masa chaos, perang, bencana, kemerosotan moral. Christianity berbicara Armageddon, second coming of Christ, kemunculan Antichrist, dengan tanda-tanda “wars and rumors of wars,” famines, pestilences, earthquakes everywhere. Islam menyebut Yawm al-Qiyamah, kemunculan mahdi melawan al-Dajjal, perang besar, kelaparan, gempa, dan kebangkitan manusia untuk pengadilan akhir.

Lihat berita hari ini. Perang Ukraina, konflik Israel-Palestina yang tak kunjung usai, AS terus ngancam Iran, persaingan senjata nuklir, kelaparan di Afrika meski produksi pangan global berlebih, pandemi COVID yang membuat dunia lumpuh, gempa dan banjir di berbagai benua. Seperti daftar periksa eskatologi yang dicentang satu per satu.

Di Timur, Hindu menyebut kita berada di Kali Yuga, zaman kegelapan penuh konflik, korupsi, degradasi moral.

Nanti Kalki datang mereset dunia setelah kehancuran besar. Buddhisme menanti Maitreya saat dharma memudar dan dunia dipenuhi penderitaan, lawlessness, deception, bencana alam. Narasinya konsisten, ketika moral runtuh dan keserakahan merajalela, kehancuran tinggal menunggu waktu.

Secara kosmologi pun, kita tak istimewa. Bintang punya usia. Matahari suatu saat padam. Planet bisa hancur. Alam semesta sendiri memiliki skenario akhir. Artinya, seberapa pun kita melompat dalam teknologi, kita tetap bergerak menuju titik tamat kosmik. Bukan keabadian, tapi kefanaan total.

Ironisnya, kita tahu semua itu. Kita tahu bumi menua. Kita tahu sumber daya menipis. Kita tahu konflik tak pernah benar-benar mati. Tapi inovasi lebih sering diarahkan pada efisiensi keuntungan, bukan keberlanjutan kehidupan. Kita lebih sibuk merilis gawai terbaru dari memastikan generasi cucu masih punya udara layak hirup.

Masalahnya mungkin bukan pada inovasi.

Teknologi itu netral. Pisau bisa memotong sayur atau melukai orang. Yang tidak netral adalah manusia. Sejarah menunjukkan, setiap kali manusia diberi alat lebih kuat, selalu ada yang ingin lebih berkuasa, lebih kaya, lebih dominan. Di situlah kemajuan berubah menjadi akselerator menuju jurang.

Kita membangun gedung makin tinggi, tapi fondasi moral makin tipis. Kita bangga pada kecepatan, tapi lupa arah. Kita menyebutnya progres. Padahal mungkin ini countdown.

Barang kali kemajuan sejati bukan pada apa yang kita ciptakan, melainkan pada apa yang sanggup kita tahan untuk tidak kita gunakan.

Jika tidak, semua inovasi hanyalah cara lebih modern untuk mengulang kesalahan lama, dengan skala lebih besar dan dampak lebih dahsyat.

Di ujung sejarah nanti, mungkin yang tertulis bukan daftar panjang penemuan manusia, melainkan satu kalimat pendek dan pahit, manusia terlalu pintar untuk dirinya sendiri.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Editor : M. Ainul Budi
#Pandemi #filsuf #covid #IQ